— ★
"Wew, gayamu jadi beda ya."
"Loh sekarang pake celana?"
"Kamu kok jadi berubah? :( "
"Tumben gak pake rok."
Contoh kalimat di atas cuma sebagian kecil dari social judging yang sering diucapkan di masyarakat. Aku yakin beberapa dari teman-teman pernah mendengar hal seperti ini dari teman lainnya dan saat mendengarnya, kalian akan merasa bunyi "krek" pada hati kalian (or is it only me?). And yes, ini adalah luapan pikiran dan perasaan seseorang yang sudah cukup lama ia pendam, dan akan diceritakan kepada kalian semua.
Setiap manusia pasti punya ciri khas dan keunikan sendiri. Saat ia sudah "memilih" akan seperti apa, maka hal selanjutnya yang akan ia hadapi adalah respon orang-orang sekitar. Apa mereka mengernyit saat melihatmu? Apa mereka berbisik dalam hati membicarakan penampilanmu? Ataukah mereka senang dengan perubahanmu?
Merupakan hal yang wajar bahwa manusia selalu menilai apa yang mereka lihat. Namun pilihan untuk mengutarakannya atau hanya menyimpannya saja dalam hati, menjadi suatu option yang harus dipikirkan baik-baik.
Saat SMA, aku pernah merasa tersakiti saat "dinilai" oleh orang lain karena kerudungku yang panjang tetapi aku juga merupakan anggota ekskul menari. Jujur saja aku suka menari dan menikmatinya. Tetapi karena "penilaian" tersebut, aku kehilangan perasaan senang itu dan somehow feel unsecure pas lagi ngelakuinnya. Aku jadi sering berpikir gimana orang-orang ngeliat aku? Apa mereka ngomongin aku di belakang? Apa sebaiknya aku berhenti?
Capek sih kalo kita mikirin apa pendapat orang lain. Pada akhirnya toh kita yang jalanin kehidupan kita. Orang-orang akan pergi dan berganti, namun kita masih terus dan akan selalu bersama diri kita di dunia ini. Kata pepatah sih, kita adalah nakhoda dari kapal kita sendiri.
Lalu saat aku semakin dewasa, aku lebih menyadari dan ga peduli lagi mau dibilang apa sama orang lain (selama kita masih dalam batas wajar dan tidak melenceng tentunya). Dari dulu aku pun udah sadar akan hal ini dan aku yakin semua orang juga udah tau, tapi untuk benar-benar ngelakuinnya butuh hal yang lebih besar daripada "kesadaran" itu.
Aku tahu betapa beratnya seseorang untuk memutuskan apa yang akan ia pilih dalam jalan kehidupannya. Aku tahu bahwa betapa sulit untuk istiqomah terhadap hal yang sudah kita pilih. Aku tahu bahwa tidak sedikit seseorang mendapat berbagai cobaan untuk "memulai" sesuatu yang belum pernah ia lakukan. Tapi saat omongan orang lain mulai mencampuri keputusan seseorang, maka hasilnya timbul perasaan-perasaan lain yang dapat mengganggu keputusan tersebut.
Untuk teman-teman yang pernah mengucapkan kalimat-kalimat pada paragraf awal tulisan ini kepada teman lainnya, mungkin kalian tanpa sadar sudah sedikit menggores hati teman kalian. Aku sendiri pun masih sering berkomentar yang tidak perlu mengenai keputusan seseorang, aku juga masih sering memberikan bunyi "krek" pada hati temanku. Namun, aku akan berusaha lebih berhati-hati lagi saat berhubungan dengan keputusan seseorang.
Mungkin aku masih remaja labil yang sebentar lagi akan menuju dunia orang dewasa, yang masih mencari siapa diriku dan apa mau ku. Aku masih butuh banyak belajar tentang apa itu sesuatu yang dibenarkan dan suatu yang hanya pembenaran. Aku masih belum yakin dan belum sehebat teman-temanku yang lain yang sudah "menetapkan" hatinya. Tapi satu hal yang ku yakin, aku melakukannya karena ini memang diriku.
Bandung, 25 Agustus 2018
Ditulis oleh seorang gadis dengan gaya "nanggung"
★
p.s. tulisan ini hanya sebuah opini