Catatan dari ‘The Killing Joke’

“memory’s so treacherous, one moment you’re lost in a carnival of delights with poignant childhood aromas, the flashing neon of puberty, all that sentimental candy floss… The next, it leads you somewhere you don’t want to go, somewhere dark and cold, filled with the damp, ambiguous shapes of things you’d hoped were forgotten…”

Realita adalah tempat yang menyeramkan. Ketidakadilan berlaku secara random. Perang Dunia, kriminalitas, kemiskinan, rasisme…

Nyawa tidak mempunyai makna dalam realita, tetapi kenapa masyarakat masih nyaman menikmati hidup?

Ah.. saya baru ingat ada tempat untuk bersembunyi. Tempat yang berlandaskan norma yang disepakati bersama, optimisme, dan omong kosong yang bernama kemanusiaan.

Tempat tersebut bernama kewarasan. Tetapi tempat tersebut tidak menyenangkan dan hanya halusinasi belaka.

Kabar baiknya, anda selalu punya jalan keluar. Anda hanya perlu melangkahkan kaki keluar dan menutup pintu kewarasan dengan rapat.

Jalan keluar tersebut adalah kegilaan.
“All it takes is one bad day to reduce the sanest man alive to lunacy.”
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.