Mengapa Saya Menganggap Dunia Ialah Perihal Bangsat Beserta Orang-Orangnya Dalam Kepala Saya
In gentle way, you can shake the world
-Mahatma Gandhi
Kapanpun, hidup tidak akan pernah baik-baik saja. Meski kau bilang hidup akan baik-baik hingga esok, dan seterusnya. Kau punya dua hal yang satunya kau lupakan, tidak akan baik-baik saja yang kau lupakan. Satu asumsi yang kemudian sudah berlahiran mengenai bahwa hidup akan baik-baik saja seterusnya. Dan kau akan bahagia seterusnya. Saya memang lahir dengan kepala yang rumit, waktu kecil saya sudah bertanya kepada Ayah saya. “Mengapa Ayah menelepon di atas genteng, pada saat membenarkan antena TV?”
Dengan polosnya saya, Ayah saya menjawab, “Karena lebih nyaman berada di atas sana.” Kemudian, saya bertanya-tanya mengapa Ayah saya melakukan itu dan kenapa tidak melakukannya di ruang tamu, atau kamar. Mengapa berada di atas genteng.
Kembali pada hal yang mesti saya sampaikan. Saya mengumpulkan kepala kejadian yang membuat saya berpikir di umur yang sekarang ini, 21 tahun. Mengapa manusia semakin hari semakin menjengkelkan dan semakin mampu berbuat sesuatu hal menyakiti orang lain? Saya mencampuri beberapa kejadian kemanusiaan yang berdarah. Misal, peristiwa Tanjung Priok tahun 1984, penumpasan 30 September 1965 yang dimana para manusia yang dibunuh karena aliran, lalu segala hal kejadian kecil yang dapat kita beri asumsi sendiri.
Saya hanya bisa bereja lewat kepala saya sendiri. Memang rumit jika digariskan mengapa manusia seperti itu. Bahkan akan ada seorang bertanya kepada saya, “Apakah saya manusia paling putih dan tidak pernah melakukan hitam kesalahan kepada orang lain?” tentu, barangkali pernah melakukannya. Tetapi, saya tidak ingin menjelaskan itu. Seperti itulah yang ada di kepala saya, saya akan menjelaskan ini, tetapi saya tidak menjelaskan itu yang bersifat kepada balasan untuk diri saya sendiri. Rumit dan egosentris memang.
Saya menyisipkan manusia yang melakukan korupsi. Terdengar sebuah berita paling baru, anggota DPRD Malang tersangka korupsi secara berjamaah. Ada beberapa asumsi berasal dari kepala saya kepada perilaku-perilaku ini. Mungkin, ia memiliki seorang istri yang cantik dan seksi, yang butuh kebutuhan secara menuntut agar kecantikan terjaga dan semakin menggoda. Atau kebutuhan dari sisi ego tertentu.
Manusia baik dan jujur memang sudah dikit, atau jarang, lebih banyak sisi hal kebangsatan yang saya temukan. Barangkali, kepala saya memikirkan soal itu. Kejahatan, korupsi, pengasingan, dan pembulian. “Kalau memang seperti itu, dunia memang sudah hilang jiwa manusianya,” kata Antra,nama yang saya manipulasikan dari aslinya, seorang tukang ojek yang merupakan teman saya di rumah. Antra seorang Bapak-Bapak, yang tengah malam merokok dan membutuhkan bicara yang banyak.
Manusia bisa melakukan persekusi kepada manusia lain. Pada contohnya, saya mengambil diri saya. Saya menyukai dunia membaca dan menulis, sesekali fotografi sebagai alasan pelampiasan diri saya yang lain(bahkan saya tidak berniat menjadi fotografi). Saya mungkin memilih jalan menyalahkan dunia, meski dia tidak salah apa-apa. Tetapi, jika ditambah beserta orang-orangnya, maka akan masuk ke dalam mengapa dunia ialah perihal kebangsatan yang mesti diterima walau duka banyak dimana-mana.
Saya memang anak yang dijauhi dari teman-teman saya. Suatu asumsi menyatakan di kepala mereka sendiri yang menjauhkan saya. Saya dijauhkan mungkin karena saya pendiam, itu salah satunya. Ketika memang waktunya saya mencoba dekat dengan teman, mereka menganggap bahwa saya jangan terlalu dekat karena mereka memang menggariskan tubuh mereka untuk tidak menerima saya.
