Adi Briantika
Aug 8, 2017 · 1 min read

Semiotik, Semiotika, Tun

Coba kau cermati.

"Ketika hujan menghujam tanah dengan siluetmu yang terpantul di korneaku, itu adalah sore terbaik sebelum aku mandi."

"Degup jantungmu saat kita berciuman, adalah rengekan Srikandi yang tergesa-gesa ketika ia mencari matahari."

"Saat kau menari bertelanjang kaki -aku juga- seperti sumber air saat Yusuf hentakkan kakinya. Membasuh kelelahanku."

"Ucapan selamat pagi darimu, seperti tiga porsi roti bakar cokelat keju. Mengenyangkan, selalu tersedia, dan manis."

"Mata porselen, begitu aku menyebut sepasang mata bulat yang memandangiku ketika aku tidur. Malaikat pun tak sebegitunya."

Apa lagi, ya?

Mungkin.. Hmmm..

"Aku mencintaimu dengan cinta yang diberikan oleh Maha Cinta."

Lalu apa lagi, ya?

Semiotik dan Semiotika-nya mana?

Untuk Tun, yang pagi tadi merepet setelah kami berciuman. Selamat siang, Tun!

Medan Merdeka Timur, 8 Agustus 2017 
-bri

Adi Briantika

Written by

Pria. Penulis. Petarung. Plumeria. Pewarta. Tun.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade