Adi Briantika
Aug 28, 2017 · 1 min read

Negosiasi

Aku mandi untukmu. 
Aku berdandan untukmu. 
Aku semprot parfum untukmu.

Aku beri selusin kamboja untukmu. 
Aku kasih sebungkus kenari untukmu. 
Aku siapkan sepiring soto ayam untukmu.

Aku ketuk pintumu di selasar subuh. 
Aku bisikkan kata manja sepenggalan matahari. 
Aku kidungkan syair manis menuju malam.

Oh, kamu! 
Aku merayumu penuh tabah. 
Aku tak bersungut penuh darah. 
Aku tak marah, tak juga patah.

Ah, kamu! 
Seantero dayaku, kau lihat, kan? 
Sesering tangisku, kau dengar, kan? 
Seusai lunglaiku, kau rasakan, kan?

Kamu yang asyik. 
Jadikanku berkutik. 
Lepaskan yang mengusik.

Engkau.. Si Pemilik Cita. 
Ku letakkan dahiku di tanah. 
Memujamu bertubi-tubi.

Maukah kau tukar duniaku dengan seabrek rindu miliknya? 
Sudah ku siapkan sajadah sebagai pemulus negosiasi.

Demi Tun, aku bernegosiasi.

Menteng, 28 Agustus 2017
-bri

)

Adi Briantika

Written by

Pria. Penulis. Petarung. Plumeria. Pewarta. Tun.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade