Berkata-kata, tanpa kata (1)

Hanya bisa berkata-kata, tak lebih dari itu dan cukup itu saja. Berkata lewat lidah dan ruang dada ini, berkata lewat jari-jari ini, berkata lewat tangan dan kaki ini, juga berkata lewat jiwa ini.

Mungkin bisa lebih dari hanya sekedar kata, mungkin saja dan bisa saja. Namun jika lebih dari kata, semuannya mungkin akan lebih sulit, rumit dan sakit. Cukup dengan kata saja, setidaknya jadi sedikit tidak susah, lumrah dan ramah.

Dari kata semua bermula, dari kata karya tercipta, dari kata pula semua dapat sempurna. Seolah sederhana, namun kata adalah kuncinya. Tanpa kata, tak ada karya tercipta. Tanpa kata, bisa saja upaya tak bermakna. Tanpa kata, semua bisa sia-sia.

Ada kalanya cukup dengan berkata-kata saja. Ada pula saatnya tidak hanya sekedar berkata-kata. Tak selamanya kata harus jelas diucap, tak selamanya kata harus jelas terlihat, dan tak selamanya kata harus mudah dimengerti. Namun terkadang kata hanya cukup dipahami dan dirasakan dalam akal dan jiwa ini.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.