Lipatan Kertas

Siang itu, teman saya menunjukkan cara melipat kertas jadi bintang. Kecil-kecil, tapi indah. Dia lipat satu buah sebagai contoh, lalu dibukanya kembali hingga garis-garis lipatan itu terlihat jelas, jadi acuan. Lantas, orang-orang berusaha menirukan. Lipat sana, lipat sini, berulang-ulang : sedikit yang berhasil di kali pertama.

Seni melipat kertas itu ajaib, saya pikir. Kemampuan mencipta objek dari selembar kertas datar menjadi bentuk tiga dimensi yang punya arti. Perubahan wujud ini mengingatkan saya akan sebuah ungkapan, dimana orang bilang manusia itu tak ubahnya selembar daulang yang menunggu untuk ditintai. Ada yang jadi indah penuh warna keemasan, sebagian lainnya jadi kumal tidak karuan. Dari sana, rasanya ada kesamaan dengan apa yang saya lihat di atas. Mungkin, ya, mungkin, manusia itu juga sama seperti origami.

Setiap orang punya wujud, punya bentuk, punya nama. Beberapa ada yang sederhana, sehingga mudah bagi kita untuk melipatnya ulang kembali ke bentuk semula : kertas kosong di atas meja. Surih-surih bekas lipatan membelah permukaannya dengan halus, membentuk simetri. Dari sana, bisa ditebak arah dan pola lipatan yang mengantar kita kepada wujudnya masing-masing. Mungkin pemarah, mungkin pendiam. Melankolis, atau sanguinis. Semua terbaca dengan jelas, tanpa banyak usaha.

Tapi, ada juga yang rumit dan sulit ditebak, seperti origami sebuah burung. Bentuknya yang demikian adalah hasil dari lipatan-lipatan keras sang pembuatnya. Kadang harus ditekan di sana dan di sini agar rupanya sempurna. Kita yang mencoba untuk membuka ulang karya tersebut, akhirnya tidak tahu harus memulai dari sebelah mana, sehingga menerjemahkan pola cuma jadi mimpi, apalagi bagi yang amatir. Terkadang, orang nekat, meski tanpa ilmu. Di penghujung hari, jangankan terbuka, kertas itu justru sobek karena dipaksa untuk terbuka.

Setelah robek, lalu apa ?. Manusia tidak punya daya upaya untuk mengubah apa yang sudah robek menjadi tidak robek lagi. Pita perekat, lakban, stapler, cuma tambalan, tidak bisa mengembalikan. Seringkali, karya yang gagal itu lantas ditinggalkan. Mengendap jadi sampah, tidak lagi punya nilai.

Bukan cerita bohong, bahwa tidak semua orang dilipat dengan halus dan indah sepanjang hidupnya. Jangankan punya bentuk, beberapa orang ada yang dilipat tanpa arah, tanpa maksud. Jadi kedut, begitu. Membaca dan mengartikan orang yang demikian, sungguh sulit luar biasa. Orang bisa kalah sebelum berperang : memilih untuk menjauh bahkan sebelum mencoba masuk ke ruang yang lebih dalam.

Maka, saya rasa dalam mengenali dan memahami hati orang bukan sekedar urusan berani atau tidak. Kadang, manusia hanya peduli pada bentuk akhir lipatan yang indah-indah. Saya hanya peduli kepada hasil, begitu pikirnya. Padahal, proses menuju ke sana seringkali lebih rumit dari membuka lipatan origami paling sulit sekalipun.

Kebertanggungjawaban untuk tidak merobek lembaran hati orang, adalah perlu. Rentang waktu untuk mengetahui letak sudut bukaan pertama dari lipatan itu bisa sangat lama, tapi ketika ia sudah ditemukan, setiap gerak tangan kita di atas kertas itu mungkin bisa jauh lebih bermakna.

Mungkin.

—Perpustakaan, 19 Sept’14.