Adik laki-laki

Bocah yang dulu pendiam cenderung cengeng atau kata orang “anak mamih" kini tumbuh jadi sosok yang tenang, humoris, penuh perhitungan, berani dan bijaksana. Memegang erat komitmen yang sudah dibuat. Konsisten terhadap pilihan yang sudah ditetapkan. Bertanggung jawab atas langkah yang diambil. Setidaknya semua itu cukup memenuhi poin-poin yang dibutuhkan untuk disebut dewasa.

Bocah yang dulu berada dibawah bayang-bayang kakaknya. Dia datangi semua tempat yang kakaknya pernah singgahi. Dia kejar apa yang pernah kakaknya raih. Sampai akhirnya kini, dia mampu menemukan arahnya sendiri. Bukan untuk menyamai atau melebihi sang kakak. Tapi mengejar apa yang sudah dia tetapkan. Mengejar standarnya sendiri, bukan standar sang kakak. Walaupun masih saja dia mengikuti apa yang kakaknya lakukan sekarang. Tapi dia lebih konsisten dari kakak yang diikutinya.

Kini dia menjadi sosok kuat dan pemberani. Jauh melebihi ekspektasi sang kakak. Kedewasaannya terus tumbuh. Terlebih kelurusan niat dan kebersihan langkahnya sudah melebihi sang kakak. Bahkan sekarang dialah yang bisa menenangkan kakaknya, disaat sang kakak mulai seperti anak-anak.

Menjadi lebih kuat dan tangguhlah karena tantangan didepan sana akan lebih besar. Menjadi lebih dewasa dari yang ada karena akan banyak lagi adik-adik yang mesti dibimbing. Menjadi lebih mandiri dari saat ini karena suatu saat kita akan jalan sendiri-sendiri.

Bukan bapa atau kakakmu yang akan jadi kepala keluarga. Tapi kelak dirimulah pemimpinnya. Karena kamu juga laki-laki.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.