Tentang sebuah nama.
Aku tak pernah faham tentang logika yang sering mengganggu dikala aku hendak berdiam diantara keramaian, berfikir lirih perihal apapun yang mungkin bisa saja membuat ku sedikit bisa menghilangkan peluh ku sendiri, iya, peluh diantara masalah-masalah yang sedang bersemayam dikehidupanku,
Banyak hal yang mungkin sekarang sedang menunggu untuk dikerjakan, tapi entah kenapa, semuanya membuatku bingung, memang, jikalau aku tilik kembali, betapa banyak hal yang memang bisa aku lakukan selain memikirkan sebuah nama.
Nama? yah, Nama seseorang yang telah mengubah mindsetku tentang hukum dunia ini, aku tak perlu menyebut siapa namanya, yang harus diketahui, dia adalah alasan kenapa aku memulai cerita ditulisan-tulisan ku,
Dia adalah Wanita yang tak pernah aku kira hadirnya, semua apa yang ia miliki tampak seperti aku berkaca pada diriku di cermin,
dia adalah Adhitya versi Wanita.
Guruku pernah menyampaikan ungkapan tersebut.
Kelebihan maupun keburukan yang ia miliki justru membuatnya selalu terlihat berbeda dari yang lain nya, iya, dia adalah wanita berbeda dari apa yang aku kira, aku tak pernah berfikir bahwa aku bisa mengenalnya, aku tak menemukan wanita manapun sepertinya, bagaimana bisa ?.
Yah, kebanyakan wanita yang aku temui tak ingin terlalu banyak berfikir, dan kau tahu, dia adalah wanita pemikir, menakjubkan bukan? mungkin menurut mereka yang terlalu simple menilainya adalah wanita rumit, wanita yang terlalu banyak komen atau apalah itu.
Sejenak memang banyak hal yang aku dapatkan darinya, semangatnya dalam belajar pun bisa aku rasakan, aku begitu iri dengan nya, dan yah, aku tak tahu lagi bagaimana caranya menjelaskan betapa bangga nya aku bisa menjadi orang yang berdiri dilingkarannya.
Tapi, bagaimana kini?
Aku telah memilih keputusan berat, keputusan dimana aku harus menyesuaikan akal dan hati yang seutuhnya tak pernah bisa sinkron, yah, Pergi.
Pergiku bukan hanya sekedar Pergi saja, tidak, karna disini Pergiku benar-benar harus pergi, dari semua apa yang telah terjadi dilalu, aku harus bunuh rasa ku dengan segenap logika yang sudah aku kumpulkan dari dulu, Realistis, satu kata yang telah diajarkan oleh Wanita yang dulu sempat aku inginkan, ada apa dengan Realistis ?.
Diawal, aku benar-benar buta tentang kerealistisan yang ia gumamkan selalu, bagaimana bisa logika ku bermain sedangkan hati sedang bercanda ria denag segenap Rasa yang menggebu? Aku telak benar-benar tuli tentang semua perspektif yang selalu meragukan, Aku bisu mengatakan secara langsung bahwa aku benar-benar sudah berdiri tegak tanpa hantam.
Segala macam opini aku argumenkan agar Akal ku berhenti memberontak, yah, memberontak agar aku mulai memahami dari sebuah kata realistis itu, tapi, semakin melawan semakin aku diterjang kebelakang, Akal yang selalu aku singkirkan telah memperlihatkan Taring nya sendiri, merobek harap yang telah aku andaikan, semua telah terjadi, Akal menang kini.
Aku ambigu, aku ingin pergi tapi Hati menahan, apa itu Rasa ?, bagaimana bisa aku Merasa kepada wanita yang paras nya saja aku tak pernah melihatnya secara langsung, seilir akal kian mencoba menganalisis alasan-alasan yang harus kujadikan argumen untuk hati, yah, perlahan tanpa aku cari, semua alasan datang dengan sendirinya, dan itu kuraih dari dia, Memang, sebuah kesalahan yang seharusnya sudah lama aku sesali, keterlambatan penyesalan hanya membuat aku semakin jatuh.
Aku tak tahu apa yang aku tulis ini, aku hanya menulis dengan apa yang terfikirkan, tanpa harus dibuat berlebih atau berkurang, inilah fikiranku yang aku hantarkan disela paragraf-paragraf ini,
Untuk sebuah Nama yang dulu aku banggakan, Aku berharap suatu saat nanti Kesombongan tak dapat menguasaimu.
Jambi, 31 Agustus 2018
