Puisi, Asmara dan Toket yang Terlalu Turun

Aku tak pernah mengerti dimana letak kebagusan, juga ketidakbagusan, puisi. Kalimat itu tak dapat dipercaya bila keluar dari seorang Dea Anugrah, namun tak perlu diragukan bila terucap oleh korban bulu babi sepertiku.

Puisi tak membuatku bergairah sebagaimana prosa atau novel. Membaca buku fiksi (sekalipun seaneh Kiat Sukses Hancur Lebur) lebih mudah ketimbang kumpulan puisi. Membaca puisi selalu membuatku merasa membuang-buang waktu yang sebenarnya bisa kuhabiskan untuk menyelesaikan novel. Karenanya dua hari cukup bagiku untuk membaca satu kumpulan cerpen, sementara kumpulan puisi bisa memakan waktu hingga dua bulan.

Aku tidak benar-benar punya alasan untuk membaca puisi, sebenarnya. Seperti halnya rokok, aku bisa saja tak menyentuhnya sama sekali, dan hidupku akan tetap baik-baik saja (Tadinya ingin kugunakan merancap sebagai perbandingan, tapi, kau tahu, beberapa orang tak bisa baik-baik saja tanpa melakukannya).

Puisi menjadi penting sejak aku membaca esai Irwan Bajang di Mojok.co, berjudul “Penyair vs Prosasi: Sebuah Komparasi Asmara dan Jodoh”. Tulisan itu dibuka dengan uji coba yang segera membangkitkan minatku:

1) Tiga penulis sedang nongkrong di sebuah kafe sambil membaca dan menjual bukunya. Satu membaca dan menjual cerpen, satu lagi membaca puisi dan menjual buku puisi, satunya lagi bengong menekuri kitab esai yang dia tulis lebih dari tujuh tahun.
2) Sepuluh wanita jomblo diberi uang untuk membeli buku tersebut. Buku apakah yang akan mereka pilih?
Berdasarkan pengalaman saya sebagai penjual buku, dibantu tim survey saingan Denny Ja, Sembilan wanita mebeli buku puisi, satu membeli cerpen, dan si penulis esai malah dipanggil tamu lain untuk memesan minum. Maaf, ini tidak meremehkan, ini fakta lapangan.

Selanjutnya, Irwan Bajang memaparkan puja-puji terhadap kehidupan asmara penyair Rawa-rawa, seperti Dea Anugrah, Rozi Kembara, dan Dwi S. Wibowo. Ia juga menyertakan pernikahan Indrian Koto, juragan jualbukusastra.com. Meski tak tertulis dalam esai, aku pernah mendengar kabar Khrisna Pabbichara melakukan ijab kabul dengan mahar berupa buku kumpulan puisi Di Matamu (Tak) Ada Luka. Selebihnya, tulisan tersebut mengejek nama-nama prosais dan esais yang seret asmara.

Meski meyakinkan, aku tidak langsung memberi perhatian serius pada puisi. Aku tak pernah menaruh minat besar pada apapun, kecuali pada film. Tapi bidang yang belakangan itu, terbukti tak lebih baik peluang asmaranya dari pada para esais. Dan bisa kau bayangkan, esais dan film adalah perpaduan yang kekeringannya hanya bisa ditandingi oleh celana dalam penderita impotensi.

Teman-temanku, demi membenarkan nasib mereka, bahkan sampai berteori, “Banyaknya jomblo adalah akibat dari orde baru menggalakkan program KB. Siapa tahu jodohmu belum lahir.” Tahi betul. Di lain waktu, teman yang lain mengataiku, “Kamu punya kemampuan regenerasi jomblo yang mumpuni. Setiap kali dekat perempuan, kejombloanmu pulih secepat luka logan.” Belgedes!

Bulu babi harus dihindari, terutama bila mereka menceramahimu tentang hubungan asmara. Sebagai upaya menjauh, aku mendekati puisi. Aku merelakan waktuku untuk Misa Arwah, kumpulan puisi yang sedang popular saat itu. Puisi pertamanya, “Mengingat Kuburan di Desa”, begitu singkat dan sederhana.

Selembar daun jati tua
 jatuh
 di atas sebuah makam purba.
O, pengetahuan, mengapa manusia 
 ingin bahagia?

Aku tidak mengerti maksud puisinya. Dan aku tak bisa menemukan penjelasan kenapa puisi ini bagus. Lalu kutemukan di internet, resensi seorang wanita yang menyatakan ada influence Subagio Sastrowardoyo pada puisi ini. Alih-alih mengerti, aku malah semakin bingung karena satu-satunya Sastrowardoyo yang kukenal bernama depan Dian.

