Problematisasi; seni dan batas-batas

Af anwar

Judul corat-coret ini merupakan hasil pengamatan saya terhadap pertunjukan seni yang dilakukan mahasiswa pascasarjana ISI Yogyakarta, pada pengambilan nilai mata kuliah “seni dan lingkungan” dan “eksplorasi bunyi” yang diampuh oleh bapak Sutanto Mendut. Sebenarnya judul ini tidaklah sepenuhnya hasil interpretasi bebas saya tapi dipicu oleh tema pertunjukan yang diberikan oleh pak Tanto (sapaan untuk Susanto Mendut), “seni yang problematik diantara ruang yang problematik”, dan titik berangkat saya adalah karya yang saya pertunjukkan bersama teman-teman yang lainnya, “batas-batas yang cair.” Maka dari itu saya tidak betul-betul berdiri diposisi pengamat tapi juga pelaku.

Di ruang kita ber-Ada, apa yang problematik? Orang-orang kota setiap harinya tetap menjalankan hidupnya dengan kemacetan dan pekerjaan kantor. Mahasiswa sibuk dengan tugas kuliah dan ambisi mencapai pretise sarjana. Para petani tetap ke sawah demi kelangsungan hidup orang-orang kaya. Pekerja pabrik, gelandangan, pengemis, dan orang-orang miskin, seperti biasanya setiap hari bertarung melawan kemalangan. Atau seperti yang dikatakan Pak Tanto dalam pidatonya malam itu, ditempat yang jauh disana ada sekelompok masyarakat yang bertahan melawan gumpalan asap sebagai bencana kemanusiaan (untuk menghindari mengatakan bencana alam). Lalu apa yang problematik dari itu semua? Bukankah semua itu berjalan seperti biasanya?

Di ruang yang lain, ruang yang lebih banyak berbicara tentang estetika, sepintas tidak ada juga yang problematik. Seniman tetap saja sibuk berkarya. Perupa disibukkan dengan garis, warna, kontur. Para komposer atau musisi sibuk mengolah pitch, ritme, timbre, dan semacamnya. Atau pada tahap yang lebih sulit, mencari formulasi “sistem musik baru”. Sedangkan tari dan teater masih memeluk tubuh dan lakon. Disisi yang agak komersil, para pekerja seni disibukkan dengan jadwal konser atau pesanan yang melimpah ruah. seni menjadi barang dagang yang unik. Apa yang problematik? Semua berjalan seperti biasanya bukan?

*

Malam itu, di kediaman pak Tanto, tepat pukul 8 pertunjukan dimulai. Tempat yang sederhana tapi artistik. Space pertunjukan dikelilingi pepohonan yang satu persatu daunnya berguguran membentuk bayangan, seperti permainan wayang. Dihampir tiap sudut nampak patung-patung dan artefak kuno yang mungkin mengisyaratkan kalau tempat ini tidak jauh dari candi Mendut dan Borobudur. Pertunjukan dimulai oleh parodi “blues ngapak.” Seorang mahasiswa yang berjanggut lebat bermain-main dengan harmonika dan puisi yang berbahasa jawa-ngapak tapi dialek arab (lelaki ini teroris kata pak Tanto, haha). Seketika tawa memecah sunyi.

Sebelumnya mungkin perlu saya jelaskan bahwa semua pertunjukan yang dilakukan oleh mahasiswa Pasca ISI tidak melalui latihan yang lama (bahkan hanya sekali). Pada setiap pertemuan kuliah, mahasiswa hanya dipersilahkan untuk memunculkan bunyi apa saja melalui medium instrumen musik. Mahasiswa secara bergiliran ditunjuk untuk memainkan instrumennya, tanpa konsep, tanpa berpikir, dan bermain tidak seperti biasanya, seperti teror. Berpikir ditarik keluar sebagai aktifitas otak. Ada “sesuatu yang lain” yang diinginkan untuk berpikir, mungkin tangan yang menyentuh dawai, atau tubuh sebagai pusat penghasil suara, entahlah. Saya teringat dengan apa yang dikatakan Deleuze “bukan otak yang berpikir tapi manusia.”

Sepintas eksplorasi bunyi yang dilakukan dalam kelas terdengar asal-asalan dimana aliran bunyi tidak peduli dengan harmoni, pitch, ritme, tempo apalagi struktur. Seperti menggugat “yang mapan.” Bunyi yang ingin dimunculkan adalah bunyi yang berani-liar-lepas. Hasrat bunyi untuk menghancurkan “batas-batas.” Ini terlihat dihampir semua karya malam itu yang merupakan hasil proses dari pertemuan di kelas. “batas-batas yang cair” satu karya yang tidak membuat peristiwa bunyi apapun kecuali tepuk tangan saat pertunjukan berakhir. Dalam pertunjukkannya terlihat sekelompok orang hanya diam dan sangat serius mengamati “penonton.” Sekelompok orang ini serius menonton penonton, tidak ada bunyi yang dihasilkan yang ada peristiwa diam dan mengamati ekspresi wajah, perilaku tubuh, tawa, suara berbisik yang saling sahut-menyahut oleh mereka yang kita identifikasi sebagai “penonton.” Sekelompok orang ini menikmati pertunjukan “penonton.”

