Strange Story

Mungkin kau tidak akan pernah menyangka. Bahwa ini bukan sekedar labirin biasa. Bisa keluar dari sini saja sudah syukurnya minta ampun. Apalagi jika harus lari dari para Blaters. Mereka tidak meminta kita nyawa. Hanya saja, butuh keberanian kalau ingin keluar hidup-hidup.

John sudah mengatakan semua tentang kelemahan Blaters — robot-robot raksasa penghuni Oidium. Yodha sudah menjengkalkan kira-kira 15 Blaters. Tapi masih ada 1253 Blaters di luar sana, menunggu mangsanya. Siapapun bisa mengalahkan mereka, terutama jika dia berasal dari bangsa Oxhott. Manusia sepertiku mungkin bisa melebihi kekuatan bangsa Oxhott, karena bangsa Euxhett adalah bangsa yang paling kuat no.2 setelah bangsa Fresly.

“Tidak sekarang Karl, kekuatan jahat disana tidak tanggung-tanggung. Aku khawatir kita takkan bisa keluar hidup-hidup. “ gadis itu terus membuatku goyah. Menatap wajah tirusnya. Menguras kecantikannya.

Aku menatap hamparan bukit-bukit dan ladang-ladang. Penuh dengan bercak darah. Para Blaters menyisakan bagian tubuh mangsanya dan melemparkannya ke labirin ini lagi. Untuk diperlihatkan kepada kami, mungkin.

“Karl, aku tahu berapa kuatnya dirimu. Tapi kau tahu kejamnya mereka. Ingat Alexia?” aku mengangguk — gadis pejuang…pikirku.

Gadis dengan rambut merah batanya. Mengibas-ngibaskan pedang ke arah Blaters. Dari arah utara sejumlah ratusan Blaster siap memangsanya. Tak ada tanda-tanda ketakutan pada wajahnya.

“Allex! Kau bisa terbunuh!” aku diam saja ketika Perdy mencoba mengingatkan gadis keras kepala itu. “Mereka akan terus menambah pasukannya. Kau akan kalah!” teriaknya.

“Dan kita takkan bisa keluar.” Lirihku. “Kita pasti bisa keluar!” kami terkejut. Dia tersenyum. “Kalian tunggu sajalah, aku pasti bisa mengalahkan mereka.”

Allexia sudah mulai siap untuk maju. Saat tiba-tiba dari belakang pasukan para Blaters, sebuah kereta melaju cepat. Seorang Blaters — yang kutangkap — dia seperti pemimpinnya. Mengayunkan tongkat besinya. Dan…

“Allex!!!” gadis itu terjunkal ke belakang. Darah segera mengucur deras dari dahinya. “Allex!” dia terbangun — meski ku tahu dia merasakan sakit yang sangat. Belum lagi tubuhnya bangkit. Benda berjeruji tiu berusaha mengenai kepalanya.

Perdy segera mengambil ketapel. Dan tepat mengenai kabel yang terhubung pada mata si pemimpin Blaters tersebut. Sehingga ayunannya tidak mengenai Allexia. “Cepat lari! Aku akan mengalihkan mereka!”