Rancangan Teknokratik Rencana Strategis (Renstra) KM ITB

Dokumen Sinergisasi Kaderisasi mendefinisikan kemahasiswaan sebagai salah satu upaya mandiri mahasiswa yang diwujudkan dalam rangkaian dan ragam aktivitas dalam rangka turut serta mewujudkan tujuan pendidikan demi menciptakan seorang sarjana yang seutuhnya siap terjun ke masyarakat. Kemahasiswaan merupakan jawaban dari tujuan pendidikan yang tercantum secara konstitusional. Menurut Undang-Undang RI №20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dikemukakan bahwa Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, sehat jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Secara lebih khusus dalam Undang-Undang RI №12 Tahun 2012 tentang pendidikan tinggi bahwa pendidikan tinggi memiliki fungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak, mengembangkan sivitas akademika melalui pelaksanaan Tridharma, dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan memperhatikan dan menerapkan nilai humaniora. Pemaparan di atas menunjukkan bahwa seluruh proses yang berlangsung di perguruan tinggi adalah proses pendidikan dalam rangka membentuk karakter.

Berdasarkan dokumen konstitusional yang telah dijabarkan, terdapat dua aspek yang menjadi tujuan pendidikan, yaitu peningkatan skill dan penjaminan karakter. Peran lebih besar terletak pada lembaga pendidikan tinggi yang ditunjuk oleh negara untuk pemenuhan tujuan pendidikan. Untuk mengembangkan dua aspek tersebut, pendidikan formal tidaklah cukup. Mahasiswa juga harus ikut mendidik dirinya sendiri dengan tetap berpedoman pada nilai kebenaran ilmiah. Berdasarkan sistem pendidikan yang berkembang di Indonesia, kebutuhan optimalisasi pendidikan karakter, pengembangna kemampuan aplikasi, dan penanaman skill penunjang kognitif adalah pekerjaan rumah yang menjadi peluang untuk dipenuhi melalui bantuan rangkaian kegiatan kemahasiswaan yang terstruktur dan terintegrasi. Untuk mengorganisasikan upaya pendidikan di luar pendidikan formal dibutuhkan alat organisasi kemahasiswaan.

Untuk mewujudkan kemahasiswaan yang efektif dan efisien dalam upaya mendidik dirinya sendiri, sebuah generasi mahasiswa memiliki tantangan yang perlu dihadapi. Menghadapi tantangan kemahasiswaan pada masa kini dan masa mendatang memerlukan sebuah visi yang menjadi pola pandang yang baik dan benar menurut nilai kebenaran ilmiah. Kemahasiswaan sebagai salah satu instrumen pendidikan memiliki tujuan untuk membantu dan memberi alat bagaimana mahasiswa menghadapi tugas dan tanggung jawabnya akan tantangan masa depan.

Menghadapi Perubahan

KM ITB diwujudkan dalam suatu sistem terbuka di mana lingkungan merupakan salah satu dimensi yang diperhatikan dan memengaruhi perilaku elemen organisasi dan efektivitas organisasi. KM ITB harus dapat menghadapi ketidakpastian lingkungan yang memengaruhi sebagian atau seluruh elemen kemahasiswaan. Ketidakpastian lingkungan didefinisikan sebagai ketidakcukupan informasi yang diperoleh akan keadaan lingkungan bagi suatu organisasi. Berdasarkan teori Duncan, terdapat dua dimensi ketidakpastian lingkungan, yaitu kompleksitas lingkungan dan stabilitas lingkungan. Kompleksitas lingkungan merupakan banyaknya elemen eksternal yang berpengaruh terhadap organisasi. Stabilitas lingkungan merupakan kecepatan perubahan elemen-elemen lingkungan. (Duncan, 1972). Dari segi kompleksitas lingkungan, sebuah organisasi kemahasiswaan dalam skala KM ITB berinteraksi dengan banyak elemen lingkungan. Dalam konteks lingkungan ITB, KM ITB berada di dalam sistem ITB, akan tetapi secara struktural tidak berada di bawah rektor dan memiliki otonomi penuh untuk menentukan kehidupan organisasinya sehingga memiliki beberapa pola hubungan yang telah diatur. Dari segi stabilitas lingkungan, perubahan merupakan bagian dari hidup masyarakat kita sekarang ini. Perubahan berlangsung pada seluruh aspek kehidupan kemahasiswaan, mulai dari yang kecil seperti cara berkomunikasi hingga perubahan besar seperti perubahan kebijakan pendidikan.

