Kehilangan Kau dan Memang Sudah Semestinya. Kehilangan Memiliki atau Sebelum Memiliki

Aflaha Rizal
Sep 8, 2018 · 3 min read
Foto: Aflaha Rizal

Aku memang tak lebih adalah seorang tempat sampah bagi masalahmu, curhatanmu, dan aku mampu menampung itu dan mendengar itu darimu. Apakah kurang? Aku tahu, tak ada yang menginginkanku, dibandingkan kamu yang mampu menemaniku di saat aku memang butuh dan kamu demikian, membutuhkanku.

Pertemuan kita memang jarang. Di sebuah kampus itu, dan hanya beberapa pertemuan kita saja dan tidak terlalu sering. Tetapi, seberapa cinta itu tumbuh tanpa harus seberapa sering kita bertemu bukan? Aku tahu mengenai kamu, ketika kau ditinggalkan seseorang dan bahkan harga dirimu telah diambil, aku menerima kondisimu dan tanpa perlu melihat kamu dari itu. Yang kubutuh, cinta darimu dan berjalan bersamaku melintasi kehidupan yang keras dan gila ini.

Apakah aku salah membalas dan menunggu perasaan setelah kau mengungkapkan terlebih dahulu? Lantas, mengapa setelah itu kau meninggalkan? Kau takut terlalu dalam? Kau tahu aku bukan? Yang tanpa menyakiti siapapun tanpa perlu ragu untuk hidup denganku hingga aku menemukan titik kebahagiaan setelah penderitaan banyak kulewati.

Aku pernah dimiliki siapapun, kau dan aku bercerita mengenai mantan kekasih kita masing-masing. Kau tertarik mendengar mantan kekasihku yang terakhir, berketurunan cina, yang pernah membahagiakanku. Sekarang, aku bahagia denganmu dan duri kemudian kau beri untukku.

“Aku suka padamu.” Katamu.

“Hah?” aku bingung saat mengenai itu. “Apakah kamu sayang padaku?”

“Perlu aku tegaskan? Iya,” dan memang, aku tak salah kau mengatakannya itu padaku.

Aku pun menunggumu, karena itu, seorang yang telah mengambil harga dirimu, aku menerima dalam segala kondisi apapun. Aku mencintaimu dari apa yang telah hilang itu. Aku percaya, Tuhan selalu berbaring denganmu dan mau untuk merubah dirimu jika kau mau. Denganku. Aku pernah berkata, “Aku mau membimbingmu,” tetapi, kau menghilang dan pergi dariku.

Ya, kau kehilangan seorang lain, aku juga kehilangan seorang lagi. Aku bahkan menempatkanmu sebagai orang yang terakhir sebagai pelengkapku. Dengarlah, karena aku memang orang yang tak diinginkan di tempat ini, kampus ini, kehidupan ini. Maka, jadilah penguatku, jangan sampai aku melahirkan pikiran ‘Kehilangan alasan untuk hidup dari apapun yang hilang harapan’.


Nyatanya, tak lama, saat aku mengusahakanmu untuk memperjuangkanmu dengan perlahan, kau dengan seorang yang lain. Bahkan kau pernah berkata padaku, bahwa kamu memang lelah dengan semua hal percintaan, dan kau trauma, di saat kau telah hilang harga dirimu karena seorang yang keji mengambilnya dengan cara memaksa. Aku disini, menerimamu. Aku mau membimbingmu. Namun, hal itu berbanding berbalik.

Seperti bom yang jatuh tepat mengenaiku dan hancur perlahan, berkeping-keping. Bahkan, di dalam kepalaku yang membayangkan, aku mati karena bom itu dan aku tidak akan hidup kembali di dunia keras ini, yang keji ini dari manusia yang lain.

Kata-katamu yang penuh takut itu, bohong kemudian. Seseorang yang datang padamu, entah pikiranku ia memang paling mampu daripadaku untuk meruntuhkan trauma mu dan masa lalumu. Aku kalah bahkan saat aku mengerti, aku memang jatuh denganmu. Aku ingin menggenggammu. Bahkan aku ingin bahagia di antara kehidupanku yang memang sadar, kegelapan semuanya.

Nampaknya, kau jatuh cinta padanya. Aku, terbuang menunggumu. Tapi, memang saatnya aku bodoh kembali. Aku menunggumu dalam doa. Dalam sholatku, aku tak lupa menyebut namamu, mendoakanmu, jika kelak kau bergaris takdir untukku. Mungkin, kau dengan seorang yang lain. Aku tidak mau menyumpahimu yang bahagia. Jika kelak Tuhan menakdirkan kita, tak ada yang tahu bukan misteriusnya? Jika tidak, maka memang berat untuk melepaskannya. Dari kini yang kucoba.

Sekali lagi, aku menunggumu. Dalam doaku. Dalam kalimat kepada Tuhan yang memelukku. Aku mendoakanmu, ragamu yang hilang ingin kukuatkan untukmu. Aku ingin kau menjadi alasan untukku bertahan hidup. Aku sayang padamu, sekarang, dan untuk kita di masa nanti. Kelak pertemuan kita kembali pada takdirnya.

08 September 2018

Written by

Sudah tidak ada manusia dalam manusia di dunia ini. Mereka menerima yang cahaya daripada kurang namun kejujuran isinya.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade