Sebuah Stasiun yang Tak Dihuni Kereta

-

Hatiku meranggas bak sulur kacang. Di saat yang sama ingin menjenguk matahari, ingin pula mendekat ke lembah. Percaya pada cinta sama saja percaya bahwa Tuhan sebenarnya tak ada. Tidak peduli mata mengerling atau terpejam ke arah mana, kau takkan luput dari bagian masa lalu dan sekarang.

Pernah melangkah pula kita di rel yang tak dihuni gerbong besi beroda. Diam tanpa tahu melaju ke mana. Melabuh di stasiun, dalam kenangan yang tak kasat mata antara surga, neraka dan surga.

Aku terikat: ingin tinggal tapi juga ingin melarikan diri. Jika saja tubuh dibelah, kau temukan dua manusia yang asing dan tak asing. Meski diganti-ganti, mata uang tetap saja uang. Di mana sepasang mata mereka tak lagi memandang hal yang sama.

Ketika berlari mundur, yang kau temukan hanya bekas-bekas kabur telapak kaki.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Afandi Garudatama’s story.