Kembali, ke Mula


APDM — Anjangsana on Soundcloud


Sulitnya mencabut luka jiwa hingga ke akar-akarnya adalah sebuah keniscayaan akibat kedalaman hati yang tiada terukur. Maka, kala perih sudah kadung menancap jauh masuk ke dalam, di sana banyaknya manusia hanya bisa pasrah.

Hidup lantas dihabiskan semata-mata untuk dapat memalingkan muka dari benih-benih luka di atas ladang hati yang selalu meminta untuk dituai. Manusia bersembunyi, manusia menghindar. Manusia, hidup sambil terus dikejar-kejar.


Masa yang demikian berlangsung amat panjang serta berulang dan terus berulang. Sampai tiba saat dimana ia mulai berkeyakinan bahwa ini tiada akan pernah berkesudahan.

Hanya dapat berharap-harap bahwasanya hati yang luka dapat segera berubah, menjadi hati yang lupa.

***

Lebar, mengandung makna selesai atau beres dalam perbendaharaan Bahasa Jawa. Ketika ia kemudian diserap lalu diimbuh menjadi lebaran, maka ia menandakan peristiwa telah usainya sesuatu hal — yang hari ini barangkali sering juga orang sebut dengan istilah “tamat”.

Jalan panjang manusia dikatakan tamat ketika ia kembali ke tanah, sebagaimana ia tercipta dari tanah. Sebuah buku dikatakan usai dibaca dikala ia telah tertutup tanpa ada lembar yang terbuka, sebagaimana wujud mulanya. Sebagaimana juga dengan nyanyian yang yang begitu disudahi akan kembali mengantar indera kepada kesunyian.

Dari sana, tamat sesungguhnya mengandung arti mengembalikan segala sesuatunya kepada hakikat, kepada mula. Pun, ia kembali bukan berarti tanpa hasil tanpa perubahan, melainkan ada sesuatu dibawa pulang, yakni buah yang ia petik selama panjang perjalanan.

Luka dan benci, selama ini, boleh jadi telah mempertukarkan hati dan nalar. Dimana orang menghitung dengan hati, lantas merasa dengan logika.

Hitung-hitungan yang diambil tiada pernah bulat akibat hati yang terus berganti. Sedang, perasaan yang muncul tiada pernah dapat jujur karena nalar selalu bicara soal untung dan rugi.

Maka, lebaran (seharusnya) mengembalikan mereka kepada tempatnya semula. Menyudahi bulan Ramadan, tidak sekedar diukur dari berapa jumlah tamatnya rasa lapar yang ditutup dengan berbuka, tetapi adalah bagaimana kita kembali kepada keyakinan bahwa nalar terlampau mulia untuk sekedar melihat apa-apa hanya dari untung dan rugi.

Juga bahwasanya luka pada akhirnya hanyalah sebuah noktah di atas luasnya padang jiwa, selama hati masih mau untuk melapangkan diri.

Dari sana, memaafkan orang untuk setiap sakit yang diberikan menjadi mudah. Hidup, juga bisa jadi lebih indah.

— Bandung, 15 Juli’15


Selamat Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1436H.
Mari kembali kepada fitrah. Mari kembali, untuk meraih kemenangan.