Menjadi Pelopor Kemajuan Bangsa

Antara desakan kondisi dan panggilan jiwa seorang mahasiswa

“Beri aku seribu orang tua, niscaya akan aku cabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh orang pemuda, akan kuguncangkan dunia”
Ir. Soekarno

Mahasiswa, sebuah entitas yang diemban oleh putra-putri bangsa sejak status tersebut tersemat pada mereka di suatu sidang terbuka perdana institusi pendidikan tinggi. Berdasarkan definisi yang tertera pada KBBI, bahwa mahasiswa adalah sesederhana orang yang sedang belajar di perguruan tinggi. Namun, agaknya kata mahasiswa memiliki arti yang lebih mendalam dibanding kata student atau undergraduate student dan Indonesia mungkin adalah satu-satunya negara yang memakai terminologi mahasiswa di dunia. Perbedaan ini tercipta selain akibat kultur dan geografi, juga ada satu faktor penting yang sangat memengaruhi, yakni sejarah, ya sejarahlah yang menjadikan kata mahasiswa memiliki pengertian yang lebih kompleks.

Mari kita menilik sejenak tentang sejarah Kemahasiswaan Indonesia. Sejak Indonesia belum merdeka, kita sudah mendengar pergerakan yang digagas oleh mahasiswa STOVIA melalui Boedi Oetomo dan Indische Partij. Pergerakan yang diusung pada saat itu adalah upaya memperbaiki kualitas pendidikan dan mata pencaharian rakyat Indonesia khususnya di Jawa. Pergerakan-pergerakan ini mendasari lahirnya beberapa paham politik yang mulai menelurkan cita-cita kemerdekaan masing-masing. Beberapa tahun setelahnya, pemuda-pemuda Indonesia yang notabene merupakan mahasiswa dan lulusan dari perguruan tinggi semakin terbakar semangatnya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Munculnya pergerakan-pergerakan baru pada beberapa lingkup studi dan tergabungnya beberapa elemen kaum terpelajar mencapai puncaknya pada saat Kongres Sumpah Pemuda diadakan oleh PPPI pada tanggal 28 Oktober 1928.

Pergerakan mahasiswa juga dilanjutkan pada masa menjelang kemerdekaan dan Orde Lama. Keterkaitan antara pergerakan kemahasiswaan dengan perwujudan cita-cita kemerdekaan begitu erat sebab orang-orang yang berperan penting dalam kemerdekaan Indonesia diasah melalui kegiatan kemahasiswaan. Kegiatan kemahasiswaan yang cenderung represif pada pendudukan Jepang, tetap tidak mampu menahan mimpi mereka dalam memerdekakan Indonesia. Lain halnya dengan Orde Lama, kala ini pergerakan kemahasiswaan sudah memasuki tahapan yang lebih masif. Lahirnya partai-partai dan organisasi kemahasiswaan yang dilatarbelakangi ideologi menjadi skenario pergerakan kemahasiswaan Indonesia pada Orde Lama. Organisasi yang dimaksud adalah HMI, CGMI, PPMI, Gamsos dan GMNI.

Kisah pergerakan kemahasiswaan berlanjut di Orde Baru yang mungkin akan sangat panjang bila dituliskan. Pergerakan mahasiswa pada masa ini diisi dengan banyak konfrontasi antara mahasiswa dengan militer dan pemerintahan. Mulai dari pembatasan pergerakan di kampus, peristiwa pembunuhan, salah satunya Rene Conrad di ITB, hingga pembentukan Senat Mahasiswa dan lain-lain. Kemudian, tahapan selanjutnya adalah Reformasi 1998 yang bisa disebut sebagai salah satu pergerakan mahasiswa yang paling fenomenal sepanjang sejarah kemahasiswaan Indonesia. Memang kurang tepat apabila meruntuhkan presiden dan rezim sebagai prestasi, namun satu hal yang harus digarisbawahi kala itu bahwa kepentingan rakyat berhasil dimenangkan dan dimotori oleh mahasiswa.

