Kata-Kata SuciMu


Seperti mencari jalan keluar di ujung buntu, tak satu jua asa itu saya temukan.

Lalu saya mengarahkan diri kepada Kata-Kata SuciMu yang ada bahkan sering ada di genggaman saya.

Kata-Kata SuciMu bukan mantra, tapi reaksinya lebih dari mantra. Kata-Kata SuciMu menyusup ke dalam sel-sel hidup saya, mengikuti perjalanan aliran darah saya menuju jantung hingga ke otak saya.

Kata-Kata SuciMu bahkan beriringan masuk ke hati, menghapus segala racun-racun yang tak diperlukan tubuh dan roh saya. Saya mengagumi Kata-Kata SuciMu.

Sampai satu ketika, saya duduk menangis, karena saya tidak mengindahkan Kata-Kata SuciMu yang hari itu jelas Engkau Sang Maha Pengampun katakan kepada saya.

Kemarin, oh bukan, dua hari lalu. Saya memutuskan untuk tidak meneruskan jalan buntu itu. Karena saya sadar itu bak menjaring angin. Yang ada hanyalah kesia-siaan.

Saya kembali kepada Sumber napas hidup saya, ya itulah kata-Kata SuciMu! Kata-kata SuciMu berisi kebenaran, itulah DiriMu Sang Maha Pengatur, lagi Sang Maha Guyon, lagi Sang Maha Penyayang, tapi juga Sang Maha Pencemburu.

Saya memutuskan untuk kembali memegang erat Kata-Kata SuciMu yang bukan gombalan, atau rayuan, bahkan bukan jua mantra.

Tapi Kata-Kata SuciMu yang selalu menghidupi hati, pikiran, dan akal saya. Memanusiakan saya, dan setidaknya membuat saya jatuh cinta kepadaMu berkali-kali. Bahkan Kata-Kata SuciMu memeluk saya erat, dan mengingatkan saya betapa besarNya cinta Sang Maha Pemberi Senyum itu atas hidup saya.

Kata-Kata SuciMu jua yang mengobati patah hati saya. Kata-Kata SuciMu membuat saya kembali menemukan asa hidup sebenarnya. Bahwa, “Langkah orang ditentukan oleh TUHAN, tetapi bagaimanakan manusia dapat mengerti jalan hidupnya?”

Bahkan saya selalu bilang, saya bodoh dan lemah di hadapan Engkau Sang Maha Mengetahui. Siapa saya yang bisa menambah setahun lagi umur hidup saya. Tapi Kata-Kata SuciMu membuat saya tetap hidup dan mau menjalani skenarioMu.

Skenario yang mungkin salah satunya adalah perpisahan dengan kekasih yang memberi luka — dalam, sakit, dan penuh kebencian — yang sudah Engkau sembuhkan.

Skenario bekerja, skenario sedikit menentang orang tua untuk belum kembali ke rumah. Skenario bahwa hidup ini bukan untuk diri sendiri!

Kata-Kata SuciMu, tempat saya kembali ketika menghadapi kekecewaan yang dunia berikan. Bak oase, saya tidak mau meninggalkan Kata-Kata SuciMu.

Image by yesheis.


Grogol, 20 Mei 2017

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.