Menangani Overspending Budget dengan Integrasi Behavioural Finance

Perjalanan saya di Salzburg membuat saya menyadari bahwa manusia memang tidak lepas dari tindakan irasional, berbeda dengan tafsiran manusia sebagai Homo economicus yakni manusia senantiasa menjadi pengambil keputusan keuangan yang rasional. Kahneman dan Tversky (1970) yang memenangkan penghargaan Nobel menunjukkan bahwa manusia tak lepas dari bias perilaku, dari hal tersebut muncullah cabang ilmu ekonomi baru yakni Behavioral Economics. Tulisan ini akan menyinggung soal keterkaitan ilmu ekonomi perilaku dan penerapannya dengan Ekonomi Digital (#ecodigi). Pasalnya dalam beberapa tahun ke depan, manusia juga akan sangat bergantung pada kemajuan teknologi, terutama di bidang keuangan.

Perkembangan Financial Technology (FinTech) di Eropa terbilang jauh lebih pesat daripada di Indonesia dan saya merasakan hal tersebut langsung. Selama satu tahun belakangan, saya menjadi nasabah Barclays dan merasa sangat dimudahkan dengan aplikasi perbankan bank tersebut. Setelah saya perhatikan lagi, user interface (UI) Barclays tidak jauh berbeda dengan bank-bank komersial Inggris lain seperti Llyods, Santander, atau Natwest. Dengan demikian saya menarik kesimpulan bahwa penyeragaman UI untuk aplikasi mobile banking cukup membantu di bidang #ecodigi. Tak hanya UI, fitur yang disediakan pun serupa. Yang paling saya apresiasi dari#ecodigi perbankan UK (dan juga Eropa) adalah layanan contactless, tidak ada tarif antar bank, dan tidak ada biaya administrasi dengan timbal balik bunga yang kecil.

Setelah terkagum dengan kecanggihan #ecodigi perbankan UK yang belum pernah saya temui di perbankan Indonesia, ada lagi yang membuat saya takjub yakni salah satu aplikasi FinTech UK yakni Monzo. Monzo merupakan bank virtual yang memiliki kewenangan untuk menerbitkan kartu debit dan disertai dengan banyak manfaat, seperti: bebas tarif perubahan mata uang bila digunakan di luar UK, tidak menarik biaya administrasi dan biaya transfer antar bank, bahkan dilengkapi dengan budgeting dan spending yang membuat penggunanya langsung bisa memantau transaksi harian yang dilakukan.

Berkaitan dengan perjalanan saya di Salzburg, Monzo telah memberikan notifikasi pada saya melalui aplikasinya bahwa saya telah melakukan overspending. Sebagai seorang mahasiswa Behavioural Finance yang mempelajari implikasi perilaku tidak rasional manusia dalam mengambil keputusan keuangan, ternyata tak membuat saya semerta-merta jadi rasional. Saya justru menghabiskan lebih banyak dana untuk menutupi kepanikan saya karena ketinggalan bus akibat menunggu di halte yang salah. Dalam Behavioral Finance, sikap saya disebut sebagai loss aversion.

Kahneman dan Tversky (1970) menjelaskan dalam teori mereka yang disebut sebagai Prospect Theory bahwa loss aversion merupakan kondisi dimana seorang Decision Maker (DM) justru merasa lebih rugi kalau tidak mengeluarkan dana lebih banyak demi mencapai keuntungan. Kahneman dan Tversky menjelaskan bahwa DM yang mengalami loss aversion berada di kuadran risk lover for loss. Contohnya saya, alih-alih tinggal semalam lagi di Salzburg dengan membayar hostel dan membeli tiket untuk ke Ljubljana di hari selanjutnya dengan total harga EUR 31 tapi saya malah memilih untuk membeli tiket bus langsung dari Salzburg ke Ljubljana via Graz seharga EUR 37. Pertimbangan yang menentukan keputusan saya adalah waktu, padahal bus menuju Ljubljana dari Graz juga baru akan berangkat pukul 1 pagi. Bila saya rasional, tentu saja saya bisa lebih berhemat lagi dengan cara jalan-jalan di Salzburg hingga pukul 1 pagi untuk menunggu bus.

