Foto milik jempol kanan yang menekan tombol capture

Menyelam Tenggelam

Aku yang menyelam dan tenggelam oleh pekatnya malam bertemankan kesendirian.

Kesendirian yang sebenarnya tidak sendirian. Keramaian ada di sekitarnya. Kali ini, aku menyelam. Malam yang tenang serupa lautan tak berombak. Ia santai saja saat aku mengarungi tubuhnya. Tak keberatan saat aku menjamah kecantikannya. Angin tak melambai-lambai seperti di pantai. Angin terlalu pendiam untuk malam seperti ini.

Aku duduk di bagian teras cafe. Beberapa penghuni malam cafe ini, sibuk bercengkrama. Di iringi lagu — entah judulnya apa — barat, sedikit mampu menggantikan peran angin yang entah ada apa dengannya. Kopi di hadapanku pun tersenyum, ia seperti sedang mengatakan; nikmatilah, menyelamlah jauh ke lubuk malam, akan ada rasa yang kau temukan. Kopi yang puitis, entah tau apa dia tentang malam.

Aku menatap ke arah jam dua belas dari tempat aku menyelam. Ada tiga pemuda — sepertinya masih dua puluh tahunan awal — yang sedang membicarakan sebuah film tentang cinta yang baru saja mulai di putar di negeri ini. Kisah tentang dua insan yang dipertemukan kembali oleh takdir setelah bertahun-tahun berpisah. Sang lelaki yang menjauh tanpa memberikan penjelasan. Meninggalkan Cinta yang luka tanpa harapan.

Salah satu dari tiga pemuda di hadapanku semangat mengatakan ingin menonton film itu dengan kekasihnya. Teman di hadapannya pun turut berpikir dan bingung akan mengajak siapa. Yang satunya lagi sibuk bercengkrama dengan — handphone — kekasihnya. Anak muda memang tak lepas dari cinta, bahkan sebenarnya cinta tak kenal usia.

Aku mulai menyeruput beberapa teguk kopi di hadapanku yang mulai kedinginan oleh udara malam. Pahitnya sedikit terobati oleh susu kental manis yang di campurkan di dalamnya. Pahitnya kopi mungkin memang harus di akali dengan sedikit kemanisan. Semua rasa yang tercipta berhak untuk di nikmati. Tak terkecuali rasa sakit.

Aku pun mulai menyelam lebih dalam lagi. Menyisiri sisi demi sisi malam yang mencurigakan. Sedikit teguk manis pahit nya kopi, mampu memberi sedikit tenaga — paling tidak untuk otot mata.

Beberapa bapak-bapak arah pukul dua, sedikit menarik perhatianku. Mereka ada ber — satu dua tiga empat — enam, sedang duduk sambil membicarakan sesuatu. Tak lupa batang-batang rokok menemani setiap mereka di sela-sela jari. Mereka seperti sedang membicarakan hal yang serius, keseriusan tampak dari raut muka mereka yang sedikit kaku. Aku membayangkan mereka adalah kumpulan jenderal suatu negeri yang sedang merancang strategi untuk melawan musuhnya. Satu dari mereka menunjuk peta yang terbentang di meja persegi panjang yang mereka kelilingi. Dengan suara yang lantang, strategi di rancang. Jenderal-jenderal yang lain pun serius mendengarkan ahli strategi mereka yang di sampaikan oleh salah satu dari mereka. Dilihat dari keseriusan penjelasannya, ahli strategi itu sepertinya menganjurkan untuk menggunakan serangan udara. Menyerang musuh dari udara lalu menyerbu dari daratan dengan pasukan terbaik mereka. Penjelasan ahli strategi itu di akhiri dengan senyum tipis percaya dirinya.

Aku pun sedikit mendongak melihat tulisan yang di lingkari di peta itu, musuh yang menjadi target sasaran strategi yang sedang mereka rancang. Rasa penasaran tak kunjung bisa mengerti, kehendaknya wajib di turuti. Negeri para jomblo, tertulis dengan spidol yang di lingkari di sekelilingnya. Sialan, sepertinya malam mulai membuatku gila, ucapku dalam hati sambil mengusap muka dengan telapak tangan kanan. Sadar-sadar.

Malam sedikit iba dengan perempuan yang duduk dua langkah di balik bapak-bapak jendral itu. Hawa kesepian mampu sedikit bisa kurasakan dari kejauhan, entah iya entah tidak. Aku menyelam mendekatkan perhatianku kepada perempuan itu. Menyelam jauh lebih dalam. Mungkin ini yang menarik dari menyelami malam kali ini. Memfokuskan lensa mataku ke arahnya, sambil sesekali melemparkan tatapan ke arah mana saja agar terkesan aku tidak sedang memperhatikannya. Ia duduk seorang diri bertemankan laptop yang terpampang di hadapannya. Aku tak dapat melihat apa yang ia kerjakan. Hanya merek yang terpampang di punggung layar laptop nya — (K)Asus.

Perempuan itu terkesan menarik (menurutku), di tambah kaca mata yang ia kenakan mampu membuatku mengabaikan pemuda-pemuda arah jam dua belas dan bapak-bapak jendral yang sibuk merancang strategi untuk menghabisi negeri para jomblo. Aku tak begitu yakin apakah ia benar kesepian, atau barangkali ia hanya sedang menikmati kesendirian.

Kesendirian dan kesepian seringkali di sangkut pautkan oleh kita manusia. Padahal kata itu bukan satu paket. Kesendirian bisa jadi hanya raganya, mungkin ia ditemani keramaian dalam hati nya, rasa misalnya. Dan kesepian tak selalu sendirian. Ada saja dari kita manusia yang merasa kesepian walau di tempat keramaian sekalipun.

Belum puas rasanya menyelami malam, tiba-tiba handphone ku yang diletakkan di samping cangkir kopi itu bergetar. Ada pesan masuk yang tertera di layarnya. Akupun membaca isi pesannya. Berisikan ibuku yang mengingatkan untuk pulang karena sudah larut malam. Aku pun memperhatikan jam yang tertera pada sudut kanan atas layar handphone itu. Pukul 21 lewat seperempat. Sudah cukup larut bagi seseorang yang sudah keluar sejak matahari muncul dipermukaan. Tidak terasa, apa aku yang terlalu lama menyelam, ataukah malam yang diam-diam menenggelamkanku ke dalam raga nya. Mungkin saja kesendirian, kopi, dan malam adalah kombinasi yang mampu menenggelamkan diam-diam.

29 April 2016, di pulau yang bertetangga dengan Negeri Seribu Satu Larangan.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Adi Hidayat’s story.