Bertemu Kekasih yang Lain


Saya harus menuliskan hal ini. Agar kelak saya ingat bahwa saya bertemu kekasih yang lain.

Setelah 10 tahun, akhirnya saya kembali ke Ambon. Tidak dengan harapan yang muluk-muluk saya ingin REHAT, dan bersua dengan family dekat dan beberapa kerabat yang lain.

Seperti rindu kepada terkasih, demikian rindu yang sudah memunca ini terbalas sudah. Saya bertemu mereka yang terkasih, yang saya sebut rumah.

Satu dari bagian perjalanan REHAT saya selama di Ambon, patut saya sempatkan untuk bertemu kekasih yang lain. Mereka adalah orangtua Sharon. (:

Saya sudah mengingatkan diri saya bahwa ketika saya melangkah bertemu mereka, tidak ada tujuan pecik yang saya bawa di dalam otak saya.

Tapi saya begitu menghargai dan mengasihi mereka, sehingga saya harus dan sangat mau bertemu mereka. ☺

Sangat bisa hitung dijari, berapa banyak orang di kampung halaman saya yang saya kenal- maklum lama merantau- selain keluarga saya. Jadi sejak dari Jakarta, saya sudah sangat berniat untuk bertemu orangtua Sharon dan keluarganya yant cukup lumayan dekat dengan saya.


Hari yang dijanjikan bersama pun tiba. Senin, 4 September 2017.

Muder mengantar saya bertemu dengan orangtua Sharon dan tantenya ke tempat yang sudah kami sepakati. Saya tentu ingat betul, di Gedung Bank Mandiri depan Kantor Perwakilan BI Ambon, dekat Kantor Siode GPM.

Muder mengantar saya dengan penuh kasih, dan beliau juga yang menyuruh saya untuk bertemu dengan mama dan papa Sharon. Beliau melepaskan saya siang itu, ketika beliau sudah memastikan bahwa saya ada di tangan yang tepat-mama dan tante Sharon sudah lebih dulu sampai di tempat kami sepajat-kemudian muder pulang kembali ke Suli. Dangke, ma. Bahkan hal-hal sesederhana mungkin, muder setia mendampingi.

Beliau ingat, saya bertanya, apa saya boleh bertemu dengan orangtua Sharon. Beliau berkata, mengapa tidak! Pergilah.

Saya tidak tahu, tapi siang itu buat saya ini bukan tentang Sharon dan saya. Karena kami sudah selesai bukan? Saya meyakinkan diri saya siang ini, hampir saya ingin mengirimkan pesan singkat kepadanya, bahwa saya bertemu papa dan mama serta tantenya di Ambon. Mereka sangat ramah, dan seperti sudah mengenal saya lama.

Saya berusaha dan memutar otak bagaimana tidak canggung di depan orangtua Sharon. So, just be myself. Dengan tidak melebih-lebihkan sesuatu.

Menu lunch kami sangat spesial. Papa Sharon bilang, “ikan bakar ini khusus buat Agy. Tidak pedas, jadi harus dihabiskan. Ikan kuah belimbing ini tidak bahaya untuk sakit maag agy, jadi makan saja yang banyak.”

So, saya turut menghabiskan satu ekor ikan siang itu. Enakkk lho, jangan dilewatkan!

Siang itu, buat saya sangat spesial. Kata papa Sharon, di tempat makan ini , biasanya kalau ada pejabat yang datang pasti jalan di depan tutup.

Dalam hati, “hemm.. saya bukan pejabat, jadi tadi jalannya masih dibuka buat umum. Eh, tapi bukan itu. But, terima kasih papa dan mama Sharon mau membawa saya untuk makan siang di sini. I am so lucky, right!! Makanannya enak.”

Kira-kira Pukul 13.40 WIT, kami selesai makan.

Saya melirik sedikit ke arah papanya Sharon. Kata papa Sharon ke mamanya, “Bawa Agy ka Erie kah? Main ka rumah Erie. Nanti kamu ke Sinode, beta dan Agy duluan.”

Dengan cepat, saya berkata kepada mama Sharon yang terlebih dahulu sudah bilang ke saya bahwa beliau mau ke Kantor Sinode GPM untuk mengambil pensiun beliau.

“Seng apa-apa om, Agy ikut aja ke Sinode.” sambut saya. “Iya, biar Agy juga bisa lihat-lihat Sinode, Gereja Maranatha siapa tahu mau foto,” balas mama Sharon. “Ahh.. boleh juga tuh, ma.” tegas saya.

