photo by Malikah Kautsar Ilmi

Monster

Alkisah hiduplah seekor monster yang kejam. Monster yang sungguh sungguh berbahaya, namun tak seorang pun pernah melihatnya. Ya, ia dapat menyelinap kemana saja tanpa terlihat.

Jangan bayangkan monster bergigi tajam dan bermata licik, suka memangsa manusia atau merusak kota dan desa atau seperti hal jahat lain yang kamu lihat di koran dan berita. Percayalah ia sungguh licik. Jika saja kamu cukup beruntung untuk dapat menangkap dan melaporkannya ke polisi, bukan Monster yang akan dinyatakan bersalah. Tapi kau!

Sang Monster bisa sangat kejam, dengan menebar serbuk-serbuk kebencian ia dapat membuat seorang anak dibunuh ibunya, seorang alim bisa dituduh bejat dan dipenjara, seseorang diusir dari rumahnya sendiri dan dibiarkan mati terlunta-lunta. Di lain hari ia diam-diam menyelinap di gedung-gedung megah, dengan tamak meraup rupiah demi rupiah yang entah milik siapa. Menelisip ke dinding-dinding sekolah, menebar kantuk saat pelajaran agama dan membisikkan gosip saat guru menjelaskan matematika. Lalu meyakinkanmu bahwa mencontek saat ujian itu baik dan wajar saja.

Tidak apa jika kamu menganggap cerita diatas hanya rekaan belaka. Tapi kusarankan untuk berhati-hati. Baru-baru ini Monster menghabiskan uang yang kutabung untuk liburan nanti. Sepeser demi sepeser raib tanpa kusadari. Ah kan sudah kubilang, pasti aku yang disalahkan karena tidak hemat dan banyak jajan.

Senin pagi di musim penghujan, waktu-waktu berbahaya sang Monster memburu mangsanya. Percaya padaku, berhati-hatilah. Malam ini ia mengintaimu.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.