Sampai semesta merestui

Mulut ini bisu, kebingungan mencari kata untuk pelampiasan rindu.

Mata ini buta, tak mampu melihat diri kita dalam asa.

Telinga ini tuli, di temani sunyi saat sendiri.

Jemari ku hanya meraba yang tak pasti.

Seperti berjalan di tengah kabut pekat
dan bayangmu memanggil
dari sisi lainya.

Aku bukan berhenti, 
atau lupa dengan diri sendiri.

Kita adalah sebagian dari diri kita
walau masih belum nyata.

Percayalah, kekasih.

Kita harus menyudahi bayang-bayang.

Sampai semesta merestui,

dan aksara kita mempunyai suaranya sendiri.

Batam, 15 Oktober 2016

©Adi Hidayat

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Adi Hidayat’s story.