
Daun Basahmu
Genap kala aku menjadi Pria yang bermuka angin, mengacuhkan ganjil tatap yang ingin ku serahkan, semua ingat yang aku tatahkan terus berusaha mengecohkan juang laraku kini, menyerahkan seluruh kaleidoskop pilu pengap.
Bagaimana aku matikan itu, bagaimana aku bisa meremahkan dedaun basah ? Sampai gemuruh senja menyerahpun aku tak hingga, aku tak dapat menginjak mati daun basah, Tapi, apa menginjak mati adalah cara terbaik? Aku rasa tidak.
Angin, ada maksud kenapa kata tersebut menari-nari dikepalaku dikala aku mulai menginjak-injak daun basahmu, yah, Aku sadar sekarang, aku tak harus meremahkannya, adakalanya aku harus membiarkan Angin mengeringkan buta, melayangkan tuli, dan melepaskan bisu daunmu.
Akalku tak ingin lagi memaksa mati, tak lagi membiarkan fikir paradoksku menyekat gamang dan jengah, selarut aku melawan rasa, semakin hari kian aku tak dapat melepas.
Tidak, tiada harap yang aku ajukan sekarang, aku akan kembali pulang, dengan cara berdamai bersama daunmu, mulai melepas tanpa ada paksa, salah satu hal tersulit adalah memaafkan, sembari aku lelah, aku memilih memaafkanmu.
Kembalilah dengan Rasa yang lapang, tak ada lirihan kenang yang perlu kau khawatir kan, karna aku akan berdamai bersama mereka, Berdamai atas daun basahmu yang akan aku layangkan bersama Anginku.
Jambi, 05 September 2018
