Keep Up

Tak terasa sudah empat tahun aku tinggal di kota ini, kota yang menjajikan begitu banyak harapan bagi para perantau dari daerah lain. Padahal rasa-rasanya baru kemarin saja ku injakkan kaki disini. Namun bilangan waktu tak pernah berhenti, silih berganti hari telah terlalui cepat sekali. Banyak sekali kiranya pelajaran hidup kudapati disini, sesuatu hal yang dulu hanya mimpi.

Ya, sudah empat tahun lamanya aku menjadi mahasiswa di perantauan ini, mencoba mencari jalan penghidupan ke depan yang lebih baik. Tentu kiranya tak bisa kupungkiri bahwa jalan selama ini banyak godaan. Dan sore ini ingin kiranya kurengkuh semua yang telah berlalu tersebut menjadi rangkaian kisah hidup yang menjadi pelajaran berarti. Ada beberapa pencapaian cukup berarti namun ada pula beberapa sesal yang menghampiri.

Selama empat tahun ini ada banyak sekali hal yang sudah kucobai, yang awalnya aku ingin mengenal lebih dalam akan diriku ini. Ya aku kala itu masih mencari jati diri dan dalam pencarian kesesuaian hati. Mulai dari coba-coba ikut organisasi di kampus serta komunitas, mengikuti berbagai event kebudayaan. Mencoba bekerja sambilan sebagai penulis lepas, designer grafis, penjual roti bakar hingga menjadi petugas kebersihan. Ya semua itu kucoba menikmati dan mengambil pelajaran pula dari sana. Tidak sia-sia, dari hal tersebut diatas aku mendapati penambahan kemampuan diri. Seperti design grafis, kepenulisan, jurnalistik, online marketing, service dan ilmu -ilmu lain yang tak terlukiskan dengan kata.

Meskipun demikian tak kupungkiri pula ada beberapa hal yang cukup kusesali. Meskipun dari hal itu aku belajar lebih dalam tentang kehidupan. Seperti perihal urusan hati yang menjadi benalu selama empat tahun ini. Empat tahun berjuang untuk seseorang namun ujungnya tetap saja ia pergi jua, sedang aku terluka oleh anganku yang kecewa. Anganku yang tak sampai menggapainya. Seolah waktu dan pengorbanan selama itu percuma dengan kesiaan. Ya begitulah, mungkin itu adalah salah satu cara Allah SWT mengajari diri ini perihal kehidupan. Mungkin ada hal yang ku sukai sebenarnya begitu buruk bagiku, bahkan ada hal yang tak begitu kusuka mungkin sangat baik bagiku.

Untuk sekarang ini, yang menjadi prioritasku adalah bagaimana membenahi diri, melangkah dari kekecewaan dan kesalahan dimasa lalu. Menyibukkan diri dengan skripsi, bekerja, mengasah skill serta menyelesaikan beberapa misiku yang terbengkalai di masa lalu. Aku memang pernah kecewa sebab kebodohanku namun belumlah terlambat kiranya untuk berbenah diri, melangkahkan kaki dari keterpurukan ini. Biarlah siapa-siapa yang telah dikirimkan kepadaku ini menjadi kisah di masa lalu, menjadi lembaran tersendiri yang tersimpan rapi pada memori masa lalu.

Dan mumpung masih di kota ini, biar ku gunakan waktu dan kesempatan yang tersisa ini untuk menjumpai guru-guru yang belum sempat ku temui, berkunjung ke tempat-tempat yang belum ku pahami, menghadiri berbagai event untuk memperluas pandangan diri dan tentu saja mencoba memperluas jaringan yang terlewati. Aku mungkin pernah jatuh sejatuh-jatuhnya, namun aku sadar tidak ada yang dapat menolong diriku kecuali diriku sendiri dengan bimbingan Allah SWT. Aku tak berharap kepada orang lain, cukuplah masa lalu jadi pelajaran yang berarti bagi diri ini. Semoga saja Allah SWT selalu membimbing jalan ini. Lekaslah-lekas mumpung masih di kota ini, mumpung masih diberi kesempatan untuk mengembangkan diri.