Jadilah kami berpisah dengan tantenya Sharon setelah makan siang itu. Beliau sempat mengajak kami untuk melihat adik sepupunya Sharon-Ai- yang bekerja di Bank BCA, letak BCA tidak jauh dari tempat kami makan siang. Tapi tidak jadi, mengingat hari sudah siang dan kami harus melanjutkan perjalanan ke Erie.


Ketika di Sinode, Pukul 14.00 WIT

Mama Sharon bertemu dengan beberapa teman pendetanya. Mereka memperkenalkan saya.

Salah satu ibu pendeta memperkenalkan dirinya, “kalau nona temannya Sharon, ibu adalah teman mamanya Sharon.”

Menurut mamanya Sharon, ibu Pendeta inilah yang berdoa dan bergumul untuk Sharon. Demikian adanya.

Satu hal yang saya noted, papa dan mama Sharon ini sangat dihormati dan dikenal banyak orang. Backgroud mereka sebagai pendeta, membuat mereka disapa dimana-dimana.

Ketika kami jalan, kami di oto penumpang, kami di terminal, banyak orang yang menyapa beliau berdua.

Jadi setiap jalan pasti ada berhentinya sebentar untuk menyapa, dan bertukar kabar. Seru yaaa ☺


Singkat cerita.

Dalam perjalanan menuju Erie, Papa Sharon memberitahu saya setiap sisi yang kami lewati. (Saya lupa nama-nama jalannya).

Sampailah kami di rumah Sharon di Erie. Papa dan mama Sharon bilang seraya kami turun dari oto penumpang siang itu,

“Agy patokan rumahnya ada pagar Tembok abu-abu depan tapalang ya, langsung masuk gang kiri dekat tembok. Gampang kan.”

Ketika saya tulis ini. Saya masih sangat ingat ekspresi mama Sharon saat itu.

Ternyata daerah sekitar rumah papa dan mama Sharon sangat sepi, tapi tenang. Dalam hati saya bilanh, “tempat ini memang cocok untuk beristirahat. Apalagi untuk mereka yang menikmati masa pensiun.”

Ketika kami berjalan menuju rumah, papa Sharon tidak berhenti cerita kepada saya. Mengenai mata air yang tidak berhenti mengalir di jalan setapak menuju rumah mereka. Bahkan tentang selokan yang ketika hujan airnya mengalir sangat deras, dan riuhnya akan kedengaran sampai ke rumah papa dan mama Sharon.

Cerita tentang, jalan setapak yang tidak bisa dilalui mobil. Dan kadang becandaan mereka adalah, nanti mobil mereka diparkir di rumah pagar abu-abu depan saja. Cerita mama Sharon sambil tertawa kecil.

Dari kejauhan, om sudah menunjuk kepada saya, “itu rumah, agy.” “oh, iya om,” balas saya sambil melihat ke arah yang sama.

Ketika tiba di rumah papa dan mama Sharon, yang ditunjukkan pertama, foto Sharon ketika wisuda. Karena ketika masuk rumah dari pintu samping, tepat di depan pintu terpampang foto Sharon dan No ketika wisuda.

“Itu Sharon, agy.” kata mama Sharon.

Lalu, saya duduk dan melihat sekeliling rumah dengan sangat detil. Adem rumahnya. Si papa Sharon membawakan saya air di gelas, dan menemani saya minum sambil cerita bersama.

“Air di sini sangat segar ya, Agy. Jadi tidak perlu air es. Segar kan? Mau tambah seng,” tanya om kepada saya.


Ada banyak hal yang kami ceritakan. Tapi lebih banyak itu berasal dari papa dan mama Sharon. Mulai dari bagaimana pelayanan beliau berdua yang membuat mereka harus pindah-pindah rumah bersama Sharon dan No.

Lalu, bagaimana rumah di Eri yang notabene sudah mulai dibangun pada 2010, namun kemudian berhenti membangun karena tugas pelayanan membuat mereka sibuk.

Kemudian jelang pensiun, papa dan mama Sharon bergegas untuk membangun rumah mereka.

Bahkan, menurut mama Sharon seharusnya mereka sudah mendapatkan tanah sebelum yang di Eri ini, namun sayang dibatalkan (saya lupa tepatnya dimana). Lalu keputusan pun jatuh pada tanah di Eri.

Banyak orang yang membantu mereka ketika menyelesaikan rumah mereka. Puji Tuhan ya Gye…

“Jadi Agy sudah sampai di rumah Eri. Sharon belum. Tidak tahu kapan kembali ke sini,” kata mama Sharon sambil tertawa kecil.


Percakapan saya dan papa Sharon berlanjut di teras. Setelah saya dan mama Sharon melihat ruangan mereka di bagian atas. Sharon seharusnya kembali untuk menikmati rumah ini bersama mereka, meski hanya sesaat.

