
Ranting-ranting
Sebuah desa terpencil di balik hutan lebat nan asri. Tak banyak rumah dan penghuni disana. Ditengah malam sepi sunyi, terdengar sayup-sayup dari kejauhan seorang wanita sedang mengerang kesakitan. Semakin dekat, semakin terdengar suaranya. Ternyata seorang seorang wanita ini sedang berjuang memenuhi kodratnya sebagai seorang wanita. Berjuang sekuat tenaga melahirkan titipan dari dia sang maha pencipta.
Setelah berjuang hampir satu jam, terdengar suara tangisan 2 orang bayi. Dia melahirkan dua anak laki-laki diwaktu yang hampir bersamaan. Setelah menegok anak keduanya lahir. Dengan senyum diujung bibirnya, dia selesaikan tugasnya. Ya, dia dipanggil pulang oleh dia sang maha pemilik jiwa.
Sedih karena ditinggalkan oleh sang kekasih yang selama ini menemani. Senang karena dikaruniai dua buah hati, sekaligus senang karena sang istri mengakhiri waktunya dalam keadaan telah menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya. Mungkin itu yang dirasakan oleh sang suami yang kini telah menjadi ayah sekaligus melanjutkan tugas sang istri menjadi sosok pendidik bagi kedua buah hati.
Kini kedua buah hati telah beranjak dewasa. Sudah cukup usia untuk berjalan sendiri ditengah hutan disamping desa tempat mereka tinggal. Suatu hari sang ayah mengajak mereka berdua ke hutan. Tepatnya di muka hutan.
Sang ayah memberikan tugas pada keduanya, “nak, sekarang kalian coba masuk ke dalam hutan dan bawa 2 batang ranting untuk ayah kemudian temui ayah di ujung luar hutan”.
Tanpa banyak bertanya, keduanya masuk ke dalam hutan. Mereka masuk dengan jalur mereka masing-masing.
Anak pertama, belum begitu jauh dia berjalan dia menemukan sebuah ranting. Kemudian dia ambil, namun seketika ditinggalkan. Karena dalam pikirnya terlintas, “di dalam sana pasti ada ranting yang lebih bagus”. Sampai ditengah hutan, benar saja dia temukan banyak ranting yang lebih indah dari sebelumnya. Namun tak ada satu pun yang dia ambil, karena kembali dia berpikir bahwa dia yakin didepan sana akan ada lagi ranting yang lebih indah. Sampai pada akhirnya, tanpa sadar dia sudah keluar dari hutan tanpa membawa apa-apa.
Kemudian keduanya menemui sang ayah. Sebelum sang ayah bertanya, anak pertama lebih dahulu memberikan alasan kenapa dia tak membawa ranting yang ayahnya pesan.
Anak pertama berkata,”maaf ayah, sebenernya aku bisa membawakan ranting untuk ayah. Namun aku terlampau ingin mendapat yang paling baik dan indah, sampai akhirnya aku keluar hutan dan tak dapat apa-apa”.
Sang ayah hanya tersenyum. Kemudian sang ayah bertanya anak kedua,”kamu berhasil nak membawa dua batang ranting?”
Anak kedua menjawab,”iya ayah, aku bawakan apa yang ayah pesankan padaku”.
Sang ayah tersenyum dan berterima kasih pada keduanya. Kemudian dia bertanya kembali,”di dalam sana pasti banyak ranting yang lain, kenapa kau ambil dua ranting ini nak?”
Anak kedua menjawab,”Saat baru masuk hutan tadi aku langsung menemukan ranting, namun tak langsung ku ambil karena kurasa kurang baik dan indah. Setelah beberapa jarak ku tempuh, ku temukan 2 ranting yang ku suka. Ranting ini indah dan baik menurutku”.
Kemudian dia melanjutkan ceritanya,”Semakin ku masuk kedalam hutan, banyak lagi ranting-ranting yang lebih indah. Ketika ku lihat ranting-ranting itu, bukan hanya sekedar suka namun aku menjadi sayang kepada ranting yang ada dalam genggamanku”.
Sang ayah kembali tersenyum dan mengajak kedua anaknya masuk kembali kedalam hutan bersamanya.