Yogyakarta

Mari jalan bersamaku kemanapun, kamu. Dalam pejamku saat ini, Yogyakarta. Di dalam kompleks Tamansari kita bisa menelisik masuk ke dalam cerita-cerita Kerajaan. Kemerling kekuasaan dan wanita-wanita cantik mengelilingi sang Raja. Tawa centil para selir Raja yang sedang berbasuh dengan kemben batik mereka beserta gemericik air di dalam pemandian.

Ayo lanjut menumpang becak sang Bapak ke kokohnya bagunan Keraton Kesultanan Ngayogyakarta. Lepas alas kakimu dan rasakan pasir-pasir di dalam halaman itu pada sela-sela jari kakimu. Sambut genggam tanganku, kamu. Mari kita jemput seorang Abdi Dalem untuk ceritakan sejarah dari setiap sudut bangunan khas Jawa yang indah itu.

Biarkan seluruh historia itu berjalan dengan segala skenario angan-angan yang kamu buat sendiri. Indah kan? Pakai lagi alas kakimu, ayo lanjut melangkah agak jauh ke arah alun alun. Tunggu sebentar hingga bulan menampakkan hadirnya. Nikmatilah segala lampu warna-warni dari odong-odong yang hilir mudik. Dengarlah gurauan para penumpangnya. Bagaimana kalau kita pesan nasi kucing?

Hari sudah cukup larut, kamu masih belum ingin kembali? Aku tau satu hotel yang punya tempat ngopi dan buka sampai lebih larut lagi! Kita bisa pesan minuman cokelat hangat dengan gula merah. Aku rasa kamu pasti suka. Tempatnya seperti taman kecil, dengan lampu-lampu yang cukup hangat. Mari kita satukan gambaran hidup pada saat Tamansari masih menjadi tempat mandi para selir Raja. Oh iya, bagaimana ya suasana ketika keluarga Kesultanan Ngayogyakarta makan malam?

Aku baru sadar. Tempat kita minum cokelat hangat itu tidak jauh-jauh dari homestay tempat kita menginap! Bagaimana kalau kita jalan kaki? Hmmm, lelah memang, tapi aku suka jalan kaki bersama kamu. Bagaimana kalau kamu juga gandeng tanganku, lagi? Besok kita bisa pergi ke pertunjukan sendratari Ramayana di Candi Prambanan. Kita istirahat ya!

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.