Tuan rumah, si penerima tamu.
Hati kita itu seperti rumah. Sedangkan kita adalah tuan rumahnya.
Sebagai tuan rumah, kita bebas untuk menerima siapa saja yang ingin datang bertamu, atau pun sebaliknya. Kita punya hak dan kendali atas itu.
Tapi meskipun begitu, macam-macam yang bisa kita alami sebagai tuan rumah. kadang kita bisa repot dengan seseorang yang udah punya rumah sendiri tapi masih juga suka datang ke tempat kita. Pengen ngusir, tapi ya gimana, udah terlanjur disambut susah keluarinnya. Padahal dia ada yang nungguin di rumahnya. Akhirnya kita gak bisa fokus menyambut tamu lain yang hendak datang karena sibuk fokus ngeladenin tamu yang sekarang yang gak pulang-pulang.
Ada juga tuh yang sebentar-sebentar datang bertamu. Ketuk-ketuk pintu rumah kita terus. Padahal kita udah tutup rapat-rapat untuk dia. Kita udah gak pengen nerima dia lagi. Malah gara-gara kita tutup pintunya terus, yang lain jadi enggan untuk datang bertamu. Akhirnya? Sama. Yang lain jadi gak bisa masuk. Karena tamu yang gak diinginkan itu masih berdiri di depan pintu.
Selain itu ada juga tamu yang kita harapkan kehadirannya tapi gak datang-datang. Padahal kita udah buka pintunya lebar-lebar tapi yang ditunggu-tunggu gak kunjung bertamu juga. Mau manggil gak berani, kita udah ngintip dari jendela masih juga gak datang-datang. Ya akhirnya kita cuman bisa nungguin.
Ya yang namanya hati gak bisa ketebak siapa yang akan dijatuhi pilihan olehnya. Ibaratnya rumah, kita gak tahu siapa yang punya keinginan untuk datang apalagi mau menetap di rumah kita. Kita cuman bisa memilih tamu mana yang harus kita terima kehadirannya mana yang tidak ketika tamu itu datang. Meski pun kadang urusan menyambut siapa yang akan datang ini bisa menjadi pelik dan merepotkan tapi sebagai tuan rumah kita hanya bisa mempersiapkan diri menjadi tuan rumah yang baik. Terlepas dari itu, biarlah takdir yang mengetuk keberanian sesiapa saja yang hendak datang.
Ngomog-ngomong itu yang ngintip-ngintip di depan pintu, mau masuk apa gimana?