Dengan menilik sejarah tersebut, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa memiliki peran yang sebegitu pentingnya terhadap keberlangsungan negara hingga kini. Namun kita harus sadar, bahwa arah dan bentuk perjuangan mahasiswa tentu tidaklah sama antara mahasiswa kala itu dan saat ini. Dua hal yang harus selalu ada dalam kegiatan kemahasiswaan, yakni bagaimana dengan pergerakan kemahasiswaan mampu mendorong mahasiswa tersebut untuk mengembangkan diri dan mendorong mahasiswa untuk menjadi solusi permasalahan bangsa.

Agar memperoleh perspektif yang tepat mengenai peran mahasiswa, kita harus meninjau sejarah dan kemungkinan yang terjadi di masa depan, sehingga pemaknaan terhadap peran tersebut sesuai dengan konteks yang ada. Ada sebuah momentum di depan yang harus bisa Indonesia manfaatkan, yakni bonus demografi. Suatu kondisi demografi saat jumlah warga yang berusia produktif (15–64 tahun) jauh mengungguli jumlah warga yang non-produktif. Hal ini akan berdampak pada meningkatnya produktivitas rakyat Indonesia sehingga mampu meningkatkan pendapatan per kapita bangsa. Dengan hal ini, meningkatkan kesejahteraan rakyat seharusnya bukanlah suatu hal yang tidak mungkin. Ditambah lagi dengan fakta bahwa selama beberapa tahun belakangan Indonesia mengalami peningkatan ekonomi sebesar 6 % di kala negara-negara di eropa mengalami krisis.

Di sisi lain, tampaknya jalan menuju Indonesia yang sejahtera dipenuhi dengan aral yang diakibatkan oleh keadaan dan kebijakan di masa lalu. Diantaranya sebanyak 90% cadangan minyak Indonesia dari sekitar 3,7 miliar barel dikuasai oleh asing. Tingkat KKN yang sudah mendarah daging sejak zaman orde baru dan masih berlanjut hingga sekarang pada setiap aspek-aspek seperti pendidikan, pelayanan masyarakat, rekrutmen, hukum, pembangunan infrastruktur, pajak dan lain-lain. Bahkan di Medan, untuk bisa masuk Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, para orang tua biasanya membayar uang pelicin sekian juta agar bisa masuk ke sekolah tersebut melalui jalan ilegal dan anaknya sepenuhnya sadar dengan hal itu. Lembaga Pemberantasan Korupsi, KPK, dikriminalisasi. Belum lagi masalah kesehatan yang belum bisa dirasakan oleh seluruh komponen masyarakat, narkoba yang semakin menjadi-jadi, masalah moral yang tak kunjung reda, kedaulatan energi yang mengkhawatirkan, rendahnya tingkat penelitian dan dana yang menyokongnya, padahal penelitian merupakan salah satu arena bersaing demi mewujudkan Indonesia yang berdaulat. Ditambah lagi, ketidaksiapan Indonesia menjadi negara industri dan bermental importir. Juga kondisi perpolitikan Indonesia yang seringkali dipicu untuk bergejolak.

Oleh karena itu, dengan berkaca pada sejarah bahwa mahasiswa dan perjuangan ibarat sebuah sepeda dan kedua rodanya, serta memandang jauh ke depan mengenai apa saja yang akan Indonesia hadapi, mari kita sama-sama mensintesis peran seperti apa yang sebenarnya dipegang oleh mahasiswa.

Pertama, Mahasiswa sebagai iron stock. Bagaimanapun juga mahasiswa merupakan seorang pembelajar yang terjuruskan pada masing-masing bidang keilmuan. Sejak dulu hingga sekarang dan masa depan, mahasiswa merupakan penerus setiap elemen kehidupan berbangsa, mulai dari Bidang pemerintahan, BUMN, BUMS, Pendidikan, Kesehatan, Entrepreneur, apapun profesinya mahasiswa diproyeksikan untuk meneruskan posisi tersebut kedepannya yang berarti kesiapan mahasiswa untuk menjalani posisi tersebut dipengaruhi oleh masa-masa saat menjadi mahasiswa yang ditempah melalui sistem pendidikan tinggi di kampus-kampus.