Dua pertanyaan terlintas: 1) Apakah dia ayah Dian Sastro? 2) Apakah puisi itu hanya bagus bagi yang sudah membaca Subagio Sastrowardoyo? Jawaban untuk pertanyaan pertama adalah bukan, sedang yang belakangan tentu tak bisa dijawab iya, namun ia menimbulkan pertanyaan baru: apakah keterpengaruhan termasuk indikator kebagusan puisi?

Aku tidak punya kapasitas untuk menjawab itu, dan tak ingin repot mendengar penjelasan sok tahu dari orang yang belum tentu mengerti. Berlandaskan ‘amati, tiru, modifikasi’ sebagai satu-satunya metode yang terpikirkan, aku membuat puisi serupa. Begitu selesai, masalah lama kembali: aku tak mengerti dimana letak kebagusan, juga ketidakbagusan puisi. Aku pun tak benar-benar yakin bila puisi yang kujadikan referensi tidak buruk. Siapa tau wanita itu hanya memuji puisinya karena penulisnya tampan?

Untuk menguji puisiku, kuputuskan mengirimnya ke suatu redaksi. Nickano Iko, temanku, membagikan info tentang sayembara puisi dari sebuah penerbitan di Solo. Puisi-puisi terbaik akan dibukukan, dan dua di antaranya akan mendapat hadiah sebagai juara satu dan dua. Dari persyaratan mengirim maksimal tiga puisi, aku mengirim satu-satunya puisi yang kupunya. Aku hanya ingin tahu, apakah puisiku layak cetak.

Aku tak lagi ingat tentang sayembara itu ketika Iko mengabari ketiga puisinya lolos dan dicetak. Puisiku ternyata juga cetak. “Di buku ke enam,” katanya. Lho? Kupikir hanya akan jadi satu buku, tapi nyatanya puisi Iko ada di buku ke tujuh. Tujuh adalah jumlah yang kelewat banyak.

Tak terlalu sinis kurasa, bila menganggap sayembara tersebut adalah strategi bisnis penerbit untuk menjual buku pada penulis. Satu buku bisa sampai empat puluh penulis, se olah semua puisi dibukukan tanpa seleksi. Apalagi dengan sistem pre-order, penerbit bisa hanya mencetak sesuai jumlah pesanan. Tidak ada yang salah dengan itu. Hanya saja, sayembara ini tidak bisa menjadi parameter kebagusan puisiku, apalagi juara satu dan duanya orang lain –meski aku tahu diri untuk tak mengincar itu dari awal.

Iko, tidak sepertiku, memesan buku yang memuat puisinya. Dia tampak antusias, bahkan sampai mengataiku sombong karena tidak mau beli. Biar saja dia bahagia. Dan ia mungkin sama bahagiannya empat bulan kemudian, ketika menerbitkan kumpulan puisi pertamanya, Melepas Batas. Terlibat, meski sangat sedikit, dalam proses pembukuannya, aku memahami: apa gunanya menjadi penyair bila kau tak percaya pada kebagusan puisimu sendiri?

Ada dua penyair lain yang ku kenal. Herlambang Setia Aji, bulu babi yang mengataiku, selalu pamer puisi di blog yang pengunjungnya tak lebih ramai dari kutu di kepala upin. Hadi Hibatullah sedang membukukan puisi Aku Ingin Mencumbu Waktu dan aku ikut membantu. Ada kesamaan pada mereka, juga dengan Iko: kebanggaan puisi mereka, pertama datang dari penulisnya sendiri. Aku tak bisa begitu pada puisiku. Puisiku yang kutulis tak bisa membuatku merasa demikian.

Suatu malam, Iko memperlihatkankan cover bukunya yang segera naik cetak. Sketsa perempuan membawa balon, tampak dari belakang. Aku berkomentar, “Cover-nya bagus.” Sekalipun tak paham puisi, setidaknya aku punya selera yang baik tentang cover buku.

“Nggak juga,” katanya “Toketnya terlalu turun.”

Detik itu aku sadar kenapa Iko bisa menjadi penyair sementara aku tidak. Ia peka sementara aku tidak. Mungkin bukan puisi yang menjadikan asmaramu membaik, tapi kepekaan. Lagi pula Hadi dan Herlambang nyatanya tetap jomblo sejak masuk kuliah.

Kuputuskan menyerah pada puisi.

Sungguh, kalimatku di atas seperti kalimat seorang perokok yang ingin berhenti.