Melihat Kehilangan
Bagaimana jika matamu melarikan segala tawa, atau sesekali: mengantarkan duka?

Ini tidak lebih dari perjalanan cahaya yang pada akhirnya dapat dipersepsikan oleh otakku. Maksudku, apakah aku mengendalikan otakku ataukah otakku yang mengendalikan aku ataukah aku dan otakku berkolaborasi untuk mengendalikan hal-hal di sekitarku ataukah: aku dan otakku sebenarnya dikendalikan oleh sesuatu?
Pada tiap pantulan cahaya yang aku benci akhirnya: tolong jangan terlalu sering datang. Aku benci melihat kehilangan.
Dan berada di antara dinding-dinding yang lebih sering mendengar rapalan ayat-ayat penuh harap daripada dinding rumah ibadah: aku takut tak mampu.
Tentang anak yang memohon perpanjangan usia untuk orang tuanya. Tentang orang tua yang merayu Tuhan untuk jangan dulu mengambil anaknya. Tentang istri yang tak pernah lagi peduli pada kerut ataukah kantung matanya yang semakin bertambah, demi menghabiskan siang dan malam untuk menjaga suami tercintanya yang bergantung pada alat bantuan napas.
Sungguh aku benci melihat kehilangan. Mendengar pecahan-pecahan tangis. Isak yang berhamburan.
Seberapa pun seringnya aku melihat kehilangan, sungguh menghadapinya tak akan pernah mudah. Tapi katamu, tak harus kupandang dari sudut yang ditinggalkan. Kadang aku pun harus melihat dari sudut yang pergi.
Dan memaksa untuk paham, kelak akan ada giliranku pula untuk pergi menyusul.
2018: Ruang ICU — tempat Tuhan paling sering menciptakan sungai kecil di pelupuk mata.