Tanpa melakukan kejahatan. Dan, suatu hal itu terjadi. Mereka memberi suatu percakapan tentang saya, memanggil saya dengan sebutan tak pantas. Berbeda ketika saya melakukannya dengan cara berkelahi di masa SMP saya, hingga berdarah dan tak masuk sekolah selama dua minggu. Dan, berlanjut hingga masa SMA yang semakin menjadi-jadi beringasnya seorang lain kepada saya.
Mereka tidak menyukai saya membaca buku. Dan, bukanlah urusan bagaimana seorang lain menilai seorang yang lain. Tidak begitu peduli bahwa apa yang saya lakukan jauh dari kata lelaki. Lelaki? Bagaimana suatu asumsi kebangsatan itu lahir? Lelaki yang paling lelaki, adalah yang menyukai bola, basket, dan hal yang menunjukkan identitas kelelakian. Menurut saya begitu stereotipe kepada seseorang yang jauh melakukan sesuatu dari kata lelaki.
Membaca menurut saya adalah kegiatan laki-laki, jika laki-laki suka membaca. Mereka akan tahu dan mencoba mengurai lebih jauh yang penulis sampaikan. Bisa melalui novel, buku pemikiran, dan puisi yang bisa membawa seorang lain untuk mencoba menulisnya. Perihal persekusi, pada kelas awal SMA, saya pernah menemukan buku saya terobek dari tangan seorang lain yang mesti saya hajar. Buku itu Emha Ainun Nadjib.
Tetapi, saya tidak menemukan siapa mereka. Jika perlu dan memang perlu, saya bisa melibasnya dan apa hak mereka mempersekusi kesukaan saya sendiri? Dan, sampai saat itu tidak pernah ditemukan siapa orangnya. Pertanyaan lagi, mengapa manusia sekarang terlihat memang jauh dari kemanusiaan akhir-akhir ini?
“I exits only as a whole; my only claim is to be natural, and the pleasure I feel in a action, I take as a sign that I ought to do it.”
- André Gide, The Immoralist
Saya pernah melakukan apapun menurut kepribadian saya secara alami dan memang paling alami dari jiwa saya yang lahir dan menjalankannya. Saya berharap memang ada seorang yang mampu menerima saya apa adanya. Nyatanya, hidup berkembang ke arah yang membuat saya berpikir terhadap manusia sendiri. Kenapa akhir-akhir manusia lebih memilih berteman kepada manusia yang mampu dengan kelengkapan dunia beserta hal bersifat materil?
Jika disanding dengan realistis, saya berpikir demikian dan akan saya lakukan. Tetapi, mengapa kadar hal itu berlebihan di jiwa manusia yang saya temukan? Yang sudah saya jelaskan di bagian saya dijauhkan oleh teman-teman saya karena saya pendiam, perihal lain, saya memang tidak memiliki apa-apa yang melengkapi hidup saya. Saya masih bersyukur hidup dengan satu motor. Teori memang membenarkan dan itu paling nyata, seperti di atas langit masih ada langit.
Saya tidak memikirkan apa yang memang tak saya miliki. Tetapi, mengapa saya jadi memikirkan demikian? Mantan kekasih saya, sebagai contoh, di suatu SMA tetapi berbeda sekolah, putus kemudian karena perihal kebohongan yang saya dapatkan: tak ingin pacaran. Dan, apa yang saya temukan? Ia beralih kepada lelaki satu sekolah yang memang terkenal secara rupa wajahnya dan segala kehidupan kekayaannya. Ia sekolah membawa mobil.
Pertanyaan kembali, mengapa siswa menjadi alat untuk memperlombakan kekayaan di suatu sekolah tertentu? Saya melihat bagaimana anak-anak lain sekolah yang berjuang dengan kerja keras mereka sendiri. Tanpa mesti memikirkan apa yang mereka punya. Dan, kebangsatan manusia terhadap kompetisi kekayaan terlihat pada pengalaman saya sendiri. Hingga berakibat di sekolah saya sendiri.
Barangkali, tidak begitu iri hati. Tetapi, mengapa lahir seperti itu? Sulit untuk menemukan jawaban selain kegengsian dan ego beserta kebangsatan di dalamnya.
“Hidup mesti realistis. Semua membutuhkan uang. Perempuan pun membutuhkan uang.” ucap seorang lain, yang saya temukan. Saya mengerti, lalu, mengapa demikian dengan kadar yang berlebihan? Saya membayangkan hal itu membunuh saya perlahan jika saya sudah mengetahui tetapi diingat secara terus menerus.