“Lulusan Universitas haruslah menjadi tiga hal : Pemimpin, Pemikir, dan High Level Professional”
Prof. Dr. Ir. Djoko Suharto

Kedua, mahasiswa merupakan bagian dari masyarakat itu sendiri. Sejarah mengajarkan bahwa dengan segala kapabilitas yang mahasiswa miliki, seyogyanya mahasiswa mampu menyolusikan permasalahan yang ada di masyarakat dan mengkritisi serta memperjuangkan bila terdapat kebijakan pemerintah yang dapat dibuktikan merugikan kepentingan rakyat. Tidak harus selalu turun ke jalan, karena gaya perjuangan boleh berbeda, namun asas yang dibawa dalam berjuang masihlah sama, yakni membela kepentingan rakyat. Jadi, selain sebagai social control, mahasiswa juga berperan sebagai problem solver dari permasalahan sains dan teknologi, seni, dan sosial humaniora.

“Jikalau seseorang yang telah menempuh pendidikan enggan untuk turun ke masyarakat, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali”
Tan Malaka

Ketiga, Inti dari pendidikan adalah untuk menjadi seorang furqan, yakni seseorang yang dengan ilmu dan pengetahuan yang ia miliki, mampu membedakan yang mana yang benar dan salah, yang baik dan buruk, yang tepat dan kurang tepat. Dengan demikian, dalam keseharian, seseorang yang terdidik seyogyanya menjadi guardian of value, terkait keilmuan dan aplikasinya, terkait norma dan moral, serta spiritual yang ada pada tatanan bermasyarakat. Mahasiswa harus bisa menyampaikan pemahaman yang benar terhadap suatu fenomena keilmuan, harus bisa menengahi konflik sesuai kapabilitas, harus bisa menilai suatu peristiwa dalam berbagai perspektif.

“Tujuan dari pendidikan adalah untuk membuat seorang manusia mengenal siapa tuhannya, mengetahui tujuan hidupnya, berakhlak yang mulia, dan mandiri dalam menjalankan segala tanggung jawab pribadi dan sosialnya.”
Dr. Adian Husaini

Keempat, Mahasiswa sebagai Agent of Change. Kutipan dari Soekarno diatas cukup untuk menggambarkan betapa pemuda sangat diharapkan untuk dapat mewujudkan harapan agar terciptanya tatanan kehidupan yang lebih baik. Mahasiswa harus mampu menjadi agen perubahan dari sesuatu yang tidak baik menjadi baik, sesuatu yang salah menjadi benar, sesuatu yang tidak tepat menjadi tepat dimanapun ia berada, sekecil apapun perubahan yang mampu ia buat. Perubahan itu seyogyanya selalu kita mulai dari diri sendiri, dari hal-hal yang kecil dan dari saat ini.

Dengan segala peran yang diemban, mahasiswa seharusnya siap untuk membuka mata selebar-lebarnya, bersiap untuk mendengar segala keluh kesah yang terjadi, memikirkan dan menyuarakan kebaikan dan keadilan, menyingsingkan lengan bajunya demi terciptanya suatu tatanan kehidupan bermasyarakat yang madani dan bermartabat, juga terciptanya kehidupan yang berketuhanan, berkemanusiaan, bersatu, berkerakyatan dan berkeadilan. Oleh sebab itu, menjadi pelopor kemajuan bangsa adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh mahasiswa dan lulusan universitas.

Sang Pelopor Kemajuan Bangsa adalah orang yang tidak menyerah untuk memberikan solusi terhadap permasalahan bangsa meskipun ia tahu bahwa bangsa ini memiliki begitu banyak permasalahan dan untuk melakukan hal itu ia sepenuhnya sadar bahwa jalan yang akan ditempuh sangat berat dan penuh aral melintang. Namun, keadaan takkan mampu menghentikan langkahnya di kala kehidupan dan cita-cita bangsa yang bermartabat dan sejahtera, serta Syurga Ilahi menjadi tujuan.

