Obstetri, Ginekologi, dan yang Tersekat di Antara Keduanya

Aku ingin berada dalam mimpimu saat kau tidak tidur.

/1/
Bagaimana rasanya melahirkan? Sakit? Iya, sepertinya menyakitkan. Tanpa anestesi, seorang ibu harus merasakan nyeri yang dimediasi oleh saraf spinal dari segmen T10 sampai S4. Wajar saja jika dalam skala 1–10, rasa nyeri tertinggi itu dianalogikan sebagai rasa nyeri saat melahirkan. Bagaimana sakitnya? Membayangkannya saja aku tak mampu.

Konon, melahirkan adalah pengalaman emosional kompleks, dipengaruhi oleh proses fisiologis dan juga psikologis. Seberapapun sakitnya melahirkan, rasa nyeri yang hebat itu akan hilang berangsur waktu, tergantikan oleh rasa bahagia sang ibu kala melihat buah hatinya menyapa dunia untuk kali pertama.

Tapi bagaimana jadinya jika apa yang dilahirkannya ke dunia itu, tak pernah sekalipun membuka mata? Tak pernah bersuara seperti bayi-bayi lainnya?

Seumur hidupku, hal yang paling jarang kulihat adalah: seorang makhluk berjenis kelamin laki-laki yang sedang menangis. Dan di hari itu, peristiwa yang jarang itu kembali kulihat.

Awalnya ia adalah sesosok lelaki yang tabah. Dokter sudah menjelaskan padanya tentang kondisi janin di dalam rahim sang istri. Pergerakan janinnya tak ada, denyut jantungnya tidak ditemukan. Setelah paham dengan semua penjelasan, ia menandatangani surat persetujuan: induksi persalinan. Dan selama proses melahirkan bayi yang tak lagi bernyawa itu, kulihat ia selalu berada di samping sang istri. Merapalkan doa-doa, menyemangati, menguatkan. Hingga pada saat janin itu seharusnya dapat melihat dunia untuk pertama kalinya, atau dapat merasakan belaian ibunya, atau bisa mendengar suara ayah yang melantunkan azan di telinganya — yang nyatanya tak pernah bisa disadarinya. Tak akan pernah karena bahkan untuk bernapas sendiri saja ia masih belum diberikan kesempatan oleh Tuhannya.

Tiba-tiba saja, bayi yang terlahir dengan sekujur tubuh membiru itu memecahkan tangis sang ayah. Kali pertama kulihat ayahnya menangis. Jangan tanyakan ibunya, karena sang ibu sudah sering tersedu sedan bahkan sejak pertama kali menginjakkan kaki ke ruang bersalin.

Melahirkan itu menyakitkan. Dan bagaimana sakitnya jika harus melahirkan anak yang kau tahu tak lagi punya nyawa?

/2/
Hari yang ditunggu-tunggu itupun tiba. Kabarnya, hari ini akan ada satu anggota keluarga baru yang akan lahir ke dunia. Seseorang akan punya adik!

Ramai, mereka mengantar sang ibu ke rumah sakit. Betapa senangnya si bungsu karena ia akan segera punya dedek bayi. Sedari tadi ia tersenyum, mungkin membayangkan betapa menyenangkannya punya teman bermain yang baru.

Tiba-tiba sang ibu mengalami sesak hebat. Dan aku sungguh tak mampu menceritakan bagian ini. Kronologisnya masih terasa sakit untuk kuingat-ingat. Biarlah kuberitahu bagian akhirnya saja: sang ibu dan janin yang dikandungnya itu meninggal dunia, bersamaan.

Yang kuingat, adalah bisikan sang suami ke telinga sang istri saat mengantar kepergiannya, “Mak, mamak janji kan, waktu itu, kite besarkan anak kite same-same? Mamak jangan tinggalkan bapak.” Kemudian tersedu-sedu. Dan lagi, kulihat makhluk dari golongan yang paling jarang menangis itu, akhirnya menangis.

Mana yang lebih menyakitkan: melahirkan, atau menyaksikan seseorang yang sedang berjuang melahirkan justru pergi ke dunia lain bersama janin yang dikandungnya?

/3/
Selama kepaniteraan ini, aku sudah pernah melihat, sepasang suami istri yang menangisi anaknya. Melihat, suami dan anak yang menangisi istri/ibunya. Dan yang tak luput, aku pun melihat aku yang menangisi diriku sendiri.

Tangis, sejujurnya adalah sebentuk emosi yang paling kubenci. Sebab ia adalah emosi yang paling universal. Maksudku, saat berduka, wajar adanya jika kau menangis. Begitu pula saat kau bahagia, saking bahagianya hingga kau bisa pula jadi menangis. Tak ada spesifikasi yang dapat kau gunakan untuk menyimpulkan perasaan seseorang yang sedang menangis.

Dan aku. Hari itu entah kenapa jadi mudah menangis. Sampai aku berada pada suatu kesimpulan: aku menangis karena kelabilan emosi. Lagi, aku benci mengakui ini, tapi kadangkala benar adanya bahwa: emosi wanita yang sedang mengalami pms - pre menstrual syndrome itu sungguh amat, sangat labil. Sudah lama umat manusia tahu tentang hal ini, ditunjang dengan perubahan hormon, emosi pun tak luput untuk naik turun. Tapi aku adalah golongan yang tidak pernah mengamini teori tersebut. Pada dasarnya aku tidak menyukai bila ada wanita yang mengambinghitamkan "pms" sebagai legitimasi atas ketidakmampuan mereka dalam mengatur kestabilan emosi. Dan aku, akhirnya harus berhadapan dengan pendirianku sendiri. Terkena karma? Mungkin.

Aku tahu, di hari itu, dengan kondisi sedang pms ditambah post shift jaga 36 jam, emosiku sedang labil-labilnya. Like, at that time, you can clearly tell that I lied if I said I was fine. Saat itu rasa-rasanya aku sedang memasuki fase depresif. Saat semua kebahagiaan seperti dicuri begitu saja, dan diam-diam menyelinap bentuk-bentuk kesedihan ke dalam pikiran. Murung. Sedih. Bisu. Tak ada kata yang tepat untuk mendeskripsikannya.

Dan yang paling parah, di hari itu, yang seharusnya jika aku sedang baik-baik saja, aku bisa menjadi perantara untuk membantu seseorang yang siang itu hanya punya satu keinginan sederhana: menemani keluarganya. Tapi dikarenakan satu dan lain hal, yang kalau dipikir-pikir entah karena apa, kami juga sama-sama bingung, yang ada justru kekecewaan. Kalau dipikir-pikir lagi saat ini, kok lucu ya bisa gitu. Hehe.

Pada akhirnya aku menyadari. Aku kalah. Aku merasa bersalah terhadap ketidakberdayaanku untuk bisa membuat orang lain terbantu. Sebab di dunia ini, setiap orang punya begitu banyak masalah. Kenapa tidak berusaha menjadi seseorang yang dapat meringankan? :’)

Dan untuk itulah kata maaf tercipta.
2018: Berusaha sadar penuh tentang “to err is human”.