Seperti Itulah, Kebisuan

Aflaha Rizal
Sep 3, 2018 · 2 min read
Foto Oleh: Kelly Tara(http://thescienceexplorer.com/brain-and-body/isolation-dark-drives-humans-brink-insanity-studies-find)

Seperti itulah, kebisuan. Aku bisa menggenggam apapun dalam keramaian dan orang yang tak menginginkanku. Aku pernah berkata padamu, “Aku hanyalah makhluk penyendiri, tak diinginkan, dan hidup dalam kekosongan dan tidak pernah satupun mereka menghiburku.”

“Siapa?” tanyamu.

“Semuanya.”

“Iya siapa?” pertanyaanmu membuatku kesal. “Kamu tidak pernah berada di lingkaran itu. Tapi, kamu yang berada di lingkaran itu.

Aku tidak mengerti, barangkali seperti itu. Pernyataan kau serupa perjalanan yang lapang dan tak ada rambu marka jalan. Aku berada di jalan itu, tetapi aku tidak ada di jalan itu. Seperti itu yang kubayangkan. Seperti itulah, kebisuan. Kebisuanku di keramaian. Dan kau, telah meruntuhkan bagian dalam diriku.


Ketika aku kehilangan kau, maka kau bisa saja dengan siapapun. Atau kau akan mengeja dirimu sendiri dari seorang yang keras memperjuangkanmu, daripada aku. Ada sesuatu hal yang membuatku mampu harus mengejarmu, memperjuangkanmu. Ya, kau mengungkapkan pada bagian area dirimu. “Aku mencintaimu, dari kehidupanku yang kelam, keperawananku yang hilang, kau mampu berada di bagian area lingkaranku.”

“Tak ada,” katamu. “Tak ada apapun yang mampu kita rajut.”

“Aku bisa,” jawabku.

“Aku tak bisa berada dan terbuka bagi siapapun.”

“Ayolah.”

Lalu, kau bisu. Aku bisu. Dunia seketika bisu dan tak ada pesta apapun disana. Apakah dunia tanpa pesta dan bisu seakan kelam memakan siapapun dan membunuh siapapun? Di antara kesepian mereka dan kelam mereka? Kau tahu, mereka serupa pembunuh yang diam-diam membunuh kita perlahan.


Sekali lagi, aku mencintaimu dalam keadaan apapun dan keperawananmu yang hilang. Tak ada orang kota yang mencintaimu atas keperawananmu yang hilang. Jika bisa, aku ingin membunuhnya dan mematikannya perlahan seorang yang mengambil keperawananmu. Dan, tak ada siapapun polisi yang tahu siapa pelaku pembunuhnya. Kau bilang, “Tak usah.”

Aku kehilangan kau. Di saat aku tengah merajut cinta dalam setiap penerimaanku dalam kau yang kelam. Harga diri yang direnggut. Apakah aku cukup atau kurang bagimu?

Satu hal. Ada beberapa bagian derita lain yang siap membuatku bunuh diri. Tetapi, aku ingin bertahan. Bertahan. Aku menghadapi sebagian kau yang hilang dalam kebisuanku.

03, September 2018

Sudah tidak ada manusia dalam manusia di dunia ini. Mereka menerima yang cahaya daripada kurang namun kejujuran isinya.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade