Arti Kota Asalmu

Saat tiba giliranku menjawab pertanyaan, seberapa berartinya kota kelahiranku, aku merepotkan diriku menyusun kalimat menakjubkan, alih-alih berkata jujur: tidak ada artinya. Aku merasa akan diremehkan bila berkata apa adanya, atau setidaknya, tak seantusias orang sebelumnya. Tapi aku tak terbiasa dengan diam agak lama ketika pandangan berpasang-pasang mata mengarah kepadaku. Maka aku berbicara sama cepatnya dengan otakku—yang memperoleh asupan micin setiap hari — berpikir dan berbual-bual tak tentu arah. Tentang dawet yang terlalu manis, layang-layang yang masih punya tempat untuk terbang, hingga kedamaian yang pasti diperoleh selama tidak masuk STM. Begitu aku berhenti bicara, orang-orang memandangku sama persis seperti yang kulihat dalam bayanganku bila benar-benar mengatakan kota asalku tak berarti apa-apa. Jalan sepi dan aku tak ingin sampai di rumah. Aku ingin berdua saja dengan bayanganku, tapi ia pun pergi saat malam tiba dan kota asalku telah mengabaikan sebuah lampu jalan sehingga ia tak sudi mempertemukanku kembali dengan bayanganku yang telah pergi. Tapi tak ada lampu jalan lain. Meski tak berarti apapun ia satu-satunya lampu jalan untuk bersender. Lampu mati memang sudah seharunya mati. Bila ia berusaha untuk tak tampak mati, tak seorangpun akan menyadari dan mencoba memperbaiki. Tapi lampu kota asalku lebih tahu dari siapapun juga: kota ini telah mengabaikannya sekalipun ia tak menutup-nutupi dirinya telah mati.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.