Catatan dari ‘Fahrenheit 451’

“Technology, mass exploitation, and minority pressure carried the trick…”

Setiap hari anda terkontaminasi oleh ribuan informasi, baik berupa aktivitas terkini dari teman anda, berita tentang kasus korupsi yang tidak terselesaikan, iklan dari suatu produk, atau bahkan video ‘Baby Shark Dance’.

Apakah itu semua adalah informasi yang anda inginkan? Tentu anda mempunyai pilihan untuk mengonsumi informasi yang anda inginkan, tetapi pilihan yang anda miliki tersebut, sayangnya, tidak sebebas seperti yang anda kira.

Pada akhirnya, informasi yang menurut anda penting, tak dapat dielakkan, akan tertutup oleh banyaknya informasi yang tidak penting.

Dari fenomena tersebut, timbul pertanyaan:

Apakah anda benar-benar mengerti tentang informasi yang anda konsumsi?

Dengan teknologi yang berkembang dengan pesat, informasi dapat menyebar secara cepat dan menyeluruh. Masyarakat menjadi saling terhubung, sehingga cara pemerintah menanggapi setiap aspirasi masyarakat menjadi sangat krusial.

Pemerintah tidak ingin membuat suatu kelompok masyarakat kecewa, walaupun kelompok tersebut merupakan minoritas. Karena jika terdapat suatu kelompok masyarakat yang merasa kecewa, maka informasi tentang kekecewaan tersebut akan tersebar ke kelompok masyarakat lainnya. Tentu pemerintah tidak menginginkan hal tersebut terjadi.

Pemerintah tidak ingin kehilangan kepercayaan dari rakyatnya.

Kelompok masyarakat dengan ras tertentu merasa aktor dari ras mereka kurang mendapatkan peluang pada nominasi Oscar, kelompok masyarakat dengan gender tertentu merasa tidak mempunyai peluang yang sama dengan gender lainnya dalam dunia pekerjaan, kelompok masyarakat dengan agama tertentu, tidak ingin informasi di media melanggar aturan dalam agama mereka, dan banyak contoh lainnya.

Pemerintah melakukan berbagai sensor terhadap informasi.

Pada akhirnya, hal yang bisa dilakukan pemerintah adalah bermain dengan aman: Mengatur informasi yang akan dikonsumsi masyarakat. Harapan dari pemerintah adalah informasi tersebut tidak akan menyinggung perasaan siapapun. Setelah melalui berbagai proses sensor, pada akhirnya, informasi yang dikonsumsi masyarakat adalah informasi yang trivial. Informasi yang tidak mempunyai ketajaman, bobot, dan kedalaman.

Masyarakat menjadi terbiasa mengonsumsi informasi yang trivial, hal tersebut mempengaruhi pola pikir dan kebiasaan dari masyarakat.

Masyarakat tidak lagi menginginkan informasi yang mendalam.

Timbul kecemburuan sosial dan kecurigaan terhadap setiap informasi yang dikonsumsi. Informasi yang mendalam bisa menimbulkan konflik pada masyarakat. Informasi tersebut bisa saja membuka aib suatu kelompok masyarakat tertentu, tentang pengetahuan akan suatu teknologi mutakhir yang akan menguntungkan suatu kelompok masyarakat tertentu, dan banyak contoh lainnya. Pada akhirnya, timbul paranoia pada masyarakat akan informasi yang mendalam…


Dalam fenomena ini, pada sistem demokrasi yang ideal, masyarakat masih mempunyai kekuasaan yang lebih daripada pemerintah terhadap informasi. Tetapi, dengan kultur political correctness yang ‘sensitif’ (setiap informasi harus sesuai dengan keinginan semua pihak), apakah hal tersebut akan berefek baik atau malah merusak proses kebebasan informasi dan berpendapat?

Mungkin opini saya terhadap political correctness akan saya tulis di post selanjutnya. Tetapi untuk menggambarkan fenomena ini, menurut saya, sketch dari Key & Peele ini cukup menarik:

https://www.youtube.com/watch?v=VKpQgEyjNdM&t=105s

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.