Bukan Pamit

Terlalu sulit untuk pamit. Sederhana namun terasa cukup sakit. Walau mungkin tak perlu pamit, cukup dengan melangkah pergi dan keluar begitu saja sebenarnya. Karena tak pernah meminta ijin sebelumnya untuk masuk, bahkan sekedar bertamu sekalipun.

Mungkin bisa senang, mungkin tak suka atau bahkan biasa saja seperti tak ada. Mungkin, karena sekali lagi tak ada deklarasi, konfrensi atau klarifikasi.

Pernah coba pergi sebelumnya. Mencoba lupa namun tak bisa. Semua kata masih rapi tertata yang tak bisa lepas dari pandangan mata. Namun tetap berusaha tak kembali. Sedikit demi sedikit walaupun memang sulit.

Katanya, tak banyak janji namun sering memberi. Tak berharap kembali, karena cukup memberi. Itulah tulus, tanpa akal bulus. Serasa bodoh saja. Salah tempatnya, salah momentumnya, yang jelas itu bukan porsinya, apalagi haknya.

Semua itu bertemu pada akhirnya. Setidaknya cukup dalam rasa, tidak ada lagi kata apalagi saling cerita. Bahagia namun tetap sulit lupa, tapi setidaknya bahagia. Semoga hanya disini saja sakitnya. Karena sikapnya menunjukan sudah lupa. Tak apa, karena cukup memberi saja tak berharap apa-apa. Itu saja yang jadi senjata utama.

Namun, entah kenapa tiba-tiba semua kembali saja seperti sebelumnya. Seperti ini tak akan ada habisnya.

Sampai pada akhirnya, pergi begitu saja bukan solusinya. Pamit bukan jadi langkah kongkrit. Ruang ini terlalu sempit. Tak perlu pamit, hanya perlu mempertajam komit. Komit untuk hanya memberi saja tanpa mengharap apa-apa. Sesuai dengan seharusnya, sesuai porsinya dan sesuai kata saja.

Sepertinya itu saja. Semoga..

Like what you read? Give semut api (adhienka satya gumilang) a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.