A. Organisasi Kemahasiswaan Kontemporer

Karakter berdasarkan Konsepsi KM ITB Amandemen 2015 yang diharapkan dimiliki oleh organisasi kemahasiswaan adalah karakter mandiri, kekeluargaan, demokratis, aspiratif, partisipatif, representatif, efektif, efisien, terbuka, dan adaptif. Karakter organisasi kemahasiwaan ini menjadi sebuah mimpi yang ingin dicapai untuk membentuk sebuah wadah kemahasiswaan yang ideal, namun kita harus secara realistis memandang karakter-karakter tersebut sebagai bagian dari kehidupan kemahasiswaan yang relevan dengan masa kini. Greiner dalam penelitiannya menyebutkan terdapat lima tahapan dalam pertumbuhan organisasi. KM ITB saat ini sedang berada dalam transisi tahapan ketiga, yakni tahap delegasi menuju tahapan keempat, yakni tahap kolaborasi. (Greiner, 1998) Sebagai sebuah organisasi yang memasuki umur 21 tahun, KM ITB merupakan organisasi yang dikategorikan dewasa. Karakter organisasi kemahasiswaan yang efektif dan efisien dapat dicapai dengan sinergisasi elemen-elemen KM ITB, baik Kongres KM ITB, Kabinet KM ITB, MWA-WM, UKM, dan HMJ. Dokumen-dokumen pendukung kemahasiswaan seperti GBHP KM ITB dan konstitusi sektoral harusnya dapat terintegrasi baik dalam aspek konsep hingga teknis sehingga seutuhnya dapat membangun gerakan yang sinergis dan konstruktif antar elemen KM ITB dengan tetap mempertimbangkan dokumen-dokumen landasan seperti Konsepsi dan AD ART KM ITB serta RUK KM ITB.

B. Karakter Mahasiswa Milenial

Dalam dokumen sinergisasi kaderisasi KM ITB, terdapat beberapa tinjauan terhadap kondisi mahasiswa ITB yang seharusnya menjadi fokus perhatian dari penggerak kemahasiswaan, yaitu:

- Tingkat stress mahasiswa ITB menyebabkan mahasiswa ITB cenderung menggunakan waktu kosongnya untuk kembali ke zona nyaman sebagai metode dalam melepas stress.

- Beban akademik yang sangat tinggi menyebabkan mahasiswa ITB memiliki waktu senggang yang sangat terbatas menyebabkan mahasiswa ITB akan cenderung memilih kegiatan yang bervariasi namun tidak berani menjamin komitmen dan tidak menginginkan adanya ikatan yang terlalu besar. Hal ini diakibatkan oleh keinginan untuk mencoba hal baru dan menjalankan hobi serta menerima manfaat secara efisien dan instan.

- Kejenuhan atas hal yang berhubungan dengan akademik sehingga menurunkan motivasi dalam pengembangan keilmuan dan produktivitas karya dalam hal keilmuan.

Melihat permasalahan karakter mahasiswa yang sudah mengalami pergeseran dapat membantu pemahaman mengenai bentuk kegiatan kemahasiswaan yang lebih variatif, kreatif, dan melihat dari sisi konseptual. Pengembangan dan penjaminan karakter sebagai tujuan penddikan bisa diperbantukan dengan menciptakan suasana lingkungan kemahasiswaan yang mendukung. Sebelum mahasiswa dapat melakukan aktivitas kemahasiswaan, perlu dipastikan agar segala kebutuhan dasarnya terpenuhi, baik dari segi pendidikan, kesejahteraan, ataupun aktualisasi.

