مسلمة (Muslimah)

Tak perlu disembunyikan lagi bagi kita mahasiswa kini pasti mendambakan yang namanya romansa cinta, bukan karena nafsu atau apa, namun memang mungkin sudah waktunya. Pada dasarnya di usia sekitar kepala dua ini sudah sangat legal untuk meminang dan memperistri anak mertua idaman, namun apa daya bagi seorang mahasiswa yang saat ini memang belum mampu menafkahi secara material dan lahiriyah, apalagi hal itu merupakan kebutuhan bagi si mertua untuk merelakan putri kesayangannya yang sudah dibesarkan susah payah. Yah, begitulah kenyataan hidup saat ini, hehe . .

Berbicara mengenai si dia, tentunya berbicara tentang seorang muslimah. Ya, tentunya seorang muslimah sejati lah yang layaknya ku idam-idamkan. Memang muslimah seperti apa yang patut kita idamkan ? untuk hal ini mari kita kembalikan pada panutan kita nabi Muhammad SAW, beliau bersabda, “Wanita itu dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, kemuliaan nasabnya, kecantikannya, dan karena agamanya. Maka nikahilah wanita yang baik agamanya niscaya kamu beruntung.” (HR Bukhari dan Muslim)

Mari berfokus pada perkara agama, yang merupakan perkara yang akan membawa keberuntungan bagi kita yang menikahi wanita karena agamanya. Bagaimana kah muslimah yang baik agamanya? Apakah yang rajin sholat dan ngaji? Atau yang rajin bersedekah dan pergi ke mekah?

Iya hal-hal tersebut memang benar, namun secara sederhananya muslimah dapat dikenali lewat cara berpakaiannya, yaitu jilbab atau kerudungnya. Islam yang telah sempurna sejak sekitar 1400 tahun lalu telah mengajarkan berbagai tata cara hidup untuk penganutnya, salah satunya adalah cara berpakaian. Bagi kaum hawa persyaratan minimumnya tentu saja adalah menutup aurat, namun lebih dari itu terdapat beberapa perihal tambahan, seperti larangan berpakaian menyerupai laki-laki, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat lelaki yang menyerupai wanita dan (melaknat) wanita yang menyerupai lelaki.” (HR. al-Bukhari no. 5885)

Lebih jauh dari itu terdapat hadits lain yang cukup terkenal membahas mengenai berpakaiannya wanita, “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

Dalam hal ini berpakaian tapi telanjang memiliki beberapa tafsiran, namun tafsiran yang masyhur adalah wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang. (Lihat Syarh Muslim, 9/240) Dan ditafsirkan pula bahwasanya mereka mengenakan pakaian sempit yang menutup auratnya dari pandangan orang, akan tetapi terlihat lekuk-lekuk tubuhnya. Oleh karena itu dilarang bagi wanita mengenakan pakaian yang ketat. Dan lebih luasnya lagi saudaraku, sesungguhnya wanita bernilai jauh lebih mulia dari pada sekedar kecantikan yang mengumbar aurat. Dan menurutku sekarang, wanita yang mengenakan rok, gamis, atau apapun sejenisnya yang tidak menampakkan lekukan tubuhnya nampak jauh lebih anggun dan berkesan.

Yah begitulah garis besarku untuk muslimah idaman, muslimah anggun yang tidak menampakkan lekuk-lekuk tubuhnya dan selalu melindungi kecantikan dan keindahannya, hanya untuk pasangan halal nya kelak, hehe . .

Semoga kita bisa segera menjadi versi terbaik dari diri kita, lalu mendapatkan jodoh dengan versi terbaik kita, dan semoga kita selalu dalam lindungannya.

“ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik.” (Qs. An Nur:26)

Terima kasih kepada:

http://www.hisbah.net/hukum-wanita-memakai-baju-ketat/

https://rumaysho.com/161-wanita-yang-berpakaian-tapi-telanjang-sadarlah.html

https://muslimah.or.id/

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.