Berdampak


Kadang tanpa kita sadari, perilaku kita sering diamati oleh orang lain. Entah itu baik atau buruk, secara otomatis orang lain akan memberi penilaian terhadap kita.

Saya menjumpai hal itu di kantor hari ini. Bahwa hidup saya bisa saja menjadi berkat atau kutuk untuk orang lain.

Bahwa saya tidak bisa menyenangkan semua orang, itu harus saya akui. Tapi setidaknya, ketika saya ingin orang lain memperlakukan saya dengan benar, begitu juga saya harus berikan perlakuan benar saya terlebih dahulu kepada mereka.

Keluarga saya bukan datang dari latar belakang terpelajar, ternama, dan lain-lain. Tapi yang namanya menghargai, menghormati orang lain, selalu ada di rumah kami.

Kalau kehadiran kita membawa kabar baik untuk orang lain, teruslah kau begitu. Tapi kalau kita hanya memberi dan menciptakan celaan, mari koreksi.

Menghindarkan orang lain dari mengumpat karena kita, itu lebih baik kan. Daripada membuat mereka marah.

Hidup yang berdampak positif, secara lisan dan tindakan menjadi buah yang selalu dinantikan sesama, tanpa harus kita umbar.

Karena orang tidak menaruh kaki dian di bawah gantang, tapi di atas sotoh rumah. Supaya terang itu mencapai semua ruang yang gelap.

Ah, semoga kita selalu begitu!


(Kost Muwardi 3C, setelah pulang kerja)

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.