Banyak manusia mencari uang dengan apapun yang mereka lakukan. Dengan cara jujur atau dengan cara yang gila. Tampaknya, orang-orang jarang suka kejujuran. Kita bisa melihat di berita-berita, seperti korupsi. Sesuatu hal yang muncul dari diri ego mereka yang tertangkap yang tampil di berita-berita. Barangkali, itulah yang saya temukan.
Saya mengutamakan diri saya sebagai makhluk yang melihat keganjilan diri manusia lain. Meski saya juga ganjil karena saya memang rumit. Tampaknya, itulah mengapa saya jarang diterima orang-orang untuk relasi berteman. Jika kalian bertemu denganku, aku akan mengajakmu bicara dan minum kopi, lalu ramah bersama. Meski kesan pertama kau bertemu saya, wajah saya memang tidak menginginkan orang hadir untuk saya dan penuh sinis sendiri, dan pendiam. Alangkah baiknya memang kau mesti tahu siapakah saya.
Jika kau tidak anggap saya, itu adalah asumsi kamu sendiri. Saya akan ramah padamu jika memang kau memperlakukan saya sebagai seorang yang benar ingin membutuhkan percakapan. Percakapan yang terhindar dari hal yang tidak mampu saya gapai mengenai kemewahan. Tetapi, saya akan berbicara padamu mengenai segala hal, tentang manusia menindas manusia lain, hobi, kopi, atau segala permasalahan yang terjadi.
Jika berbicara mengenai seputar pakaian bagus, kota yang megah, atau menumbuhkan segala hedonisme-nya sendiri, saya akan meninggalkan percakapan yang menurut saya jadi pusing sendiri dan kesal sendiri. Saya memang tak suka, dan saya jujur.
Saya teringat kembali, seorang perempuan, yang memang dekat dengan saya di kampus, hingga saya mencintainya dan ia meninggalkan dengan seorang yang lain, ia mengatakan. “Dunia nyata dan dunia buku sungguh berbeda.” Dan saya mengerti, tetapi saya bisa menganggap bisa jadi di dalam buku ada kenyataan disana yang diambil dari seorang penulisnya sendiri.
Ketika ulang tahun saya hendak tiba, ia mengucap kembali. “Semoga semakin mengerti dunia nyata yang tidak selalu dipandang lewat buku.” Saya sungguh bersyukur jika ia memang menerima keadaan saya dan keterbatasan saya. Di antara kekerasan manusia yang terjadi. Apapun, saya memang dengan buku jika waktu saya kosong.
Sungguh, memang demikian saya mencintai seorang yang memang saya terima kondisinya. Tetapi, perihal lain datang, ketika harapan tiba, maka kesakitan dari seorang yang kita harapkan tiba. Dan, ini berakibat pada manusia lain yang suka menyakiti di saat seorang yang disakitinya itu mengharapkannya. Meski saya tahu, ia bukan perempuan yang menyakiti perasaan orang lain, selain seorang lelaki yang pernah menjadi mantan kekasihnya, menyakitinya.
Saya tumbuh dari kesakitan dari manusia lain dari perilaku beringas mereka sendiri.
Terakhir, saya menjelaskan soal cengin. Atau bisa dibilang, dicengin. Saya menemukan perihal ini di kampus saya sendiri. Ketika saya merasa tersinggung, mereka akan bilang, “Baper lo. Cuma bercanda.” Lihat, betapa apapun yang mereka lakukan dengan seenaknya dan dijawab seenaknya dari pelakunya sendiri kepada korbannya sendiri. Meski, saya memang tahu hidup tidak perlu serius. Tetapi, adakah penghiburan diri tanpa mesti meledek atau menjatuhkan seorang lain dengan sebutan yang menyakiti dirinya?
Saya memang hidup mendapatkan perihal seperti itu. Dan, jangan menganggap saya penuh lika-liku. Semua manusia punya lika-liku masing-masing.
Kepada manusia lain, yang memang punya rasa seperti ini, saya sarankan berhenti menggunakan apa yang kamu lakukan agar penghiburan terjadi. Penghiburan tidak seperti itu. Itu sama saja kau melakukan kebangsatan dirimu sendiri dengan asalan penghiburan untuk memberikannya kepada seorang lain yang tidak tahu apa-apa.
