Kepekaan Hati

Akan selalu ada yang tersisa, dari setiap pengandaian yang tak bertemu dengan impiannya. Berupa serpihan keinginan, yang tertinggal dari keikhlasan saat merapikan hati. Membuatnya sesak. Terkatung -katung di dalam ketidakberdayaan.

Tiada yang salah dari hati yang menginginkan banyak. Juga tak apa jika hati menginginkan sesuatu yang di luar akal sehat. Bagaimanapun juga, keinginan hati selalu tak ingin bertemu dengan yang namanya merelakan. Berat mungkin katanya. Tapi setiap harapan akan selalu bertemu dengan dua kemungkinan. Bertemunya dengan pengabulan atau merelakan.

Jarak antar keinginan hati dan impiannya seperti garis lurus yang di julurkan oleh sebuah tali, dari satu titik ketitik lainnya. Namun, ada sebuah hambatan yang membentang di antaranya.

Kini, kau berada di ambang antara kedua kemungkinan tersebut. Di atas tali itu kau bergelantungan. Goyah. Hambatannya adalah perasaan ragu yang menguasai hati dari serpihan keinginan yang tersisa. Hati yang tak ingin merelakan dan fakta yang berkata bahwa itu tidak memungkinkan. Kebimbangan olehnya terpaksa menjadi abadi lantaran hati tak kunjung sepi dari kehendak memiliki. Ia hati selalu berbisik untuk tetap bermimpi namun fakta selalu memberikan kemungkinan-kemungkinan yang tidak memungkinkan.

Mungkin kepekaan memang di butuhkan saat menghadapi hati yang bergejolak. Memahami bahwa semakin sulit nya menjangkau keinginan itu adalah pertanda bahwa Tuhan sedang menguji kekuatanmu — (atau) juga keridhoanmu atas segala pilihan yang Dia berikan. Hukum kepantasan berlaku mutlak. Tolak ukur Nya selalu menjadi rahasia yang tak mampu di logikakan pikiran.

Andai saja mutiara bertebaran di permukaan lautan, mudah mendapatinya, mungkin ia tak akan menjadi perhiasan yang mahal nan lagi di cari. Emas pun juga demikian, andai menemukan nya semudah menemukan sampah, tak lagi mungkin bernilai lebih di mata manusia. Kau kini mengejar sesuatu (seseorang) yang sangat berharga. Tegapkan langkah, abaikan pengandaian yang menjalar dalam pikiran. Ketika perasaan ragu melanda. Ingatlah selalu tentang rumus keadilan oleh Yang Maha Adil.

What’s meant to be, will always find its way.

Like what you read? Give Adi Hidayat a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.