Berdua denganmu Pijar, dan Kalian yang Aku Rindu



Ada yang bilang ketika aku masih bayi, penerangan di rumahku hanya sebatas kerosene lamp. Iya ketika itu tahun 1996. Dan aku dilahirkan oleh seorang ibu di sebuah desa yang belum dijangkau listrik. Entahlah, aku bukan anak ber-IQ super yang bisa ingat setiap detail kehidupanku dulu, apalagi kehidupan saat tubuh mungilku masih di pelukan ibu, dan tinggiku belum mencapai satuan meter. Namun pastilah, lampu minyak itu selalu menghiasi malam-malamku. Memang tak terang benderang dan menjangkau setiap inci kamarku. Namun keberadaannya pastilah memancarkan kehangatan, karena cahayanya aku nikmati bersama ibu, ayah dan adikku. Dan itu menjadi momen yang takkan bisa kunikmati lagi. Tapi sudahlah.

Tahun-tahun berlalu, ada yang berubah itu pasti. Tibalah juga hari di mana orang-orang mulai membeli bola lampu. Kini ada yang berbeda di rumahku. Bulat dan di dalamnya ada filamen panas yang memancarkan cahaya seperti api dan dengan tenangnya terdiam manis di langit-langit kamarku. Kamarku kini lebih terang. Aku sedang nakal-nakalnya, adikku yang hanya terpaut satu tahun dariku harus menjadi korban kenakalanku. Dia lebih kecil dariku dan selalu kutindas, namun ada ibu yang selalu menjadi tameng untuknya. Takkan kuceritakan lebih detail tentang kenakalanku ini. Takut kamu nggak naksir aku lagi.

Listrik belum stabil dan masih suka mati, kami pun sering kembali ke lampu minyak. Dan Takkan kulupa juga saat aku bangun tidur dan kedua lubang hidungku sudah sewarna dengan pantat wajan penggorengan ibuku.

Ketika itu di kamar ada ayah, kamarku sudah tak lampu pijar lagi, namun sudah pipa kecil panjang berwarna putih. Kami menyebutnya lampu neon. Putih terang cahayanya dan menjangkau lebih besar bagian sudut kamar kami. Saat itu pula tanganku mulai gatal, tak mau ikhlas membiarkan dinding cokelat kamar bersih tanpa coretan. Tanganku sudah menggenggam benda sejenis kapur. Tak tahu dapat dari mana. Dan aku corat-coret dinding kamarku. Kugambar bunga. Gambar tersebut susah dihapus. Adikku juga ada. Dan ikut membuat kotor dinding juga. Ayah melihat kami namun dia tidak marah. Alih-alih marah dia malah ikut membantu kami, satu gambarnya yang paling kuingat. Dia menggambar ikan. Dua ikan.

Setiap bidang datar yang ada di kamar menjadi korban tanganku, apa saja yang bisa kujangkau. Kadang kugambari benda, kadang kutulisi huruf dan semuanya abstrak, aneh, dan absurd tentu saja. Dan entah dapat darimana aku juga sudah menggenggam ballpoint.

Dan kini semua berlalu. Sendirian di sebuah ruangan tanpa ayah, tanpa ibu, dan tanpa adikku. Tapi satu yang akan selalu menjadi teman abadi dan saksi kerinduanku. Ayah! Ibu! Adik! 'lampu pijar' di toko masih ada, dan semoga selalu ada. Fittingnya pun berbagai macam warna dan bentuk, dan bahkan tinggal colok. Aku masih suka tidur di bawah cahayanya. Bernostalgia dan suka teringat kalian. Ada kehangatan kalian di sana. Seolah kalian hadir, bercahaya, siap siaga menerangi kesendirianku langkah-langkahku.

Ayah semoga kau selalu sehat dan panjang umur, adik kau pun juga dan semoga tercapai semua mimpimu. Dan ibu, tersenyumlah. Aku selalu percaya kau di sampingku dan paling dekat denganku, setelah Tuhan.

Tegal, 30 April 2017. 00:11

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.