Kubuka dengan “A” dan kututup dengan “I”

Bukan pertama ku kenal mereka. Bukan baru saja, sudah cukup lama. Lebih dari 20 tahun sepertinya. Juga bukan aku saja yang kenal mereka. Mungkin saat ini semua orang kenal mereka dan mereka selalu ada bersama kita dimanapun kita semua berada. Atau tepatnya mungkin hampir selalu bersama, atau bukan bersama tapi dekat mereka. Cenderung hampir tak bisa lepas dari mereka.

Entah sejak kapan mereka ada. Entah pula seperti apa mereka awalnya. Apakah sudah seperti saat ini atau memiliki bentuk yang lain sendiri. Tapi sepertinya, mereka lebih dulu terdengar dibanding terlihat. Hanya menerka, tak tau pasti karena mereka sudah lebih dulu disini.

Yang ku ingat, sudah ku tau bentuknya sejak awal ku mengenal mereka. Mereka berderet berbaris dengan rapi. Berdiri berdekatan menjadi sebuah arti sesuai keinginan kelompoknya sendiri.

Mereka bernama depan “huruf”, sebagian besar dari kita mengenal nama belakang mereka sebagai “alphabet”. “huruf alphabet” itulah nama keluarga besar mereka. Semua berjumlah 26 anggota keluarga, 5 diantaranya menopang semua. Namanya A I U E O, begitulah biasa kita mengurutkannya.

Entah kenapa dari kelima yang ada, A yang paling kusuka. Selain dia kusuka juga dengan I. Dengan adanya mereka ku bisa rangkai kata menjadi sebuah cerita. Diisi oleh dominasi A dan I, cerita bukan hanya sekedar rangkaian huruf dan kata namun menjadi pesan bahagia. Setidaknya bahagia yang sering hadir mendatangi.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.