Kita dan Satu Kata ‘Dewasa’

Nah, sekarang jadi saya yang merasa bersalah. Please, kasih saya soal-soal tentang trigonometri saja, jangan pertanyaan ini. Meski harus nangis guling-guling, saya akan berusaha untuk menjawab. Atau suruh saya cari jawaban berapa km panjang diameter matahari, meski saya harus terbakar hangus saat mengukurnya. Paling tidak, tidak ada hati yang saya patahkan lagi.

Sudah cukup saya mendengar ibu Yani berbicara langsung denganmu, meski dengan bahasa yang dipoles dengan sangat halus. Saya yakin tetap ada luka di sana. Dan semua itu karena kami (saya dan mba Riski) yang telah mengadukanmu kepada ibu. Sekali lagi tentang pertanyaanmu di atas, sungguh bukan saya orang yang tepat untuk menjawab.

Karena sesungguhnya saya juga tidak lebih baik dari siapapun bahkan kamu. Saya parah. Cuma kebetulan saja mungkin, semesta mendaratkan telapak tangannya di pipi saya dulu sebelum ke kamu. Kadang mendarat dengan agak keras, kadang keras, kadang sangat keras. Dan pil-pil pahit itu lebih dulu saya telan sebelum kamu. Kadang agak pahit, kadang pahit, kadang sangat pahit. Jadi saya lebih agak mikir, dan hati-hati kalo mau bertindak seenak saya. Atau melakukan tindakan-tindakan bodoh, hingga menyisakan ribuan penyesalan yang menyesakkan di dalam diri.

Lantas, akankah hal ini menjadikan kepala saya lebih berharga 10 kali lipat dibanding kamu? Tidak, teman. Tidak! saya manusia, kamu manusia. Setiap jam, menit, detik, milidetik. Kita belajar. Belajar lewat kesalahan kita, kesalahan orang lain, buku-buku, dan banyak lagi sumbernya. Menjadikan saya lebih suci dan baik dibanding kamu? Tidak! Ada kalanya Tuhan saya tempatkan di posisi paling spesial dalam hati, ada kalanya Tuhan saya caci-maki. Ada kalanya petuah-petuah bijak saya rekatkan hingga sangat melekat di dalam hati, ada kalanya semua hangus dan kosong dibakar emosi. Ada kalanya saya menjadi sosok yang paling menyenangkan, ada kalanya saya menjadi sosok yang paling menyebalkan di dunia. Saya manusia, dan percuma kamu mencari kesempurnaan dalam diri saya. Tapi kembali ke tamparan-tamparan tadi, semakin sering telapak tangan mendarat di pipi, bukankah harusnya semakin kuat usaha kita untuk tetap terkendali.

Kamu lihat sendiri, kita pernah satu kamar, kamu lebih sering melihat saya terjaga dan tidur paling akhir. Otak saya berputar, kamu tahu apa yang saya pikirkan? Iya, paket lengkap tindakan-tindakan bodoh yang sering saya lakukan beserta segudang penyesalan yang ada di dalamnya. Sampai saya yang sudah seperlima abad numpang hidup di bumi pertiwi kok belum bisa membuat bangga apa-apa untuk orang yang mati-matian membanting tulangnya buat saya.

Kehidupan saya pun tak lebih baik dari kamu. Saya menangis, saya berontak akan dunia yang saya hadapi saat ini, ingin menyerah dan pulang. Tapi saya tahan dan mencoba untuk terlihat baik-baik saja. Karena saya tahu orang yang paling saya sayangi sudah ribuan kali merasakan ini. Tapi lihatlah ayah saya masih memajang senyumnya yang paling tulus, dan terus berkata tak akan berhenti berdoa untuk putrinya. Dan, masih rutin mengunjungi putrinya dua kali sebulan dengan wajah tanpa sedikit pun beban. Padahal saya tahu, dia sangat lelah, dunianya tidak seindah surga. Tapi lihatlah peluh yang keluar dari tubuhnya, karbondioksida yang terembuskan dari hidungnya, rasa ngilu dari tulang-tulangnya. Semuanya seharum surga dan penuh dengan keberkahan.

Saya pun tidak pernah tahu betul apa definisi dewasa, dan kadang malah saya suka karang sendiri. Saya sendiri juga masih sangat jauh dari kata dewasa. Dan yang saya sok ketahui adalah tamparan-tamparan inilah yang akan membimbing saya untuk tetap berpikir panjang, terus belajar, dan kalau beruntung bisa membawa saya mengambil tiket emas kehidupan untuk naik ke kereta yang akan mengantar saya menuju gerbang kedewasaan.

Saya suka sekali menemukan kata 'Introspeksi' di pesan singkat kamu dan memang itulah dari awal tujuan kami. Semoga dalam kesendirianmu, kamu merenung, saya pun merenung. Semoga segala pertanyaan bisa terjawab meski oleh hati. Semoga kita bisa melangkah untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.

A single golf clap? Or a long standing ovation?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.