Yang Saya Suka dari “Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita (Sehimpun Puisi M. Aan Mansyur- 2012)”

“Beli buku apa ya?” tanya seorang teman, lalu menunjuk salah satu buku yang berjejer di rak, “udah pernah baca ini belum? bagus gak?”
“Kayaknya pernah deh, tapi gue lupa nih. Udah lama banget soalnya”

Saya sering menghadapi moment seperti ini, dimana seorang teman bertanya “Buku apa yang sebaiknya saya beli?” lalu mulai muncul dalam benak berjejer list buku yang pernah saya baca, tapi lebih sering saya hanya ingat inti ceritanya saja — khususnya untuk buku-buku yang saya baca dalam rentang waktu lebih dari setahun, bahkan nama dan bagaimana endingnya saya lupa. Bagi saya pribadi mengingat kembali isi buku yang pernah saya baca adalah suatu hal yang cukup sulit. Terlebih karena saya lebih sering membaca buku secara cepat.

Beberapa orang memiliki kebiasaan tertentu untuk ‘mencoba mengingat’ bagian terpenting atau bagian yang ia suka dalam buku yang pernah ia baca, salah satunya dengan menandainya; dapat berupa highlight atau notes.

Suatu ketika saya pernah membaca tulisan Bernard Batubara (dalam ask.fm-nya) mengenai bagaimana cara agar buku yang kita baca tetap tinggal dan tak lekas lupa. Begini katanya:

Cara supaya buku yang dibaca tetap tinggal di kepala dan nggak lekas lupa:

- bawa bloknot + pulpen
- catat bagian-bagian penting dari buku yang kamu baca (dialog yang menurut kamu bagus, quotes, adegan, istilah yang kamu nggak paham, dll.)
- selesai baca, tulis review singkat untuk buku itu
- diskusikan buku yang kamu baca dengan teman/pacar kamu (semoga punya teman/pacar yang juga suka baca, jadi enak diskusinya)
- bahas di twitter, path, facebook, atau instagram kamu tentang apa yang lagi kamu baca.

Mungkin kamu bisa mencoba cara itu untuk mengigatnya. Dan saya pun juga sedang mencoba hal itu; membiasakan diri dengan bloknot dan pulpen ketika membaca, juga menandai bagian-bagian yang penting. Tapi mendiskusikan buku dengan seseorang? sayangnya saya belum menemukan seseorang yang bisa diajak berdiskusi tentang buku. Selain itu saya belum pernah menulis review sebuah buku. Hm, rasanya saya pun masih kekurangan referensi untuk dibaca.

Hari ini saya berfikir sesuatu setelah membaca sebuah buku, “Bagaimana kalau saya coba untuk menulis sebuah review buku?” terdengar menyenangkan untuk mengisi kekosongan sebagai seorang jobless. Untuk intermezzo yang panjang ini akhirnya saya memutuskan untuk menulis review salah satu buku yang baru saja saya baca: Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita (2012).

source: me

Buku ini diterbitkan oleh Motion Publishing pada tahun 2012, berisi 114 halaman dengan lebih dari lima puluh puisi yang dibagi menajdi enam bab. Saya pernah membacanya dulu, awal tahun 2014, tapi seperti biasanya hanya mampir sebentar di pikiran atau bahasa lainnya ‘hanya sekelibat’ hehehe. Akhirnya, beberapa hari yang lalu saya memutuskan untuk membacanya lagi dan menulis review — pertama saya — untuk buku ini.

Jujur saja membaca bab pertama dengan judul “Puisi-Puisi yang Lahir dari Foto Jamie Baldridge membuat saya bingung pada awalnya (mungkin kalau disertakan foto-foto Jamie Baldrige yang dimaksud bisa lebih mendiskripsikan puisi-puisinya), tapi bagaimanapun, Aan Mansyur selalu bisa membawa dirimu masuk kedalam tulisannya.

Dari sekumpulan puisi itu, ada beberapa yang menjadi favorit saya, diantaranya; Lingkaran Cuaca, Waktu yang Memeluk, Rencana Mengedit Satu Puisi, Hujan dan Payung Hadiah Ulang Tahun, Sepasang Baju Penghangat, Puisi yang Pohon, Selembar Gambar yang Dirobek jadi Dua, Empat Kemungkinan Tempat Suami Ibuku Berada dan Mencatat Ibu Buat Ayah.

Bahkan saya sempat menangis ketika membaca Puisi yang Pohon — beberapa kalimat mengingatkan saya pada seseorang, lengkap dengan harapan yang pernah berusaha saya gapai.

Ketika kata-kata — mata-mataku — terpejam, kau menampakan diri sebagai yang seolah mampu aku raih. Kata-kata menulis dalam tidur mereka. Tapi ketika terbeliak, kau adalah mimpi.
Kau terang-terangan terlihat sebagai usaha menutup diri. Aku menatap wajahmu yang ternyata punggungmu.
Aku belajar — darimu — menggunakan ketidakberdayaan aku sebagai kekuatan. Aku memulai segala sesuatu dari akhir. Aku memulaimu dari lambaian selamat tinggal. Aku menikmati semua lelucon jantung kesedihannya.
Aku merasa aman memulai doa dari amin.
(Page 98)

Selain itu, yang saya suka adalah tulisan Aan tentang Ayah dan Ibunya. Pengalaman pahitnya di tinggal oleh Ayahnya dan bagaimana kesetiaan sang Ibu menunggu Ayahnya pulang seringkali dituangkan Aan lewat karyanya (kamu juga bisa menemukan dalam beberapa cerita di Kukila, juga di medium Aan sendiri dengan judul Aku membenci Ayahku — dan Mencintainya atau mungkin di tempat/media lainnya yang saya belum tahu). Cerita itu sukses mengikutsertakan kesedihan — dan berbagai perasaan lain ketika membacanya.

SEPASANG BAJU PENGHANGAT

di lemariku ada satu baju penghangat
yang bagian dalamnya rindu memeluk
tubuhku dan bagian luarnya rindu dipeluk
tubuhmu.
di lemarimu juga ada satu baju penghangat 
yang sendiri memeluk perasaan yang sama.
tetapi tubuh kita sedang entah dimana 
memeluk eksendiriannya masing-masing.
alangkah tabah sepasang baju penghangat
kedinginan di dalam dua lemari yang tinggal 
berjauhan tanpa saling tahu alamat.
alangkah irinya sepasang baju penghangat 
mendengar kabar musim hujan sangat
mencintai tahun yang berjalan lambat.
sementara tubuh kita sedang entah di mana
memeluk kesepiannya masing-masing.
alangkah ingin sepasang baju penghangat 
berhenti memeluk kenangan milik mereka
sendiri-sendiri.
(Page 95).

Oh iya, Sepasang Baju Penghangat ini adalah puisi yang paling saya suka di buku ini, dan saya yakin kalian juga akan suka ketika membacanya. Semoga Aan tidak keberatan jika saya membaginya kepada kalian.

Terakhir,hm mungkin tidak banyak orang yang suka membaca buku berisi kumpulan puisi seperti ini, tapi Buku Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita (2012) bisa jadi teman untuk menikmati hujan, dengan secangkir kopi atau teh hangat. Jangan kaget kalau nanti kamu tiba-tiba menangis atau tertawa membacanya.

Like what you read? Give Adila Sabiliilaika a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.