Meski mereka tidak kesepian, tapi setiap tutur mereka mengharapkan Sharon, terlebih No untuk kembali bersama mereka.

Ok, papa Sharon menceritakan bahwa tentang beberapa tanaman yang beliau tanam. Bahkan, beliau menunjukkan kepada saya bahwa dulu tanah mereka serendah milik tetangga di samling. Tapi, kemudian ditimbun agar tinggi.

“Dulu ini rendah. Tapi om minta ditimbun, makanya tinggi skali ya. Nah agy coba lihat ke bawah, mata air tergenang itu. Biasanya ada udang, cuma akang basambunyi kapa ya.” kata om sambil melirik-lirik ke genangan mata air.

Kalau di Ambon, rumah dengan pagar itu macam seng mau orang voor datang di katong. Jadi, om cuma bikin pagar kacil saja. Karna orang di sabalah nih dong su bikin pagar, jadi om sambung sadiki saja pas depan orang pung belakang dapur. Jadi kalau ada acara di depan rumah, katong seng lia-lia orang pung dapur.

Saya dengar detil setiap cerita papa dan mama Sharon. Mama Sharon meminta adik Sharon-Ayom- untuk membeli pisang goreng dan membuat teh panas.

Jadilah kami bertiga makan sore dengan pisang goreng dan teh manis panas.

“Ayom biking kurang panas nih. Agy katong makan pisang bola-bola nih,” kata Mama Sharon.

“Agy tambah lai,” kata Papa Sharon.

Jadilah kami makan di teras sambil bercerita. Bersyukur untuk cuaca Senin yang sudag cerah. Seharian itu di Kota Ambon tidak hujan. (Sejak saya tiba di Ambol 31 Agustus sampai 3 September lalu, hujan terus berjatuhan.)

“Biasanya kalau sebelah sini cerah, besok seng hujan,” ujar mama Sharon sambil menunjuk awan bagian kiri.

“Ah, kamu macam tahu saja,” balas papa Sharon, disambut tertawa kami bertiga.


Banyak hal yang diceritakan, seperti tidak ad batas antara om, tante, dan saya. Kami tidak membicarakan saya dan Sharon. Karena mereka ‘ngeh’ sudah selesai. Hanya sedikit bertanya tentang pekerjaan Sharon. Dan saya menceritakan hal-hal sejauh yang saya ketahui sebelum berpisah dari Sharon. Sepertinya Sharon jarang bercerita banyak tentang pekerjaannya, atau, entahlah-saya menebak.

Saya sedikit larut dalam pembicaraan mengenai kerja Sharon. Tapi saya bilang dalam hati, “eh informasi saya tentang Sharon sudah minin. Jangan berbicara lebih banyak lagi.” Saya memutuskan untuk kembali diam.


Sekitar Pukul 16.50 WIT

Saya mencoba whatsapp adik sepupu saya. Ketika papa Sharon melihat saya memegang handphone, beliau bertanya sudah menghubungi adik belum.

Kemudian beliau mengingatkan saya untuk memberitahu mengenai patokan rumah Eri.

“Om dan tante pernah pergi terapi di Suli,” cerita mama Sharon.

Obrolan ini timbul, ketika adik sepupu saya tiba di rumah Eri. Dan kami ngobrol sebentar sebelum akhirnya kembali ke Suli.


Bertemu mereka, kemudian berpamitan pulang, tak lupa berfoto bersama.

Kalian tahu, “Hati saya campur aduk. Saya sayang, oh iya tentu saya sayang. But, i have no idea about it. Saya dan Sharon sudah selesai. Mama Kety dan Om Herry, beliau berdua serta Ayom sangat baik dan hangat menyambut saya. Tidak terpikir oleh saya bahwa saya akan ke rumah Papa dan Mama Sharon di Eri. Tapi saya ke sana. Entah apa yang ada di otak saya siang itu. Tapi alasan saya, “oh saya sedang tidak sibuk dan sangat free, om. Jadi kalau mau ke Eri boleh juga.” Itu kalimat yang berjatuhan kepada mereka siang itu.

Saya ingin menceritakan ini langsung ke Sharon, tapi kemudian tidak jadi. Saya mengurungkan niat saya dengan sigap. Menyimpan hp di tas, dan mulai menikmati cengkrama saya serta papa dan mama Sharon.

Menikmati dan berkata dalam hati, “Sayang dong lai.” ☺


Kami berpisah dengan ciuman dan pelukan hangat. “Maaf agy, tante tidak kasih apa-apa,” kata mama Sharon.

It’s ok, tan. Terima kasih sudah menyambut saya dengan hangat.

Dadaaa 😊

Show your support

Clapping shows how much you appreciated C02’s story.