Kita harus mencontoh Sang Bapak Bangsa, Soekarno, di saat beliau harus diasingkan berkali-kali, diancam untuk dibunuh, dihalangi oleh teman seperjuangan yang berbeda paham sama sekali tidak mengendurkan semangatnya untuk memerdekakan Indonesia. Bang Ricky Elson yang punya karir bagus dan rasa hormat dari atasan dan lingkungannya di Jepang, ketika mendapat kesempatan untuk kembali ke Indonesia, beliau tidak menolak dan terus berusaha untuk membuat mobil listrik karya anak bangsa bukan hanya sekedar mimpi dan mampu diwujudkan, meskipun saat ini bendungan yang begitu besar sedang dihadapi, tidak menghalangi beliau untuk tetap berkarya di Ciheras. Buya Hamka yang saat itu pernah dipenjara dan menghasilkan tafsir Al-Azhar yang fenomenal. Dosen Teknik Mesin ITB, Bapak Zainal Abidin saat menjadi mahasiswa yang harus hidup pas-pasan dan tetap mampu menjadi mahasiswa terbaik di Teknik Mesin kala itu. Bapak Toto Hardianto yang memiliki prinsip bahwa hidup saya berhasil saat saya mampu memberikan manfaat dan hal itu beliau wujudkan dalam bentuk pengabdian diri sebagai dosen dan konsultan untuk KPK.

Contoh kontemporer lainnya dari sosok pelopor kemajuan bangsa adalah setiap orang yang berhasil mempekerjakan orang lain dengan jalan halal dan usaha yang baik, setiap orang yang mau turun ke masyarakat melakukan kegiatan abdi sosial tanpa memungut biaya, setiap orang yang menyebarkan manfaat sesuai kapabilitasnya, setiap yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri tetapi juga lingkungannya, bangsanya, serta setiap pemimpin yang mampu menginspirasi orang lain untuk berbuat kebaikan dan berbagi kebermanfaatan.

Ada satu pola yang sama yang ditunjukkan oleh para pelopor kemajuan bangsa, yakni keadaan takkan mampu menahan mereka untuk melakukan suatu yang besar.

Menjalani peran sebagai pelopor kemajuan bangsa merupakan sesuatu yang mulia. Itu semua harus dilakukan sebagai perwujudan dari rasa tanggung jawab kita terhadap tuhan, orang tua, bangsa dan desakan dari kondisi yang tidak akan berubah kecuali ada orang-orang yang rela untuk berkorban memikirkan dan memberikan kontribusi terbaik yang bisa ia berikan sebagai seorang hamba, seorang warga, seorang mahasiswa. Tentu saja jalan untuk berbuat kebaikan tidak pernah mudah, kegigihan dalam berjuang akan sangat diperlukan untuk berhasil melakukannya, namun bukankah tugas kita adalah berusaha sebaik-baiknya, sampai Allah sendiri yang menghentikan usaha kita?

“Fattaqullaahi mastatho’tum”
Q.S. 64 : 16

Afif Pajar

13114038

Sumber :

  1. Kamus Besar Bahasa Indonesia
  2. Arsip Pergerakan Kemahasiswaan Indonesia
  3. http://www.nuraminsaleh.com/2011/08/sejarah-pergerakan-mahasiswa-indonesia.html diakses pada tanggal 16 April 2017
  4. https://finance.detik.com/energi/2934513/90-cadangan-minyak-ri-dipegang-perusahaan-asing diakses pada tanggal 16 April 2017
  5. http://www.indonesia-investments.com/id/bisnis/risiko/korupsi/item235? diakses pada tanggal 16 April 2017
  6. http://www.indonesia-investments.com/id/tag/item31?tag=5916 diakses pada tanggal 16 April 2017
  7. http://bisnis.liputan6.com/read/2836969/jokowi-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-termasuk-yang-terbaik diakses pada 16 April 2017
Show your support

Clapping shows how much you appreciated Afif Pajar’s story.