Kemewahan di musim kemarau
Sebagai warga DIY khususnya sleman saya melihat fenomena “kemewahan” yang dinikmati banyak warga di lingkungan saya pada musim kemarau, padahal kemewahan tersebut merupakan pemborosan, mengganggu pengguna jalan sekaligus perusakan fasilitas umum, sebuah kegiatan ajaib yaitu menyirami jalan aspal, dengan alasan yang ajaib pula:
“Men ora panas mas dalane.” atau “Men ora bleduk(menimbulkan kepulan debu ketika dilewati kendaraan) mas.” Kegiatan ajaib seakan sudah menjadi kegiatan ikonik di Indonesia hingga layak masuk ke adegan-adegan film, padahal toh mereka tidak nongkrong atau tiduran di atas jalan tersebut.
Pemborosan. Disaat beberapa daerah di DIY mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih, terutama di Kabupaten Kulonprogo dan Gunungkidul justru warga yang dianugerahi dengan air membuang-buangnya untuk kegiatan yang sebenarnya tidak perlu, mengganggu orang lain dan sekaligus merusak aspal, air yang menggenang di atas aspal akan merusak ikatan antara aspal dengan campurannya, sehingga akan timbul lubang, awalnya kecil, namun lama kelamaan lubang kecil tersebut apabila terisi air lagi maka lubang tersebut akan membesar, proses ini akan terus berulang. Memang saat musim hujan hal ini tidak dapat dihindari, namun alangkah lebih baiknya pada musim kemarau kita tidak melakukan hal yang dapat merusak aspal juga, toh kita sendiri yang akan merugi.
Kita penduduk pulau jawa, menikmati kemewahan akan jalan aspal, di pulau jawa aspal ditumpuk dengan aspal baru lagi apabila ada yang berlubang, aspal tidak dikeruk dulu karena alasan memakan waktu proses yang cukup lama, namun lama-kelamaan tinggi jalan akan semakin naik, hal tersebut akan memaksa rumah disekitarnya untuk naik pula, karena apabila tinggi jalan lebih tinggi daripada tinggi rumah maka apabila musim hujan meskipun tidak banjir air dapat masuk kedalam rumah.
Untuk daerah dengan beban jalan yang tidak terlalu tinggi (intensitas kendaraan dan berat kendaraan yang lewat tidak tinggi) sebenarnya cukup menggunakan paving block atau konblok kae hlo nek rareti wis jan, karena memiliki beberapa kelebihan, seprti contohnya: masih ada celah untuk air masuk ke tanah, bahkan ada beberapa yang modelnya memang memiliki lubang untuk mengalirkan air ke tanah, selain itu apabila ada kerusakan lebih mudah diperbaiki secara mandiri di bandingkan dengan aspal yang membutuhkan alat dan keahlian khusus, memperbaiki hanya bagian-bagian tertentu yang rusak pun lebih mudah dibandingkan dengan aspal, dan sebenarnya modern ini sudah ada alat khusus untuk memasang paving block sehingga bisa lebih cepat dan efisien.
Semoga kita bisa lebih bijaksana dalam menyayangi fasilitas bersama, dan instropeksi diri untuk tidak membuang-buang air bersih yang mungkin sangat dibutuhkan oleh orang lain.