Aku, Nelayan, dan Harapan.

Aku seperti sebuah botol kaca. Botol yang terombang ambing di tengah lautan. Botol tersesat yang berisikan harapan yang terlipat menjadi sebuah gulungan. Harapan yang di jaga agar tidak satupun air laut yang mampu menghancurkan harapannya. Karena botol itu di tutup oleh sebuah penutup yang melindungi harapan tersebut. Penutup itu adalah hati. Di terpa air asin berulang-ulang kali. Di terpa rasa sakit berkali-kali. Namun hati itu selalu mampu melindungi harapan yang tersimpan di dalamnya. Sampai kelak, hanya takdir yang mampu membukakan hati itu. Dan menjadikan harapannya menjadi kenyataan.

Kau seperti seorang nelayan. Nelayan yang berjuang melawan terjangan ombak untuk mencari harapan. Setiap hari kau berkunjung ke laut nan jauh, menyelami lautan dengan jaring-jaring mu. Mencari ekor demi ekor keasingan hanya untuk sesuap masa depan. Kau tak pernah gentar. Sekalipun cuaca marah-marah padamu. Ia mendatang kan langit yang kusam. Rintikan hujan yang perlahan mematikan senyum. Namun, Kau memiliki tekat seorang pelaut. Yang mengerti bahwa tak ada pelaut yang handal yang tercipta di lautan yang tenang. Tak ada pecinta yang kuat yang tak pernah merasakan patah hati.

Mereka itu seperti kapal, jangkar, cuaca dan angin. Perantara antara engkau yang sedang melaut dan aku yang di arahkan ke tempat antah berantah. Kapal terbuat dari kayu. Tempat engkau berlindung dari ganasnya samudra lepas, dan dari kedinginan hati yang bisa membuat beku. Dan jangkar nya masih saja kuat, hampir lapuk di makan karat. Namun masih saja mampu menahan engkau dari ego yang tak masuk akal. Angin juga berhembus sesuai dengan suasana hatinya sendiri. Entah seperti buaian maupun terjangan badai. Kadang kala pun ia mencari-cari masalah kepada mu. Membuatmu kesusahan di tengah samudra itu. Cuaca pun silih berganti. Panas terik datang dan pergi. Begitu pula awan yang ia taburi, di bawah langit negeri ini. Asam pahitnya kehidupan. Mereka yang menjadi bagian dari perjalanan kita, kehidupan kita. Menjadi bagian dari kisah kita.

Pertemuan kita adalah takdir. Akumulasi antara jutaan kemungkinan dari luas laut, waktu, cuaca dan berbagai macam mereka kala itu. Bisa saja kau berlayar ke arah yang salah. Atau mungkin kapal mu butuh perbaikan dan menjadikan mu batal untuk melaut. Dan jika saja kau terlambat beberapa saat, mungkin saja kau tak temui aku yang terombang-ambing di laut itu. Ketidaksengajaan yang berhasil menciptakan pertemuan dua insan. Bertemu dengan harapan baru yang masih rapi dalam bingkaian botol kaca. Mereka pun berperan dalam pertemuan ini. Kapal kayu yang tahan akan terjangan ombak dan badai. Dan jangkar yang menahan mu dari segala tindakan bodoh untuk menjauhi pertemuan kita. Cuaca pun, mungkin menjadi penyebab jatuhnya aku ke dalam pertemuan dengan mu, Nelayan yang beruntung. Atau memang kita yang beruntung. Mungkin saja namamu lah yang sebenarnya sudah di sandingkan dengan namaku, jauh sebelum engkau berlayar. Bagiku, tidak ada yang namanya kebetulan. Aku yakin pertemuan kita adalah susunan rencana yang di tata rapi, antara aku, kau dan mereka. Rencana yang begitu rapi tanpa terjangkau pikiran dan imajinasi kita.