Sekarang, Fiksi dan Ilusi

Hanya fiksi dan ilusi, karena tidak terasa seperti bakunya realita dan fakta. Mungkin juga bukan fiksi apalagi ilusi jika suatu saat nanti menjadi nyata.

Seperti berdiri diatas jembatan yang hanya selebar rambut dibelah tujuh.

Entah harus bahagia atau terluka. Entah akan meratap atau melangkah mantap. Senang jika jadi kenyataan, namun mungkin bisa gamang jika menjadi nyata. Tertawa bahagia mungkin, atau malah tertunduk lesu. Tertunduk malu namun bahagia, atau juga tertawa menutup lara dalam dada.

Sekarang, masih hanya sebuah fiksi dan ilusi. Sebuah gambar yang lahir dari rangkaian kejadian dan rentetan pemikiran. Tak tau akan seperti apa jadinya. Mungkin ceritanya masih akan berbeda, bisa juga tetap sama. Kini fiksi dan ilusi terikat pada pikir, kata dan langkah ini. Tak ada yang tahu seperti apa akhir ceritanya.

Dengan bergantung padanya akhir ceritanya akan bahagia. Dengan berlepas darinya akhir semuanya entah jadi apa. Semua bergantung padanya dan raga yang dipunya. Bukan raga saja tapi membawa serta jiwa untuk menentukannya.

Sekarang hanya bisa memantapkan doa dan mengoptimalkan upaya. Hanya itu saja tanpa ada tambahan kata dalam bingkainya. Karena semakin banyak terucap kata, akan lebih sulit upaya raga.

Sekarang, tinggal beriringnya logika dan kata dalam bingkai pengharapan dan kepasrahan.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.