Definisi Cinta

Di salah satu kafe sudut kota, sepasang manusia duduk di dekat jendela. Di luar sedang hujan. Cukup gelap untuk langit sore yang masih cukup jauh dengan malam. "Jadi menurut mu apa itu cinta?" ucap perempuan berkerudung biru muda.

Ia lanjut melukis simbol hati pada kaca yang berembun di samping mereka, sembari meminum ice lemon tea yang ia pesan sebelum menerima jawaban dari pria di hadapannya. Ia memang suka ice lemon tea. Walaupun keadaan sedang mengharuskan meminum minuman yang hangat. Tapi baginya cuaca sejuk ataupun panas, tidak ada masalah, ia akan tetap pesan ice lemon tea. Kesukaannya akan sesuatu mampu menentang waktu dan keadaan.

"itu sulit untuk di jabarkan" jawab pria di hadapan nya dengan nada yang malas untuk berbicara serius.

Ia memegang cangkir yang berisi cappuccino panas dengan kedua tanganya. Merasakan hangat yang ada di cangkirnya. Tidak ada simbol hati yang tergambar di minumannya seperti yang biasa. Hanya garis-garis yang menyerupai angsa.

Perempuan dihadapannya tersenyum tipis mendengar jawaban itu. Mereka hanyalah bagian dari rencana takdir. Bertemu di salah satu kafe yang mengharuskan duduk berdua karena tempat duduk yang lainnya sudah penuh. Penuh karena pengunjung yang memang ingin datang ke kafe ini dan pengunjung dadakan yang mengharuskan duduk di kafe ini karena hujan lebat di luar sana.

"Kau menulis novel tentang cinta, tapi kenapa masih bingung dengan definisi cinta?" tanya perempuan itu dengan heran. Perempuan itu hanyalah salah satu pembaca yang beruntung bertemu dengan penulis novel yang ia baca. Dan mereka di pertemukan oleh takdir sore ini. Seperti takdir merencanakan sesuatu.

Pria di hadapannya pun ikut tersenyum tipis. Ia menunduk sebentar lalu mengangkat kepalanya dan menoleh ke kanan. Pria itu menatap seorang ibu-ibu — tak jauh dari mereka duduk — menggendong anak nya yang sedang tertidur. Kira-kira anak nya berumur dua tahun. Kepalanya terbaring pulas di bahu ibunya. Ibu itu mengusap punggung anaknya dan mengelap kepala anaknya yang sedikit terkena air hujan saat mencari tempat berteduh. Ia sedikit mengayunkan anaknya agar tidak terbangun dari tidur lelapnya. Dan di kafe ini adalah tempat mereka mendapatkan perlindungan dari hujan lebat yang datang tiba tiba. Berdiri di antara beberapa orang-orang yang berteduh dan tidak kebagian tempat duduk.

Perempuan di hadapan pria itu memalingkan wajahnya ke arah pria itu melihat. Ia penasaran akan wajah pria itu yang terpaku memperhatikan sesuatu. Lalu ia turut memperhatikan ke arah ibu ibu dengan seorang anak yang di perhatikan pria itu.

"Kata-kata tentang cinta hanyalah omong-kosong, sebaik-baik penjelasannya adalah tindakan." ucapnya tiba-tiba sambil tersenyum kepada perempuan di hadapannya. Perempuan itu pun tersenyum mendapati pertanyaannya terjawab dan jawaban itu resmi memecah keheningan nya saat ia pun larut dalam memperhatikan cinta.

Like what you read? Give Adi Hidayat a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.