Dekade Kedua

Orang bilang, pada dekade kedua dari hidupmu, ada sebuah titik balik kehidupan yang siap atau tak siap akan bertumbukkan dengan personamu. Tentang rasa kesepianmu di dalam kosmos, dan nalar yang tak sejalan dengan hati ialah nyata adanya. Setiap langkah yang akan kamu jejaki, kebingungan adalah hal yang biasa. Biasa memangsa kemantapan hati.

Untukku, apa yang menapasi hidupku adalah… aku belum tahu. Rutinitas seperti membuatku sesak. Aku adalah napas yang tersengal-sengal. Rasanya aku bukanlah pusat dan subjek yang menonjol dalam kisahku sendiri.

Tapi entah bagaimana caranya, nalarku tak pernah kehabisan bahan bakar. Pertanyaan-pertanyaan liar terus timbul tanpa mendapat jawaban yang absolut. Aku sadar, aku hidup berbekalkan kemungkinan-kemungkinan tanpa batas. Semakin jauh aku berjalan, semakin aku kenal dunia, semakin tidak bernyali saja aku jadinya. Aku merasa tubuhku seperti menciut.

Terlebih di kota besar ini, kamu bisa menjadi apapun, sekalipun hanya jelmaan. Namun aku pun belum mengetahui, persona seperti apa yang akan kupertunjukkan kepada wajah-wajah lain di sana. Aku masih mencari, jadi, kusematkan saja dulu topeng ini di wajahku. Semoga saja wajah lain tidak menyadarinya, semoga saja wajah lain memberi waktu dan juga kesempatan.

Pada dekade kedua, aku jengah, aku sepi, aku hilang, dan aku munafik.