Bincang-bincang Siang dengan Ksatria

“Informatika berjiwa satria. Tidak pernah mengenal keluh kesah.” Ya, begitulah lirik dari Mars Himpunan Mahasiswa Informatika Institut Teknologi Bandung (HMIF ITB). Ada satu kata yang menarik, Satria (atau Ksatria). Menurut wikipedia, Ksatria berasal dari bahasa sansekerta yang berarti kasta atau warna dalam agama Hindu. Pada zaman dahulu, tugas utama seorang kssatria adalah menegakkan kebenaran, bertanggung jawab, lugas, cekatan, pelopor, memperhatikan keselamatan dan keamanan, adil, dan selalu siap berkorban untuk tegaknya kebenaran dan keadilan. Pada zaman sekarang, kesatria merujuk pada profesi seseorang yang mengabdi pada penegakan hukum, kebenaran dan keadilan prajurit, bisa pula berarti perwira yang gagah berani atau pemberani. Ada beberapa kata yang bisa di-highlight, yaitu bertanggung jawab dan pemberani. Seseorang yang kami ajak berbincang-bincang kala itu di Jumat siang memenuhi profil di atas.

Adalah Muhammad Akmal Pratama, seorang mahasiswa Teknik Informatika, yang kami sebut ksatria. Kenapa? Ada beberapa hal, yang nantinya akan dijelaskan dan dijabarkan.

Kak Akmal yang merupakan angkatan 2015 ini berasal dari Jakarta. Dahulu, ia menempuh pendidikan di SMA Negeri 78 Jakarta. Saat ini, ia sedang menjalani pendidikannya di Institut Teknologi Bandung.

Menjadi mahasiswa Teknik Informatika ITB pastilah tak bisa luput dari keanggotaan himpunannya, HMIF ITB. Sebagai massa himpunan, Kak Akmal berada di divisi Aksara. Divisi ini dipilih oleh Kak Akmal karena ia ingin menyeimbangkan keorganisasian dengan akademik. Seperti yang telah kita ketahui bersama, divisi Aksara bergerak dalam hal akademik, sehingga praktisnya, tanpa perlu ribet-ribet lagi, Kak Akmal menjatuhkan pilihan divisi Aksara semenjak pertamakali menjadi massa himpunan — atau biasa disebut magang. Pengalaman menarik yang Kak Akmal bagikan adalah, ketika kumpul perdana divisi Aksara, pizza menjadi suguhan utama. Selanjutnya, hal yang membuat Kak Akmal betah di divisi ini adalah karena saat itu Kak Akmal mengenal kadiv, serta karena divisi Aksara berada di bawah PSDA, maka tak berbincang-bincang betukar pikiran dan berdiskusi sangat sering dilakukan. Yah, Kak Akmal memang suka sekali berbincang-bincang asik.

Topik selanjutnya adalah mengenai perkuliahan. Iseng, kami bertanya siapa sajakah dosen oke dan yang kurang oke. Kak Akmal berbagi bahwa dosen yang dirasa paling enak jika mengajar adalah Pak Imam. Ditambah dengan opini (menurut Kak Akmal) bahwa dosen yang paling pintar di Prodi Informatika adalah beliau. Selanjutnya, Kak Akmal menyebutkan dosen yang strict saat mengajar, yaitu Pak Rila. Bahkan, saat di kelas pun, mahasiswanya tidak ada yang diperbolehkan untuk sekedar minum air putih, apalagi makan dan membuka gawai. Wah bisa-bisa “habis tuh. Lucunya, Pak Rila “memperbolehkan” mahasiswanya untuk tidur. Namun, untuk seorang dosen strict seperti beliau, kurang rasanya jika tidak ada “obat” bagi mahasiswa yang tidur. Hati-hati saja, jika sampai Pak Rila tahu mahasiswanya tidur, maka beliau akan langsung menunjuk mahasiswa tersebut, beliau suruh maju, dan mengerjakan soal — yang seringkali soalnya hasil iseng Pak Rila sendiri.

Saat berbincang perihal perkuliahan, Kak Akaml berpesan kepada kami: “Usahakan untuk magang di tingkat dua, bagi kalian yang nantinya berencana bekerja di bidang ke-Informatikaan.” Magang itu penting, menurut Kak Akmal. Karena dari magang, kita akan mendapatkan ilmu-ilmu yang belum kita dapatkan di pendidikan formal perkuliahan. Menurut Kak Akmal juga, mengikuti perkuliahan saja tidak cukup untuk memenuhi qualifications dunia kerja. Sehingga haruslah belajar sendiri, mencari pengalaman, dan melatih kemampuan hardskill. Lebih lanjut, Kak Akmal juga memberitahu kami, bahwa jika ada tugas besar, usahakan untuk mengambil porsi kerja yang banyak atau besar. Dengan mengambil porsi yang banyak, memang akan lebih sibuk dan chaos, namun sebenarnya tugas besar adalah wadah dimana kita bisa benar-benar mengembangkan hardskill yang dimiliki. Juga, nanti akan ada waktunya ketika teman-teman kita mulai ambis dengan mengambil porsi yang besar.

Berbicara mengenai hardskill dan softskill, ketika ditanyai mana yang lebih Kak Akmal utamakan, ia mengaku lebih mengutamakan hardskill. Kak Akmal mengaku ia mendahulukan akademik dibandingkan dengan keorganisasian.

Berkuliah di jurusan teknik informatika tentunya memiliki banyak sekali konsekuensi, di antaranya adalah banyaknya tugas — baik tugas besar maupun tugas kecil, materi yang dikebut, ujian, praktikum, dan juga pekerjaan rumah. Penat dan jenuh tentunya pernah dirasakan oleh Kak Akmal, dan cara dia untuk mengatasi kesuntukan yang seringkali melanda adalah dengan ngobrol-ngobrol santuy dengan teman dekat. Kak Akmal mengatakan bahwa dengan mengobrol dan bercerita dapat mengurangi beban serta mampu memperbaiki mood.

Mengenai sebutan ksatria di awal tulisan ini, terdapat sebuah alasan. Kami bertanya, dengan tuntutan akademik sebanyak dan seberat itu, pernahkah terbesit di pikiran Kak Akmal bahwa Kak Akmal salah memilih jurusan. Ia menjawan pernah. Namun, karena tanggung jawab yang Kak Akmal miliki, sudah seharusnya dia bertahan dan tetap berada pada pilihan yang awalnya ia pilih. Konsisten. Ada beberapa hal yang membuat Kak Akmal bertahan. Pertama, ternyata di teknik informatika, ia bisa menemukan hal-hal baru yang menarik minatnya dan Kak Akmal sadar ia ingin berfokus pada hal menarik tersebut. Yang kedua adalah, banyaknya lomba-lomba yang bisa diikuti. Yup, Kak Akmal ternyata menyukasi kompetisi. Dengan berkompetisi, Kak Akmal bisa belajar lebih.

Akhir perbincangan kami dengan Kak Akmal ditutup dengan sebuah quotes: “Jika kam memudahkan urusan orang lain, niscaya Allah akan memudahkan urusanmu pula.”

Pewawancara:

  1. Vian — 102
  2. Akhmal — 226
  3. Ali — 335
  4. Irfan — 117
  5. Isa — 115

Link Video:

https://drive.google.com/file/d/1yrQzdx_f63ar0pkQ3Xzw-mgOhc_03z7-/view?usp=sharing