Kita Tak Merawak Rambang

Malam. 
Kita berkelakar. Tak ada musik, tak ada dengung tawon. Ada sepasang bantal dengan sepasang kepala tergeletak di atasnya.

“Kalau aku mati, bagaimana?”

“Kau!”

“Jika waktuku habis, bagaimana?”

“Mulutmu!”

Kau sesenggukkan. Pelan namun pasti.

Aku tak menjawab pertanyaanmu: “Mau makan apa?”

Ku melontarkan pertanyaan itu. Seperti blitzkrieg, kau mendadak sontak. Pertanyaan yang dihindari oleh banyak orang yang berakal.

Ku rasakan bening air matamu di dadaku. Kau bisu, sebisu sebisa-bisanya. Bisa-bisanya membisu. Berat napas.

“Jika ini berhenti, bagaimana?” ujar aku sembari menunjuk ke arah jantung.

Kau diam. Entah berapa ratus detik. Detik tak menilik. Detik menitik. Air mata menitik. Titik.

“Aku juga berhenti,” katamu.

“Kenapa?”

“Buat apa bergerak lagi,”

Malam menghadirkan bau ketiakmu.

Bau yang menuntunku ke ingatan peraduan: kau.

“Sini,”

Kau betulkan letak badanmu. Merapat ke ujung bahuku.

“Apa yang kau rasakan sekarang” tanyaku.

“Hangat,”

Sayangku.

Ada yang berubah: besi, tanah, kapuk.

Tidak dengan ketenanganku untukmu.

Ada yang sempit: kamar, kebaya, topi.

Tidak dengan kelegaanku untukmu.

Itu tak berubah.

Kasihku.

Kita ditimang alun asmara.

Berbedil-bedilan rindu.

Penuh simfoni.

Banyak mahakarya: gigimu, matamu.

Ketahuilah wahai termanja!

Semua tak sama jika aku berhenti menghidupi.

Cinta itu tak merawak rambang!

“Bri..,”

“Ya?”

“Jangan pergi,”

Ku kecup keningmu.

“Kelak, kita berdansa di bawah purnama serigala,”

Menteng, 1 Januari 2018

-bri

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.