Mereka tidak memposisikan diri sebagai “yang ditonton” tapi penonton. Seperti pertunjukan “menjadi” penonton. Suatu upaya untuk menggugat logika seni pertunjukan yang selalu mensyaratkan kita untuk mengidentifikasi diri sebagai penonton atau yang ditonton. Seberapa sadarkah penonton yang sedang menyaksikan pertunjukan, tidak melakukan pertunjukan itu sendiri, dengan ekspresi emosi, kedisiplinan tubuh, dan keriuhan ritme tepuk tangan saat pertunjukan selesai? Atau seberapa sadarkah “yang ditonton” tidak berposisi sebagai penonton, saat mereka menyaksikan emosi, gerak tubuh atau ritme tepuk tangan itu? Batas-batas penonton-yang ditonton ini telah cair.

Dengan semangat yang sama, karya “taplak meja” mempersoalkan tentang batas Timur-Barat. Seorang perempuan yang memainkan instrumen musik tradisi (rebab dan gender) berada disebelah Timur dan lelaki yang memainkan instrumen musik Barat (violin) berada diposisi sebelah Barat. Di tengah-tengah mereka, seorang perempuan bergerak gemulai diatas meja, kadang dengan aksen tubuh spontan sebagai efek respon bunyi. Tepat di depannya seorang lelaki duduk dikursi. Awalnya dia hanya diam mengamati tapi kemudian dia mulai berdiri dan berjalan buta arah, bahkan duduk menonton bersama penonton.

Posisi-posisi mereka dan identifikasi diri melalui identitas instrumen yang dimainkan, seperti menciptakan simbol visual yang arbiter. Di sebelah barat dengan violin dan sosok lelaki (maskulin) dan di sebelah timur dengan rebab dan sosok perempuan (feminim). Apakah Timur selalu eksotis dan beautiful dalam pandangan Barat? Saya tiba-tiba menjadi seorang orientalis malam itu. Tapi walaupun secara visual mereka berjarak, kedua instrumen musik itu (yang merepresentasikan Barat-Timur) saling merespon bunyi, seperti kedua orang yang sedang berdialog. Tidak ada struktur bunyi yang mapan. Hanya aksen sebagai bentuk respon dan ritme yang saling sahut menyahut. Ini memperlihatkan bahwa walaupun Barat dan Timur itu berjarak tapi mereka menyatu dalam suatu bentuk komunikasi bunyi. Mereka menggugat, kenapa ini dikatakan Barat dan itu dikatakan Timur? Kenapa ini musik Barat dan itu Timur musik? Kenapa tidak dikatakan “musik” saja?

Apakah kita memang diciptakan sebagai “Timur yang eksotis” atau sebagai “Barat yang superior”? kadang budaya menjadi alat legitimasi untuk sebuah kekerasan, dominasi, dan diskriminasi. Batas-batas geografi membuat kita lupa bahwa kita adalah manusia. Batas-batas ini juga digugat dalam karya “jancuk”. Karya ini banyak menggunakan idiom musik etnik dayak yang dilantunkan dengan nyanyian oleh seorang mahasiswa Pasca ISI berwarganegara Malaysia. Musik ini seperti menyampaikan “peduli setan dengan batas geografis Negara.” Kita punya kesamaan, di Malaysia ada suku dayak begitu juga di Indonesia. Itu cukup menjadikan kita sebagai saudara.

karya yang lainnya, “cek sound” mempertunjukkan bunyi yang biasanya kita dengarkan saat sekelompok musisi melakukan cek sound sebelum pertunjukan. Cek sound bukan bagian dari pertunjukan tapi pendukung pertunjukan. Biasanya ketika para musisi melakukan cek sound, mereka hanya mencoba instrumen musik dan memastikan bunyi yang diproses oleh speaker (pengeras suara) bisa maksimal. Tidak ada komposisi, hanya terkesan sembraut, bising, karena memang tujuannya hanya “ngecek”. Tapi ada peristiwa bunyi disana, yang justru menentukan hasil pertunjukan. Cek sound yang tadinya hanya menjadi pendukung pertunjukan justru dijadikan sebagai pertunjukan itu sendiri. Logika mapan tentang cek sound dan pertunjukan dijungkir-balikkan seenaknya sehingga mencairkan batas antara cek sound dan pertunjukan.

*

Kita kembali ke pertanyaan awal, apa yang problematik di ruang kita berada? Apa yang promblematik dalam seni dan seniman? Batas-batas! Batas ruang orang-orang kota yang setiap harinya hanya menjalani hidup dengan kesibukan kantor dan para petani yang setiap hari ke sawah. Batas ruang antara Mahasiswa yang sibuk dengan tugas kuliah dan pekerja pabrik, gelandangan, pengemis, orang-orang miskin, yang setiap harinya bertarung melawan kemalangan. Batas ruang antara seni(man) dan bencana asap, petani, orang miskin.

Seni masih berbatas, belum “menjadi” bencana asap, letusan merapi, tangisan orang miskin, kemacetan dan belati bagi ketidakadilan. Apakah seni masih terlelap dalam ayunan “hiburan” dan gagal terjaga oleh realitas politik. Apakah garis, bunyi, gerak dan lakon masih asik dengan dirinya sendiri?

“Mungkin tidak semua karya seni yang dipertunjukkan malam itu berbicara tentang asap, orang miskin, kemacetan atau pencemaran lingkungan, tapi pertunjukan itu membawa semangat yang sama, menggugat batas-batas.”