Dokter bertanya?


Hari ini (dari dua hari lalu sih) karena gak paham dengan apa yang terjadi dengan kepala belakang, saya memutuskan untuk konsultasi dengan dokter. Ya, setidaknya dokter umum juga tidak mengapa.

Saya pun memilih untuk menggunakan pelayanan balai pengobatan milik perusahaan. Tanpa diduga, loket pendaftaran sudah tutup sekitar 09.30, 30 menit sebelum saya tiba di sana

Sedih!

Padahal saya sangat berharap bisa mendapatkab pelayanan kesehatan di sana. Mengingat dokter yang melayani adalah penugasan dari salah satu Rumah Sakit ‘besar’ di Jakarta. Saya urungkan niat saya untuk menunggu jam pelayanan kedua dibuka pada jam 2 siang.

Dengan langkah berat dan penuh pertanyaan di kepala saya, kemana saya harus pergi?

Ada yang berpendapat, tunggu saja, atau cari saha puskesmas terdekat. Alhasil, saya memilih untuk kembali ke kost-an saya di daerah Grogol. Dalam perjalanan, saya terus melakukan self talk, apa yang harus saya lakukan. Pulang atau bagaimana?

Gojek yang melaju membuyarkan lamunan saya, karena kang gojek memilih jalur perjalanan yang menurut saya bukan pilihan tepat. Ya sudahlah, terlanjut jalan.

Selang beberap menit lewat, saya memutuskan untuk melakukan pengobatan saja di Puskesmas Grogol.

Singkat cerita, mba kost-an memberi petunjuk kepada saya, dimana alamat Puskesmas Grogol berada. Strategis. Di belakang pasar grogol!

Sampai di Puskesmas. Tidak da ramai riuh pasien. Hanya ada satu ibu menggendong balita sedang menunggu resep. Kemudian, saya membayar pendaftaran Rp 2000, dan menunggu dengan antrian ke 24.

Tik tok, tik tok…

Si dokter ternyata lagi sibuk berdiskusi dengan dua orang petugas perihal surat undangan yang dikirim by email atasSnama dirinya. Kata dokter, itu menyalahi aturan. Sejujurnya, aktifitas dokter dan dua orang stafnya membuat saya dan satu pasien lagi merasa terlantar.

Hemm.. agak kecewa!

Tapi, ya sabar saja. Selang 20 menit berlalu.


Nama saya disebut. Margy! Saya sambut, Ya dokter! (Sambil masuk ke ruangan periksa)

Jadi apa keluhan kamu? Dokter bertanya.

(Dalam hati) duuh… dokter, beneran mau dengar keluhan saya? Bukan saja fisik saya, tapi patah hati saya, keluh saya, kesah saya tentang pekerjaan. Saya tidak sedang baik. Mau dengar? Saya pastikan, kamu tidak, dok.

Jadi dokter ada benjolan di belakang kepala saya yang tiba-tiba muncul sejak malam minggu. Tapi thank God, benjolan itu sudah turun alias kempes. Sayangnya, nyeri itu masih ada di sekitar benjolan itu ada. Jadi saya ingin konsultasi, agar tahu apa penyebab sebenarnya.

(Sambil pegang area benjolan dan melihat sesekali) Oh ini sudah turun, Margye. Kamu radang nih. Dan kemungkinan kelenjar minyak sedang banyak. Jangan lupa pakai shampoo ya. (Ya ampun, ternyata ini juga solusinya, menurut dokter)

Dan juga jangan stress. Ini bisa jadi kamu banyak pikiran juga. Jadi ya secara hormonal seperti itu. Ada radang, makanya kamu merasakan nyeri dan sakit. Apa sih yang dipikirin?

Saya keluar, mengambil obat. Dan kembali ke kost-an. Stress? Sudah ditahap itu ya?

Entahlah!

Bos menyarankan kepada saya mencari tahu, apa pemicu stress tersebut. Dan melalui pesan singkat dia mengatakan, jangan sepelehkan stress kamu.

Bagaimana kalau stress saya karena pekerjaan? Melakukan sesuatu yang tidak saya senangi? Atau terjebak dalam hubungan percintaan yang entah seperti apa saya memandangnya? Mungkin saya rindu orangtua saya?

Lalu seorang teman lama mengirimkan, sebuah pesan singkat. “Ko menyerah ka sayang? Mo pulang ke bapak sama mamamu?”

Ah, dokter! Semua karena pertanyaan dan pernyataanmu hari ini. Saya pun merasa tidak menikmati tidur siang saya.

Saya ingin pergi!
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.