C. Tantangan Kemahasiswaan di Masa Depan

Membicarakan sebuah rencana strategis, berarti kita membicarakan suatu ramalan akan masa depan. Menjadi sebuah pertanyaan apa yang ingin dituju oleh mahasiswa sekarang di masa depan dan bagian dari masa depan mana yang dituju. Tulisan Ketua Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB 2017–2018, Ardhi R. Wardhana (2016) menunjukkan sebuah imajinasi mewujudkan konsep Indonesia Emas 2045. Salah satu elemen penggerak yang menjadi bagian dari Indonesia tersebut adalah mahasiswa Indonesia di tahun 2016 yang sedang bergerak sebagai patriot bangsa. . Tujuan pendek yang bisa dicapai adalah menjadi bagian dari Indonesia 2020, di mana terdapat berbagai tantangan di antaranya pasar bebas asia pasifik, pengangguran berintelektual, dan krisis moral. (Muhlis, 2016)

Melihat kondisi ideal dan aktual dari berbagai sudut pandang di atas, diperlukan sebuah panduan atau pijakan yang dapat dipakai bagi kemahasiswaan yang mendatang dalam bentuk Rencana Strategis KM ITB atau disingkat Renstra. Alur tahapan penyusunan Renstra adalah sebagai berikut.

a. Penyusunan Kajian Pendahuluan (Background Study)

b. Penyusunan Rancangan Rencana Strategis Secara Teknokratik

c. Penyiapan Rancangan Awal Renstra KM ITB

d. Penyiapan Rancangan Renstra Kemenkoan

e. Penyusunan Rancangan Rencana strategis KM ITB

f. Pelaksanaan Musyawarah Luar Biasa KM ITB

g. Penyusunan Rancangan Akhir Rencana Strategis KM ITB

h. Penetapan Renstra KM ITB

Dalam merancang Rancangan Teknokratik Rencana Strategis KM ITB digunakan kerangka kerja logika berpikir yang konsisten dengan tujuan akhir Arah Kebijakan dan Strategi Kemahasiswaan KM ITB sebagai berikut.

- Identifikasi Permasalahan

- Penyusunan Isu Strategis KM ITB

- Penentuan Sasaran Pokok Renstra

- Penentuan Arah Kebijakan dan Strategi Kemahasiswaan

Perumusan Rancangan Teknokratik Rencana Strategis KM ITB dimulai dengan mengidentifikasi permasalahan yang ada di dalam KM ITB. Identifikasi permasalahan dilakukan berdasarkan kepada tujuan dan kondisi yang telah dievaluasi melalui Konsepsi KM ITB. Tahapan ini melibatkan manajemen strategis, yaitu kumpulan keputusan manajerial yang menentukan performa jangka panjang dari suatu organisasi. Manajemen strategis terhadap organisasi kemahasiswaan KM ITB dilakukan dalam rangka adaptasi organisasi dan membentuk Learning Organization. Adaptasi organisasi meningkatkan fleksibilitas organisasi, yakni adaptasi untuk merubah strategi kemahasiswaan berdasarkan perubahan kondisi lingkungan. Hal ini berdampak pada komitmen jangka panjang untuk mengembangkan organisasi dan kebutuhan organisasi untuk menjadi organisasi yang belajar atau learning organization. Organisasi seperti ini didefinisikan sebagai organisasi yang memiliki keahlian dalam menciptakan, memperoleh, dan melakukan transfer pengetahuan dan mengubah perilaku terhadap pengetahuan baru. Manajemen strategis memuat empat elemen dasar, yaitu identifikasi permasalahan, formulasi strategi, implementasi strategi, serta evaluasi dan kontrol.

Analisis secara eksternal menggunakan alat bantu Five Porter Forces, yaitu lima elemen eksternal yang dapat berpengaruh terhadap perkembangan organisasi, yaitu tantangan pendatang baru, tantangan terhadap subtitusi kebutuhan, daya tawar pemasok, daya tawar pembeli, dan kompetisi internal.

Sementara analisis secara internal menggunakan tabel SWOT yang mengidentifikasi faktor-faktor strategis di KM ITB.