Sayangnya meski terbantu dengan Monzo sebagai Commitment Device, saya masih bersikap irasional. Dalam ilmu Behavioral Finance sendiri, Commitment Device merupakan instrumen yang dapat membantu individu untuk konsisten pada pilihan konsumsi mereka. Monzo memiliki fitur budgeting yang berperan sebagai Commitment Device dan bila budget hampir tak bisa ditekan, Monzo akan memberikan notifikasi bagi user mereka. Sayangnya notifikasi saja rasanya tidak cukup untuk membuat individu irasional seperti saya mengurungkan niat dalam menekan pengeluaran.

Untuk menjadikan aplikasi berbasis #ecodigi lebih efektif dan mencegah pengambilan keputusan irasional seperti yang saya lakukan, diperlukan automatic declined ketika budget harian/bulanan telah terlampaui. Namun proses automatic declined ketika saldo tabungan masih tersedia biasanya malah akan merepotkan bagi nasabah/user aplikasi #ecodigi. Langkah ini memang ekstrem dan bisa menekan pengeluaran secara instan tapi ada beberapa situasi yang memaksa agar nasabah tetap mengeluarkan dana yang benar-benar mereka butuhkan.

Solusi selain automatic declined adalah calculating expenses. Calculating expenses ini menggunakan pendekatan Behavioural Finance yang disebut sebagai nudging. Richard Thaler (2008) dalam bukunya Nudge menjelaskan bahwa pendekatan nudging dilakukan dengan cara memberikan pilihan bagi individu untuk mengubah pola pikir/keputusan tanpa adanya larangan atau mengubah pengeluaran ekonomi mereka secara signifikan. Oleh sebab itu, dengan adanya calculating expenses diharapkan nasabah akan menyadari bahwa telah banyak transaksi yang dilakukan sementara budget semakin menipis. Implikasinya, bila nasabah concern terhadap menipisnya budget, maka dia akan semakin berusaha untuk menekan pengeluaran.

Dalam kasus yang saya alami di Salzburg, metode nudge dalam calculating expenses dapat diterapkan dengan cara membandingkan pengeluaran untuk tinggal satu malam di Salzburg dengan pembelian tiket Salzburg ke Ljubljana (via Graz). Ketika total pengeluaran tertera dengan jelas, mungkin saya akan lebih memilih untuk tinggal di Salzburg dan meminimalisir pengeluaran. Pendekatan ini berpotensi untuk diterapkan di Indonesia yang masyarakatnya memiliki budaya konsumsi yang cukup tinggi, naik sebesar 60% pada tahun 2020 nanti berdasarkan prediksi The Boston Consulting Group (sumber: The Jakarta Post).

Dengan jumlah pengguna internet Indonesia yang cukup besar (45% dari total populasi) dan pengguna smartphone yang cukup tinggi 70.22 juta jiwa (sumber: Statista), aplikasi #ecodigi sangat berpotensi untuk dikembangkan. Namun, sebelum menyentuh ranah aplikasi keuangan di sektor lain seperti asuransi atau investasi, alangkah lebih baik dilakukan standardisasi aplikasi perbankan Indonesia agar lebih user friendly dan seragam seperti di UK. Saat ini Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan sudah mulai menyadari perkembangan #ecodigi di dunia Teknologi Keuangan Indonesia dan telah memiliki alat semacam regulatory sandbox untuk mengotorisasi keabsahan sebuah aplikasi. Di masa mendatang, selain regulatory sandbox sebagai alat otorisasi, BI dan OJK selaku regulator diharapkan bisa menetapkan standar UI (user interface) dan melakukan pendekatan regulasi menggunakan pendekatan Behavioural Finance sebagai bentuk perlindungan konsumen. Saya percaya #ecodigi, regulasi, dan pendekatan Behavioural Finance akan membantu masyarakat Indonesia untuk lebih sadar dalam pengelolaan keuangan dan investasi, serta lebih cerdas sehingga lebih terlindungi dari scam dan fraud yang timbul di pasar atau overspending yang muncul dari diri sendiri.

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba Blog Bank Indonesia dengan topik Ekonomi Digital