No News ≠ Good News

Salah satu kebiasaan buruk di Indonesia. Hilangkan kebiasaan berasumsi!

Hampir semua orang Indonesia pernah mengalami atau melakukan ini. Baik dari tingkat anak-anak sekolah sampai tingkat pekerja. Contohnya :

  • Keluar bareng teman sepulang sekolah, tidak memberi tahu orang tua lalu berasumsi “ah paling Ibu sudah tahu aku jalan-jalan bareng teman”. Alhasil, orang tua khawatir, mencari anaknya, menelepon sekolah, menelepon orang tua teman bahkan sampai mendatangi rumah teman.
  • Berangkat ke sebuah kota A, lalu setelah sampai di tempat kita tidak memberi kabar ke rumah. Kita tinggal mandi, lalu telepon berdering berkali-kali. Ternyata telepon dari rumah yang khawatir keberadaan kita. Dengan tidak diangkatnya telepon itu, mereka jadi semakin khawatir.
  • Teman kerja meminta bantuan untuk mengerjakan tugas X. Tugas itu selesai kita kerjakan, kita serahkan ke teman kita, selanjutnya tidak ada kabar dari teman tersebut. Kita jadi khawatir dan menebak-nebak, revisinya benar atau tidak?

Bayangkan perbedaannya jika kita bisa memberi kabar “Bu, aku nanti jalan-jalan dulu” atau “Ayah, aku sudah sampai di kos” atau “Bro, kerjaan kemarin sudah bisa jalan dan disetujui client”. Ortu atau teman kita tidak punya perasaan khawatir dan pikiran yang buruk / negatif.

Seorang teman yang bekerja di Perancis pernah bercerita kalau dia dimarahi atasannya karena tidak memberi kabar tentang status pekerjaannya. Sang atasan khawatir karena seharian tidak ada kabar. Walaupun pekerjaan itu ternyata sudah selesai, tapi sang atasan tetap marah “Beginikah cara bekerja di negaramu?? Apakah disana tidak ada kabar berarti kabar baik??”.

Biasakanlah untuk tidak berasumsi, berikanlah kabar agar yang berhubungan bisa tahu apa yang terjadi.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.